SIWA : Kesatria Wangsa Surya

Judul Buku :SIWA : Kesatria Wangsa Surya
Penulis : Amish
Penerjemah: Desak Nyoman Pusparini
Penerbit : Javanica
Cetakan I : Oktober 2016
ISBN :978-602-6799-15-9
Halaman :427 halMengungkap Sisi Lain  Kehidupan Sang Dewa Syiwa

Blurb

Kisah ini terjadi ribuan tahun silam di Lembah Sungai Indus. Orang-orang di kurun itu menyebutnya Meluha. Penduduknya berumur sangat panjang berkat ramuan misterius bernama Somras, yang dicipta dari pohon Sanjiwani dan tirta suci Saraswati. Negeri yang dihuni Wangsa Surya ini menghadapi ancaman hebat ketika sungai utama mereka mengering perlahan-lahan. Mereka pun dirundung serangan para pengacau dari timur: negeri Wangsa Chandra. Keadaan bertambah gawat ketika Wangsa Chandra tampaknya bersekutu dengan kaum Naga, bangsa yang sangat lihai berperang.

Ketika kejahatan merajalela, rakyat Meluha berharap pada sebuah ramalan kuno tentang seorang kesatria yang bakal tiba dan membebaskan mereka dari malapetaka. Dalam keputusasaan, muncul seorang pengungsi liar dari Gunung Kailasha, Tibet. Siwa namanya. Ciri-cirinya persis seperti ramalan. Apakah ia memang kesatria pembebas yang diramalkan? Dan apakah ia berhasrat menjadi juru selamat yang diharapkan? Terseret oleh arus takdirnya, oleh dharma, oleh cinta kepada kekasihnya, Siwa memimpin Wangsa Surya menerjang badai prahara.

Didasarkan pada wiracarita dan sejarah kuno, novel langka ini mengungkap kisah tersembunyi tentang kehidupan Siwa sang Mahadewa

SIWA: Kesatria Wangsa Surya adalah novel Trilogi Siwa 1 dari penulis Amish Tripathi asal Mumbai, India dengan judul aslinya The Immortals of Meluha. Sebenarnya saya menyukai novel sejarah, tetapi sejarah yang berasal dari India, belum banyak saya baca. Kisah Mahabarata dan Ramayana, lebih sering saya tonton dari filmnya. Karena memang perlu waktu khusus untuk membaca buku-buku setebal itu. Saat melihat judulnya, SIWA , saya tidak berfikir, kisah ini begitu manusiawi, dalam bayangan saya SIWA itu sosok Dewa yang Agung bagi masyarakat India sehingga tidak menyangka akan dibahas secara manusia biasa sebagaimana tokoh-tokoh fiksi novel pada umumnya.

Kisah ini berawal dari pertempuran Suku Guna yang dipimpin oleh Siwa dengan Suku Pakrati,  dan saat itu ada pendatang asing dari Meluha yang dipimpin oleh Nandi. Pertempuran yang dimenangkan oleh Suku Guna, berkat bantuan Nandi dan pasukannya. Kemudian Nandi mengajak suku Guna ke Meluha, tempat tinggal yang lebih nyaman dari kaki Gunung Kailasha, agar terhindar pertempuran yang tak berkesudahan dengan suku Pakrati akibat perebutan wilayah.

Sesampainya di Meluha, SIWA kagum dengan suasana wilayah tersebut yang bangunannya tertata rapi,indah dan nyaman begitu juga dengan masyarakatnya, mempunyai perilaku yang bijak, kecerdasan dan kebudayaan yang jauh lebih maju dari pada suku Guna. Masyarakat Meluha terbagi dalam 4 golongan yaitu Brahmana (orang-orang pintar) , Kesatria (golongan prajurit),  Waisha (golongan Pengrajin/pedagang) dan Sudra (petani/buruh). Mereka bekerja sesuai dari golongannya masing-masing. Di Meluha SIWA begitu di hormati karena mempunyai tanda khusus di lehernya yang berwarna Nila. Masyarakat Meluha percaya bahwa SIWA : Sang Nilakantha adalah dewa yang akan menyelamatkan hidup mereka. Termasuk serangan dari bangsa Wangsa Chandra. Sejak berabad-abad sebelumnya manusia terbagi dalam 2 dinasti yaitu Wangsa Chandra dan Wangsa Surya. Sifat dari arang-orang Wangsa Chandra berkebalikan dengan Wangsa Surya, Wangsa Chandra adalah noda kemanusiaan. Meluha merupakan bagian dari Wangsa Surya

Takdirmu jauh lebih besar dari pegunungan raksasa ini (hal:40)

SIWA kemudian dibawa menghadap Raja Meluha di Dewagiri, yaitu Raja Dhaksa. Dalam perjalanannya ia bertemu dengan wanita yang cantik sekaligus jago bertarung. SIWA langsung terpesona dan mengagumi wanita tersebut, yang bernama SATI. Ia bertekad akan mencarinya kembali setelah urusan dengan Raja Dewagiri selesai.

Bagaimana selanjutnya SIWA menghadapi takdirnya? Dan bagaimana kisah asmaranya dengan SATI ?

Membaca novel sejarah yang berlatarbelakang mitologi India ini  seperti sedang membaca novel modern dengan tokoh manusia biasa, bukan seorang Dewa. Kita diceritakan bagaimana seorang Dewa Siwa yang jatuh cinta dengan seorang wanita, bagaimana ia melakukan usaha untuk menarik perhatiannya dengan menari. Terbayang kan..dengan badan yang kekar dan kokoh itu ternyata sangat gemulai ketika menari..jadi terbayang Sakhruk khan..halah 🙂

Gaya penceritaan penulis juga tidak membosankan, banyak dialog-dialog segar menyiratkan pesan moral di dalamnya. Kita akan dibawa dalam masa ribuan tahun silam di lembah sungai Indus, dengan segala kebudayaan dan adat istiadatnya. Meskipun ada nuansa modern di dalam novel sejarah ini, seperti penggunaan sabun dan kamar mandi, yang seharusnya mungkin belum ada di masa 1900 SM.  Dari segi kebudayaan masyarakat Meluha juga sudah termasuk modern, sebagai penduduk yang mempunyai umur panjang, berkat air “Somras” mereka bisa sampai berusia ratusan tahun seharusnya penduduknya bertambah banyak, tetapi tidak demikian . Dikarenakan mereka berpendapat mempunyai anak adalah pilihan, bukan kewajiban dan mereka hanya akan mempunyai anak satu atau dua agar dapat mencurahkan perhatiannya lebih banyak buat anak-anaknya. Ini paham yang dianut orang modern sekarang kan…??

Saya recomended novel ini, buat siapa saja yang mau belajar tentang sejarah dan mitologi  India. ini sangat membantu, apalagi bagi pecinta sejarah, dijamin kalian tidak akan berhenti sampai selesai membaca novel ini. Jangan khawatir dengan istilah-istilah yang masih asing, ada catatan kaki yang menjelaskan hal tersebut.

Jadi tunggu apalagi…yuk buru novel ini

Happy Reading….

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Buntelan, Buntelan BBI, Novel Terjemahan, Review Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s