Resensi : TITIP RINDU KE TANAH SUCI

Titip rindu 16 jan 19.jpg

INSPIRASI WANITA PENJUAL NASI

MERAIH IMPIAN KE TANAH SUCI

 

Judul Buku : Titip Rindu Ke Tanah Suci
Penulis : Aguk Irawan MN
Penerbit : Republika Penerbit
Cetakan I : Desember 2017
ISBN : 978-602-082-287-7
Tebal : vi + 366 hal

Peresensi : Siti Nuryanti
Menunaikan rukun islam yang ke lima adalah impian semua umat islam. Namun tidak semua orang dapat menunaikan ibadah haji. Diperlukan kesiapan mental dan materi, agama islam hanya mewajibkan kepada yang mampu secara materi maupun mental.
Melalui novel ini, penulis bermaksud menyampaikan pesan bahwa impian yang tampaknya mustahil, dapat terwujud, apabila di laksanakan dengan bersungguh-sungguh, bersabar dan tidak kenal putus asa, serta selalu berdoa.

Adalah Mak Siti, seorang janda beranak satu, penjual Nasi Megono (Nasi khas kota Kebumen) setiap hari menjajakan dagangnya di stasiun Cakung, Jakarta. Mak Siti mempunyai impian pergi haji. Impian yang menjadi cibiran dan gunjingan para tetangga, mereka menganggap Mak Siti bermimpi. Namun Mak Siti tidak memperdulikan gunjingan. Meskipun penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Mak Siti menyisihkan uangnya, lima ribu, dua ribu atau paling banyak sepuluh ribu setiap harinya dan disimpan dalam sebuah ember. Setelah sepuluh tahun uang tersebut berjumlah tujuh puluh delapan juta delapan ratus ribu rupiah.

Mak Siti juga melakukan persiapan dengan cara belajar mengaji Al-Quran. Mak Siti mendatangkan guru mengaji ke rumahnya untuk mengajarkan huruf hijaiyah. Pada malam hari sepulang berjualan Mak Siti menyempatkan belajar mengaji. Dengan penuh ketekunan dan kesabaran, akhirnya Mak Siti dapat membaca Al-Quran.
Setelah persiapan materi dan mental telah terpenuhi Mak Siti mendaftarkan diri pada travel Haji dan membayar semua biaya naik haji. Namun ujian datang menimpanya, Mak Siti menjadi salah satu korban travel haji yang membawa pergi semua uang jamaah yang telah disetorkan. Ujian Mak Siti datang bertubi-tubi. Pada saat yang sama rumah tangga anaknya, Intan mengalami kehancuran. Intan memutuskan mengakhiri pernikahannya dengan Zulkarnain yang telah berkhianat. Ujian yang bertubi-tubi membuat Mak Siti jatuh sakit, para tetangga tidak ada yang menengok, justru para pemuda yang menengok Mak Siti, Rizal dan kawan-kawannya  yang mengajarkan para orangtua untuk saling mengasihi sesama. Dengan semangat dari para pemuda tersebut, Mak Siti sembuh dan kembali semangat.

Rizal, pemuda yang awalnya sering mabuk-mabukan telah bertaubat dan menjadi guru mengaji anak-anak di Masjid, merasa terharu dengan perjuangan Mak Siti mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk berangkat haji. Dengan niat yang tulus Rizal memberangkatkan Mak Siti naik haji menggunakan uang tabungannya. Rizal berkata kepada Mak Siti…Titip rindu pada Allah di Tanah Suci,Mak. Rindu hati saya untuk bisa memenuhi panggilan-Nya (hal : 351)

Mak Siti telah berhasil meraih impiannya, menunaikan ibadah haji dan meninggal di tanah suci.  Novel yang sangat inspiratif, ada banyak hal yang dapat diambil hikmahnya dari cerita ini. Antara lain perjuangan Mak Siti meraih impiannya, bagaimana kehidupan bertetangga yang baik melalui kisah Rizal dan kawan-kawan yang selalu berbuat baik terhadap tetangga. Hubungan orangtua dengan anak, dalam kisahnya Ridho yang berusaha menasihati ibunya agar berhenti bergunjing. Penulis juga memfokuskan pada kehidupan remaja perkotaan yang memiliki kebiasaan negatif, namun pada akhirnya bertaubat dan mendekatkan diri pada sang pencipta, seperti dikisahkan Rizal dan kawan-kawannya. Kisah cinta Rizal yang memendam perasaan cinta kepada Intan dan tetap menjaga kesucian cinta sesuai norma agama, menjadi pembelajaran tersendiri bagi para pemuda masa kini. Novel ini recommended  dibaca siapa saja, tidak hanya umat islam, namun non muslim juga dapat membaca buku ini. Ada nilai-nilai kebaikan dan toleransi yang terkandung dalam novel ini.

*) Tulisan ini dimuat di Koran Pantura, 16 Januari 2019

Titip Rindu ke Tanah Suci

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Novel Religi, Penerbit Republika, Resensi Media Cetak, Review Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s