(Review) MALAM-MALAM TERANG

malamBelajar dari Kegagalan untuk Meraih Kemenangan

Judul Buku : Malam Malam Terang
Penulis : Tasniem Fauzia Rais & Ridho Rahmadi
Editor : Donna Widjajanto
Penerbit :PT.Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I : Desember 2015
ISBN : 978-602-032-454-8
Halaman : 244 hal

Harga buku : Rp 65.000 (Toko Bukupedia )

Rate : 4 off 5 star

“Jadilah bintang yang paling terang kelak, jangan menyerah “ (hal: 09 )

Blurb

Berawal dari kegagalan memperoleh nilai ujian akhir yang cukup untuk melanjutkan sekolah di SMA impiannya di Yogya, Tasniem gadis yang saat itu baru 15 tahun, menantang dirinya untuk merantau ke luar negeri. Berbekal restu sang ibu yang rela menjual sepetak tanah, ia berangkat ke Singapura melanjutkan sekolah dengan tekad memenangi apa yang “direbut” darinya.

Hidup di Singapura dan belajar di sekolah Internasional mengantarkan tasniem melihat dunia global. Di sisi lain, remaja belasan tahun ini juga didera cobaan hidup merantau; rindu kelarga,kesepian,terasing dan uang pas-pasan seringkali merayunya untuk menyerah dan pulang

Beruntung, Tuhan kirimkan tiga teman serantau; Cecilia asal China, Aarin asli India dan Angelina dari Indonesia. Empat sekawan ini sekalipun berbeda dalam keyakinan dan banyak hal lain, berhasil melewati suka duka dan sukses membangun persahabatan. Petualangan mereka menjadi suguhan menarik sarat makna.

Mampukah Tasniem memenangi apa yang menjadi tekadnya? Mampukah ia menjadi bintang yang paling terang

Ini adalah novel pertama yang ditulis oleh sepasang suami istri Tasniem Fauzia Rais dan Ridho Rahmadi. Novel ini rencananya akan dibuat dalam trilogy, bercerita tentang kehidupan Tasniem saat remaja, dewasa hingga nanti mengarungi kehidupan rumah tangga. Membaca buku ini seolah saya sedang berbicara langsung dengan sang penulis. Buku ini memang bercerita tentang kisah nyata penulis itu sendiri, yaitu Tasniem. Awalnya saya tidak tahu kalau Tasniem adalah adik dari Hanum Salsabila Rais, putri dari Tokoh bangsa Bapak Amien Rais. Sebagai penikmat buku-buku Hanum, pastilah saya langsung “interest” untuk membaca karya dari putri Amien Rais ini.

Saat mulai membaca halaman awal, saya langsung dibuat terpana dengan gaya bahasa yang berbeda, penulis meramu cerita ini dalam bahasa-bahasa ilmiah menggunakan istilah dalam pelajaran ilmu pengetahuan alam

Huruf “S” menjadi Squamata melata yang berancang-ancang menerkamku agresif (hal:6)

Akar tunggang pohon belimbing tua di depan kelasku tiba-tiba menjadi raksasa, mirip kaki Cephalopoda (hal:11)

Meskipun novel ini seperti novel biografi yang menceritakan sosok Tasniem, tetapi membacanya tidak akan pernah bosan, dalam setiap lembarannya terkandung banyak makna. Kalimat-kalimat inspiratif banyak bertebaran dalam novel ini. Jadi menurut saya ini lebih tepat disebut sebagai novel inspiratif

“Jadikanlah kegagalan sahabat terbaikmu, karena hanya dialah yang setia dalam mengingatkan untuk selalu berusaha yang lebih baik. Tanpanya,kamu tidak akan pernah maju” (hal: 65)

“Hari esok adalah bentangan luas sabana bagi para manusia yang yakin dan penuh rencana. Hari esok adalah semenajung harapan bagi pemimpi. Hari esok hanya untuk para pejuang yang pantang berhenti ‘tuk serahkan diri “(hal :100)

“Manusia yang paling cerdas, ialah manusia yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik mempersiapkannya” (hal : 178)

“Sebuah pertandingan adalah replika kerja keras pantang menyerah demi tercapai puncak idaman. Ia adalah sebuah proses, memenangkan proses itu sendiri lebih dahsyat daripada memenangkan skor pertandingan” (hal : 98)

Novel ini recomended dibaca oleh semua kalangan, semua usia dari remaja sampai dengan orangtua. Dalam novel ini banyak yang dapat kita pelajari; bagaimana menghadapi kegagalan dan berusaha bangkit untuk meraihnya, tentang  sebuah arti persahabatan, tentang hubungan antara orangtua dan anak yang saling mendukung , tentang sebuah toleransi beragama serta masih banyak lainnya.

Dalam novel ini tidak semata-mata membicarakan impian-impian Tasniem meraih prestasi akademiknya, tetapi juga dibalut dengan kisah cinta seperti pada remaja pada umumnya. Perbedaanya Tasniem tidak terlalu mengedepankan perasaanya, ia percaya bahwa tidak ada yang serba kebetulan, karena semua sudah terencana dengan sengaja-olehNya.  Termasuk juga pertemuannya dengan kakak kelas SMPnya yang dulu diam-diam sempat ditaksirnya, Ridho Rahmadi,setelah sekian tahun tidak pernah saling mengenal,tiba-tiba saling bertegur sapa dalam ruang obrolan chatting.

Jatuh cinta bukanlah dosa,apalagi musuh. Jatuh cinta sepantasnya diperlakukan sebagai sahabat,saling mengingatkan dan jangan berlebihan, dan yang terpenting,ingat batas (hal: 229)

Rencananya novel ini akan di filmkan, sebagai novel pertama dari Tasniem dan Ridho tentunya ini prestasi yang mengagumkan. Mengikuti jejak kakaknya Hanum yang telah melahirkan beberapa film dari buku yang ditulisnya. Sebagai buku pertama, menurut saya ada beberapa catatan yang mungkin dapat lebih menyempurnakan novel ini, antara lain diperlukan catatan kaki untuk dialog-dialog yang menggunakan bahasa jawa. Karena tidak semua pembaca memahami bahasa jawa. Atau istilah-istilah asing seperti squamata atau chepalopada juga perlu di beri catatan kaki, agar kita lebih paham, terutama pembaca seperti saya yang asing dengan istilah-istilah ilmiah. Meskipun ini jadi memotivasi saya untuk “googling” karena penasaran :). Selain itu ukuran font tulisan yang sedikit lebih kecil dibanding buku lainnya serta jarak antar pragaraf yang terlalu rapat, ini sedikit mengurangi kenyamanan membaca. Untuk porsi cerita Ridho, sepertinya sengaja dibuat sedikit yaa.., mungkin dapat dikupas lebih banyak, agar makin melengkapi cerita ini. Atau mungkin nanti di sekuel berikutnya?

Saya penasaran untuk membaca buku kedua,ketiga dan seterusnya dari tulisan Tasniem Fauzia Rais dan Ridho Rahmadi ini. Jadi buat pembaca yang penasaran dengan buku ini langsung menuju toko buku terdekat, sebelum film ini tayang, akan lebih dapat “feel“nya kalau membaca buku ini terlebih dahulu 🙂

Dalam kesempatan ini saya juga mengucapkan terima kasih kepada penulis yang telah mengajak saya untuk ikut serta dalam #bacabareng #malammalamterang melalui Twitter.Dan juga kepada teman blogger saya Rizki Mirgawati yang telah merekomendasikan saya kepada penulis-penulis kerren ini. Saya siap untuk diajak kerjasama lagi……. 🙂

malam2 terang

Iklan

3 Komentar

Filed under Buntelan, Dalam Negeri, Penerbit Gramedia, Review Buku

3 responses to “(Review) MALAM-MALAM TERANG

  1. Mba Tasniem muda benar-benar keras orangnya ya, keras dalam hal positif yaitu berjuang totalitas untuk gapai impiannya. Konon, buku ini mau diangkat ke layar lebar ya

    Suka

  2. Ping-balik: (Wrap Up Post) IRRC 2016 Januari – November 2016 | jendeladuniaku2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s