Category Archives: Review Buku

Teach Like Finland

gambar teach like finland

PENDIDIKAN ALA FINLANDIA

Judul Buku      : Teach Like Finland : Mengajar Seperti Finlandia
Penulis             : Timothy D. Walker
Editor              : Adinto F. Susanto
Penerbit           : Grasindo
Cetakan I        : Juli 2017
ISBN               : 978-602-452-044-1
Tebal              : 197 hal

Beberapa tahun terakhir, Finlandia menjadi salah satu negara yang menjadi sorotan dunia dalam bidang pendidikan. Hal ini dikarenakan pada tahun 2001, OEDC (Organization for Economic Cooperation and Development) mempublikasikan hasil studi internasional bahwa siswa-siswa Finlandia yang berusia 15 tahun berhasil mencatatkan skor tertinggi di penyelenggaraan pertama PISA ( Programme for International Student Assesment) mengalahkan negara lain seperti Jepang, Korea, Singapura, Hongkong dan negara maju lainnya. Ujian tersebut meliputi keterampilan berpikir kritis pada bidang matematika, sains dan membaca.

Masyarakat dunia, bertanya seperti apa sistem pendidikan Finlandia, dengan waktu belajar relatif lebih pendek, ujian tidak terstandardisasi,  Pekerjaan Rumah (PR) yang sedikit tetapi mampu menghasilkan siswa dengan prestasi yang sangat baik.

Buku Teach Like Finland ditulis seorang guru bernama Timothy D Walker yang pindah dari Amerika ke kota Helsinski, Finlandia. Timoty akan membagikan rahasia sukses pendidikan Finlandia.

Timothy membagi strategi mengajar menjadi lima (5) kelompok yaitu Kesejahteraan, Rasa dimiliki, Kemandirian, Penguasaan dan Pola Pikir.
Faktor Kesejahteraan menjadi hal pertama yang diperhatikan dalam pendidikan Finlandia. Prasyarat bagi siswa untuk dapat belajar yaitu apabila terpenuhinya kebutuhan pokok, seperti makanan, rumah, pakaian.  Pada bagian Kesejahteraan, penulis memberikan strategi mengajar dengan membuat Jadwal Istirahat Otak.  Menurut Daniel Levitin, profesor psikologi bahwa  memberikan otak waktu untuk istirahat, melalui jeda yang teratur akan mengarah pada produktivitas dan kreativitas yang lebih besar (hal:11).

Strategi mengajar yang selanjutnya adalah rasa dimiliki, dimana setiap guru harus mengenal setiap siswanya dengan baik agar dapat memberikan metode mengajar yang tepat untuk masing-masing siswa. Guru juga harus mampu membuat kelas tersebut nyaman, tidak ada tindakan kekerasan /bullying  antar siswa .

Guru di Finland menerapkan sistem kemandirian siswa dalam proses belajar mengajar . Siswa diberikan kebebasan untuk memilih atau menentukan tema pembelajaran yang dipelajari, hal ini sekaligus mengajarkan tanggung jawab kepada siswa. Masih banyak strategi mengajar lainnya yang dipaparkan di buku ini.

Fokus dari pendidikan Finland adalah kebahagiaan yaitu kebutuhan yang diperlukan oleh semua orang termasuk anak-anak.

“Studi menunjukan bahwa kesejahteraan siswa dan nilai tes standar secara signifikan didorong oleh kurikulum kebahagiaan “(hal : 189)

Buku Teach Like Finland ini, dapat menjadi referensi untuk menentukan sistem pendidikan yang tepat bagi suatu negera. Setiap negara mempunyai budaya dan kebutuhan masing-masing, tetapi perlu dipahami bahwa pendidikan adalah hal yang perlu dipikirkan oleh semua kalangan.  Buku ini sangat recommended untuk dibaca, terutama bagi para praktisi pendidikan.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Non Fiksi, Penerbit Grasindo, Review Buku

IKAN-IKAN MATI

IKAN-IKAN MATI

PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP PERILAKU MANUSIA

Judul Buku      : Ikan-Ikan Mati
Penulis             : Roy Saputra
Penerbit          : Media Kita
Cetakan I         : 2017
ISBN                 : 978-979-794-543-5
Tebal                : vi + 318 hal

“ The good thing is, I don’t have to prove anything to anyone in social media.

Kinda think life is easier that way” (hal : 131)

 Di zaman sekarang, hampir semua orang mempunyai media sosial seperti facebook, twitter, instagram, path, whatsaap, line dan sebagainya. Internet telah menjadi kebutuhan pokok yang tidak kalah penting dengan makanan atau pakaian. Benda ajaib yang dikenal dengan smartphone tidak terlepas dari genggaman. Kita dapat melihat dalam berbagai kesempatan, di stasiun, terminal, kendaraan dan di tempat lainnya orang selalu menunduk sambil bermain dengan smartphone masing-masing. Dengan adanya media sosial, arus informasi dan komunikasi berjalan sangat cepat tetapi di sisi lain perilaku masyarakat juga mengalami perubahan. Kita sering melihat media sosial menjadi medan tempur antar golongan, mulai dari mencaci, menghina,menyindir dan bahasa negatif lainnya. Masyarakat mudah sekali tersulut emosinya dengan berita dari media sosial yang belum tentu kebenarannya. Dalam berbagai diskusi di televisi, menyebutkan bahwa kebhinekaan Indonesia sedang terancam.

Fenomena dan keresahan sosial tersebut diangkat dalam Novel Ikan-Ikan Mati. Dalam buku ini menceritakan kota Jakarta di masa datang, belasan tahun dari sekarang. Tokoh utama dalam buku ini adalah Gilang Kusuma yang menjabat sebagai corporate relationship manager di bank milik pemerintah. Sebuah bank yang memfokuskan bisnisnya pada penyaluran kredit level korporasi. Seperti golongan menengah pada umumnya Gilang selalu berpenampilan rapi,  mengikuti perkembangan trend dan teknologi. Ketika ada peluncuran smartphone baru, Gilang juga mengganti gadgetnya dengan yang model baru atau ketika ada heboh discount kafe baru Gilang akan berbondong-bondong mendatangi bersama teman-temannya. Gilang dan teman kantornya  bernama Jaelani, Latheef dan Bobby tidak pernah terlepas dari gadgetnya yang tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi saja. Smartphone mereka dilengkapi dengan fitur IKA (Indonesia Kindness App). Aplikasi penjaga harmoni, penyaring suara negatif di ranah digital, penghapus kisruh di dunia maya  (hal 140 ). Aplikasi ini mendeteksi segala sesuatu yang akan diupload di sosial media, apabila content tidak mengandung SARA atau hal negatif, maka dapat terpublikasi. Dan orang yang telah upload hal-hal positif akan mendapat poin. Demikian juga sebaliknya, apabila komunikasi dengan bahasa negatif, aplikasi IKA akan mendeteksi dan secara otomatis poin berkurang. Gilang dan teman-temannya selalu mengumpulkan poin dengan rajin upload foto-foto atau postingan yang positif ke facebook. Poin-poin tersebut dapat ditukarkan ke merchant-merchant tertentu, seperti kafe, bioskup, kelab malam, e-commerce dan transportasi publik. Perilaku Gilang dan teman-temannya dilakukan oleh hampir semua orang di Jakarta.

“Memang setiap harinya, manusia selalu dihadapkan dengan belasan pilihan yang bisa berbuah pengalaman dan pembelajaran. Namun di zaman semaju ini, biarlah beberapa proses pengambilan keputusan itu diambil alih oleh aplikasi” (hal: 224)

Baca lebih lanjut

3 Komentar

Filed under Penerbit Media Kita, Resensi Dimuat Media Cetak, Review Buku

Resensi Buku Cara Berpikir Suprarasional

 

Print

UPAYA MENDAPATKAN REZEKI DARI JALAN YANG TAK TERDUGA

Judul Buku : Cara Berpikir  Suprarasional
Penulis : Raden Ridwan Hasan Saputra
Editor : Muh. Iqbal Santosa
Penerbit : Republika Penerbit
Cetakan I : April 2017
ISBN : 978-602-0822-68-6
Tebal : X + 178 hal

Peresensi : Siti Nuryanti

Setiap orang menginginkan rezeki yang berlimpah. Berbagai cara ditempuh untuk mendapatkan kekayaan, dari cara-cara rasional seperti bekerja atau investasi hingga cara irasional seperti meminta bantuan makhluk gaib.  Kita dapat memperoleh rezeki  yang berlimpah apabila kita mampu mengubah cara berpikir kita

Cara berpikir manusia dibagi menjadi empat yaitu (1)natural yaitu berpikir secara alamiah, sifatnya rutin tanpa adanya inovasi atau antisipasi masalah, (2) rasional ; menggunakan inovasi dengan melibatkan nalar, (3) supranatural ; cara berpikir dengan meminta bantuan makhluk gaib untuk menyelesaikan masalah, seperti sesajen, susuk, akhirnya dapat mengarah perbuatan syirik  (4) suprarasional

Cara berpikir Suprarasional adalah cara berpikir orang rasional yang dipakai ketika menghadapi masalah yang sangat sulit bahkan tidak dapat diselesaikan dengan cara berpikir rasional.  Suprarasional menjadikan faktor gaib dalam hal ini adalah Allah Swt, sebagai faktor yang sangat dipertimbangkan dalam mengambil keputusan atau tindakan.

“Kuasailah cara berpikir suprarasional jika kita ingin menjadi orang-orang yang mempunyai karya besar” (hal:1)

Sebagai contoh seorang petani yang mempunyai pola pikir natural, hanya berpikir  menanam, merawat dan kemudian memanen, hasilnya langsung dijual ke tengkulak. Jika berpikir rasional, petani tersebut membuat inovasi, misalnya dengan membuat nilai tambah dari produk yang dihasilkan , sehingga nilai jualnya lebih tinggi.  Petani yang berpikir suprarasional , setelah melakukan usaha rasional secara maksimal, akan diimbangi dengan pendekatan kepada Allah Swt antara lain; sholat sunat (duha, tahajud,rawatib), puasa sunah, zakat , sedekah, infak dan ibadah ritual lainnya. Dengan mendekatkan diri kepada Allah Swt, rezeki akan datang dari arah yang tidak terduga, seperti dalam firman Allah QS : Ath-Thalaq ayat 2-3

Siapa saja yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya…” (hal : 48)

Buku ini mengajak pembaca untuk menghadapi kehidupan dengan cara berpikir suprarasional . Jika masyarakat yang berpikir suprarasional semakin banyak di negeri ini, Insya Alloh Indonesia akan menjadi negara yang baldatun thoyibatun warrobun ghofur atau negara yang subur, makmur, adil dan aman.

 

*) Resensi ini dimuat pada harian Kedaulatan Rakyat edisi Senin, 20 November 2017

Tinggalkan komentar

Filed under Dalam Negeri, Non Fiksi, Penerbit Republika, Resensi Dimuat Media Cetak, Review Buku, Tak Berkategori

(Blogtour-Giveaway) MENGGAPAI MENTARI

Judul Buku : Menggapai Mentari

Penulis  : Murid Mentari Intercultural School, Jakarta

Ilustrasi Cover : Angela Steffany Budi

Ilustrasi dalam : Murid FunArt Semarang

Editor : Karyna Pramesthi

Penerbit : Funtastic-M&C Gramedia

Cetak Pertama : Oktober 2017

ISBN : 9786024286552

Tebal Buku : 167 hal

Blurb

Langit Indonesia sedang kelam. Orang-orang bermuram durja. Pasti karena isi surat kabar dan televisi yang membuat hati gundah. Banyak yang tidak lagi percaya, mentari bisa terbit lagi di langit yang gelap.

Tapi, anak-anak bangsa berlarian, bahu-membahu, menggapai sang mentari. Mentari ini yang akan mereka taruh di langit, supaya cahayanya bisa kembali menerangi seluruh Indonesia. Sehingga, terlihat lagi, Indonesia yang penuh warna, harapan dan cerita.

Inilah persembahan kisah untuk Bangsa Indonesia

Buku Menggapai Mentari yang ditulis oleh 18 (delapan belas) murid Sekolah Dasar Mentari Intercultural School menepiskan anggapan bahwa anak-anak Indonesia hanya bisa bermain gadget atau main game. Anak-anak ini membuktikan bahwa mereka juga peduli dengan berbagai isu sosial yang ada di negeri ini. Buku ini berisi delapan belas cerita yang mengangkat tema keberagaman, toleransi, nasionalisme, persahabatan dan makna pancasila di mata anak-anak.  Sebuah tema yang sebenarnya tidak ringan untuk anak-anak, tetapi mereka mampu menuliskan dengan bahasa sederhana dan ringan sehingga mudah dicerna oleh anak-anak usia SD. Diperkaya dengan ilustrasi yang indah, membuat buku ini makin menarik.

Saat membaca buku ini, saya kagum dan bangga tidak menyangka ide cerita ini ditulis oleh anak-anak. Mereka paham bagaimana makna pancasila melalui cerita yang ditulis oleh SYAHIRA NUR RANIA dengan judul Kita Pancasila dan Menjelajah Pancasila di Sekolah oleh SHERAZADE NURUL AMIRA PRASETYO.  Kedua penulis ini berusaha menyampaikan bahwa memaknai Pancasila itu bukan hal yang sulit, Pancasila bukan hal yang ada di awang-awang. Sherazade memberi contoh dengan melihat lingkungan sekolahnya, dari sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa sampai dengan sila ke-5 dapat dilihat dalam lingkungan sekolah. Pancasila ada dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kisah Tak Kenal Maka Tak Sayang oleh DESNA DIANDRA ASMORO dan Sahabatku, Siti oleh CHARLIZE ALESSANDRA HALIM menceritakan perihal toleransi antar umat beragama. Kisah persahabatan yang tidak mengenal perbedaan agama, seperti Siti yang beragama islam dan Mei Lin beragama Katholik.

Asas demokrasi juga dikisahkan melalui cerita Sama Saja,Kan ! karya ANYA IVANKA PUTRI SIREGAR yang menceritakan perihal pemilihan ketua kelompok belajar, bahwa siapa saja, laki-laki atau perempuan dapat menjadi pemimpin, asalkan mampu dan telah dipilih secara musyawarah.

Ada juga kisah tentang seorang anak perempuan yang berusaha meraih impiannya menjadi pemain sepakbola untuk membanggakan sekolah dan bangsanya , ini dikisahkan dalam cerita Keputusan Sendiri oleh AUBRIEL NABABAN Baca lebih lanjut

7 Komentar

Filed under Blogtour-Giveaway, Dalam Negeri, Penerbit Gramedia, Review Buku

Review : Waspada Jejak Haram Yang Mengintai

jejak haram.jpg

Judul Buku     : Waspada Jejak Haram Yang Mengintai
Penulis            : Riawani Elyta & Risa Mutia
Penerbit         : Qibla – Penerbit Bhuana Ilmu Populer
Cetakan I        : 2017
ISBN                : 978-602-394-748-5
Tebal              : 127 hal

“ Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya”

(QS.Al-Maidah : 88 )

Tahun ini target membaca saya 60 buku dalam setahun telah terpenuhi, tetapi setelah saya lihat sebagian besar adalah buku fiksi. Buku non fiksi  terkadang terasa “berat” dan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan fiksi, kalau membaca buku fiksi tidak terasa telah sampai di akhir cerita. Dan bulan ini buku yang saya baca adalah buku ” Waspada Jejak Haram Yang Mengintai”  karya duet kakak-beradik Riawani Elyta dan Risa Mutia. Saya pernah membaca buku fiksi karya Riawani yang berjudul A Miracle of Touch.

Buku ini tidak terlalu tebal hanya 127 halaman, tetapi menurut saya justru lebih mudah dicerna pembaca. Buku Waspada Jejak Haram yang Mengintai bagi seorang ibu seperti saya sangat bermanfaat. Dalam kehidupan sehari-hari peran seorang ibu antara lain menyiapkan makanan bagi keluarga. Pengetahuan tentang makanan haram,halal dan thayyib (baik) sangat diperlukan oleh seorang ibu.

Edukasi perihal makanan halal,haram dan thayyib sangat diperlukan  agar tidak terjebak kedalam hal-hal yang diharamkan. Tugas edukasi bukan hanya tugas seorang ibu, atau pendidik saja, tetapi tugas semua orang, bahkan seorang anak sejak dini diperkenalkan hal yang haram dan halal.  Hal yang dapat dikenalkan kepada anak tentang halal dan haram antara lain dapat di sarankan  saat membeli jajanan melihat logo halal yang tercantum dalam kemasan pembungkusnya, apabila tidak ada logo halal, tidak diperbolehkan memakan makanan tersebut. Hal ini sering saya praktikan kepada anak saya, ketika diajak ke supermarket mereka memilih makanan atau jajanan sendiri, tetapi saya berpesan agar melihat logo halal terlebih dahulu sebelum membeli makanan tersebut.  Dan hal ini efektif untuk mengedukasi arti pentingnya kehalalan makanan terhadap anak-anak. Saat saya belanja makanan, anak-anak juga selalu mengecek apakah ada logo halal di kemasan makanan yang saya beli. Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Buntelan, Non Fiksi, Penerbit BIP, Review Buku

Passion Stories

Jpeg

MENGGALI INSPIRASI KREATIF DARI ORANG SUKSES

Judul Buku : Passion Stories
Penulis : Qalbinur Nawawi
Editor: Fachmy Casofa
Penerbit : Metagraf, Creative Imprint of Tiga Serangkai
Cetakan I :  Mei 2017
ISBN :978-602-6328-28-1
Halaman :158 hal

 

Mengenal konsep diri adalah fondasi sukses dalam berkarier.  Mengetahui apa yang menjadi passion kita adalah bagian penting dari mengenal konsep diri. Hal yang menjadi kendala saat seseorang telah menemukan passion nya adalah ketika mendapatkan cobaan, ia menyerah dan memutuskan berhenti dari bidang yang disuka, beralih ke bidang yang dia tidak suka atas nama tuntutan hidup. Buku ini hadir untuk memberi pencerahan bagi seseorang yang tengah mengalami permasalahan dalam meraih cita-citanya dan meningkatkan semangat yang mungkin sedang turun.

Buku Passion Stories berisi cerita sepuluh orang yang sukses pada bidang masing-masing. Kesuksesan yang telah diraih adalah berawal dari passion dan ketika mendapatkan cobaan mereka tidak menyerah, selalu mencoba bangkit saat terjatuh.  Bagian cover buku tertulis sepuluh nama tokoh pada masing-masing gambar animasi lego. Pada bidang enterprenuer  diwakili tokoh Hendy Setiono dan Sandiaga Uno. Bidang musik, ada Dewa Budjana dan Rini Wulandari. Bidang atletik mengisahkan tokoh olahraga Taufik Hidayat dan Umar Syarif. Bidang entertainment, diwakili tokoh Dion Wiyoko dan Wulandary Herman. Penulis buku diwakili oleh tokoh Dewi Lestari. Arbain Rambey mewakili bidang fotografi.

Hendy Setiono adalah pemilik Kebab Turki Baba Rafi yang mempunyai 12.000 outlet tersebar di seluruh Indonesia dan 8 negara. Kesuksesan Hendy Setiono tidak secara instan diperoleh.  Ia mengalami jatuh bangun dan hampir bangkrut, tetapi karena yakin bahwa ini adalah passion-nya, maka kegagalan menjadikannya pelajaran hingga menemukan formula bisnis yang melesatkan usahanya.  “Follow your heart, believe in your dreams, and live your values “ (hal:8)

Sandiago Uno merupakan salah satu dari 30 orang terkaya di Indonesia. Ia mempunyai prinsip hidup  “ Bila kamu berbuat baik, sesungguhnya kebaikan itu akan berbalik lagi pada dirimu sendiri “ (hal :22). Prinsip tersebut diwujudkan melalui program Berlari untuk Berbagi (BuB). Berawal hobinya lari marathon, Sandiago Uno melakukan penggalangan dana untuk membantu orang lain yang membutuhkan  seperti sekolah di daerah, yayasan penyandang dissabilitas, panti sosial dan sebagainya.  Dalam mengelola bisnisnya Sandiago Uno mempunyai empat prinsip Kerja 4 AS yaitu Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Tuntas dan Kerja Ikhlas. Jadikan pekerjaan sebagai ibadah kita  kepada Allah SWT, Insya Allah jika prinsip Kerja 4 AS menjadi pedoman kita dalam bekerja, kesuksesan pun akan senantiasa bersama kita (hal: 28)

Dalam bidang musik, Dewa Budjana dan Rini Wulandari juga mengawali karier musiknya karena passion. Sejak usia SMP, Dewa salah satu gitaris group band Gigi telah menekuni dunia musik.  Meskipun tidak mempunyai pendidikan formal pada bidang musik, dan keterbatasan peralatan musik, tetapi dengan motivasi yang tinggi dan semangat untuk terus belajar, Dewa akhirnya dapat mewujudkan impiannya menjadi musisi yang berprestasi Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Non Fiksi, Resensi Dimuat Media Cetak, Review Buku

Kadang Tuhan Senang Bermain-main

Judul Buku        : Jam Berapa Sekarang…?
Penulis               : Hardianti Lina dan Arief Agustianto
Penerbit             : PT Elex Media Komputindo
Cetakan ke-1     : 19 Maret 2014
ISBN                    : 997-860-2023-458-8
Halaman            : 256 hal

IMG_20170726_205316_906

Blurb

Ibu selalu berkata, bahwa Tuhan menakdirkan orangtua tidak pernah salah. Memangnya Tuhan itu ada di mana? Atau jam berapa Dia bisa muncul? Hingga aku bisa bertanya, apakah kata-kata Ibu itu benar atau tidak? —–Mariam

Aku tak ingat, jam berapa Ayah membuangku. Aku juga tak ingat, jam berapa aku jatuh cinta pada perempuan itu. Dan aku lebih tak ingat, kapan Tuhan mulai bermain-main dengan hidupku. Jadi jangan tanyakan padaku, jam berapa Tuhan akan datang atau menghentikan permainan itu—Lidya

Saat membaca judul buku ini ” Jam berapa Sekarang..?” saya menduga itu adalah salah satu judul cerita di buku ini, ternyata dugaan saya salah,  ini bukan kumcer. Awal membaca buku ini sempat merasa “stag” apakah mau diteruskan atau tidak. Dialog atau monolog sedikit membosankan, terutama pada bagian dialog Surya dengan Uwak Haji yang menceritakan kebiasaan warga setempat. Tetapi setelah kisah Mariam di angkat dan menjadi topik utama, saya makin penasaran. Buku ini mempunyai dua tokoh utama perempuan Mariam dan Lidya.

Pada bagian pertama, Diawali dengan Surya, seorang jurnalis yang sedang meliput berita di sebuah desa karena ada dugaan penyalahgunaan dana desa, tetapi bukannya mendapatkan berita tersebut, Surya terkesan dengan kisah pilu gadis bernama Mariam. Setiap malam terdengar rintihan dan teriakan Mariam yang dikurung oleh Ibunya. Surya mendapatkan cerita tersebut dari Uwak Haji, salah satu tokoh di desa tersebut. Keluarga tersebut terkucil dan tidak tersentuh dari tetangga, sejak ayahnya Mariam masih hidup. Kisah ini bergulir sampai suatu hari Mariam dibawa oleh penduduk setempat untuk diobati ke rumah sakit jiwa. sedangkan ibunya akhirnya bunuh diri dengan membakar rumahnya sendiri. Kepiluan Mariam bukannya berakhir setelah diobati tetapi justru mulai setelah keluar dari rumah sakit jiwa. Sebagai manusia baru setelah keluar dari rumahsakit, Mariam mengganti nama menjadi Ijah. Berharap kehidupan baru yang terlepas dari masa lalu kelam, berakhir. Ijah sempat menikah dengan Hasnan, pemuda yang baik karena menolongnya saat kelar dari rumahsakit. Tetapi tampaknya kebahagiaan Ijah tidak bertahan lama. Demi bertahan hidup, Ijah menjalani hidup sebagai perempuan pekerja sex komersil. Meskipun hal ini mengganggu pikirannya. Ijah bermaksud meninggalkan dunia yang bergelimang dosa ini. Apakah Ijah berhasil, untuk hijrah ?? Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Buku Sastra, Buntelan, Review Buku

Seputih Salju Michigan

seputih salju

Kisah Perjuangan Mahasiswa Muslim di Amerika

Judul Buku        : Seputih Salju Michigan
Penulis               : Dion Ginanto
Penerbit             : Penerbit Grasindo
Cetakan ke-1     : 12 Juni 2017
ISBN                    : 978-602-375972-9
Halaman            : 192 hal

 

Blurb

Adalah Dzaki, pemuda idealis dari bagian tengah Sumatera, harus merasakan manis dan pahit bersekolah di Amerika. Dzaki adalah sosok religius, open minded, tapi terkadang terlihat sangat lugu. Dia berkawan dengan siapa saja, tak pandang bulu apa pun agama dan suku mereka.

Namun, siapa sangka, Dzaki yang begitu toleran harus berurusan dengan aksi-aksi kriminal, serta pahitnya diskriminasi. Dia harus merasakan dinginnya penjara Michigan demi mempertahankan marwah dan martabatnya. Bukan hanya itu, Dzaki juga harus bergumul, merasakan timah panas karena menggagalkan aksi penembakan di kampus tempatnya menuntut ilmu. Puncaknya, Dzaki diculik dan disekap oleh bandit Detroit.

Akan tetapi, tragedi-tragedi memilukan tersebut malah mengantarkan pemuda asal Jambi ini pada kisah cinta yang rumit. Dzaki, yang mempunyai wibawa dan aura pria Indonesia, berhasil memikat setidaknya empat hati dara jelita. Tentu Dzaki harus menentukan satu pilihan.

Novel ini mencoba mengurai perjuangan mahasiswa Indonesia di Amerika. Romansa cinta, keikhlasan, pengorbanan, heroisme, toleransi, kesemuanya terbungkus apik hingga membuat pembaca terkesan pada setiap episode-episodenya

Saat membaca novel pertama dari seorang penulis yang baru kuketahui, saya selalu membaca bagian akhir pada kolom “Tentang Penulis”. Biografi singkat Dion Efrijum Ginanto, membuatku tertarik dan penasaran dengan isi novel ini. Penulis yang merupakan lulusan Phd dari Michigan State University (MSU) adalah seorang guru dan dosen. Saya memang selalu kagum sama orang-orang yang berhasil kuliah di luar negeri dengan jalur beasiswa, ini mengingatkan dengan mimpiku yang tidak terwujud 😦

Mengingat latar belakang penulis dan judul novel ini, saya langsung mengambil kesimpulan bahwa novel ini  mengangkat kisah nyata atau terinspirasi dari kehidupan penulis saat kuliah di MSU.  Dari sinopsis yang saya baca, novel ini bergenre drama religi, perjuangan seorang mahasiswa muslim yang kuliah di negara sekuler di Amerika, tentunya bukan hal yang mudah.  Novel ini mempunyai poin plus, dibanding dengan novel dengan tema religi. Masing-masing tokoh yang digambarkan menurut saya “manusawi“. Biasanya penulis menciptakan tokoh protagonis dan antagonis, dan tokoh protagonis seringkali identik dengan sempurna, baik secara karakter maupun alur cerita. Dalam novel ini ada satu tokoh yang menurut saya awalnya sempurna yaitu Wati, mahasiswa muslimah yang memakai busana muslimah rapi dengan jilbab lebar, aktif dalam kegiatan keislaman di Michigan, tetapi dia mampu mengorbankan sesuatu yang menurut saya sangat berharga, sebagai seorang muslimah, hanya untuk menyelamatkan Dzaki yang saat itu diculik.

Buku ini dibuka dengan dialog singkat Dzaki yang akan pergi ke Masjid untuk sholat Jumat, dan bertemu dengan Aseel  , mahasiswi cantik asal Iran. Dikarenakan pesona Aseel mampu membuat Dzaki melamun dan hampir  melewati halte Masjid yang dituju. Sebenarnya saat saya membaca daftar isi , dimana ada 28  bagian disertai judulnya yang mewakili isi bagian tersebut sedikit mempengaruhi rasa penasaran saya. Hanya dengan membaca judulnya saya dapat sedikit menebak isi ceritanya. Ditambah dengan sedikitnya cerita pada masing-masing bagian, yang menurut hemat saya masih dapat dijadikan dalam bagian yang sama.

Ada beberapa tokoh dalam cerita ini, selain tokoh utama Dzaki dan menurut saya masing-masing berperan penting dalam memperkuat cerita ini. Empat Wanita dalam cerita ini Aseel, Wati, Caitlin dan Rana dimana keempatnya mempunyai perasaan kepada Dzaki menambah sisi romance novel ini. Entah mengapa saya lebih terkesan dengan Caitlin, mahasiswa asli Amerika yang selalu membantu Dzaki meskipun dia bukan muslim. Dan saya cukup terkejut dan salut buat penulisnya yang telah membuat ending cerita diluar dugaan .

Saya suka dengan alur cerita yang lumayan cepat, meskipun berharap akan lebih banyak dikupas ceritanya, sehingga jumlah halamannya dapat lebih banyak 🙂 terutama pada bagian Dzaki diculik atau saat di penjara. Menurut saya ini sisi heroik Dzaki saat berjuang di Michigan. Ada bagian yang menarik lainnya, yaitu dimana polisi Michigan yang menyelamatkan Dzaki, warga asing dan terlebih seorang muslim. Menurut saya ini jarang diekspose, bahwa hukum disana ternyata tidak diskriminatif terhadap muslim

Buku ini rekomended, buat yang suka membaca drama religi dan romance. Kisah perjuangan mahasiswa indonesia yang kuliah di Amerika juga dapat menjadi inspirasi bagi yang ingin melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Kita juga dapat belajar bagaimana persahabatan dan persaudaraan sesama mahasiswa Indonesia

 

 

 

 

 

1 Komentar

Filed under Penerbit Grasindo, Review Buku

(Book Review) Boy Toy

Judul Buku        : Boy Toy
Penulis               : aliaZalea
Desain Cover    : Martin Dima
Penerbit             : PT.Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke-1     : 25 April 2017
ISBN                    : 978-602-03399-1-7
Halaman            :384 hal

Harga                  : Rp 88.000,- (Yes24Book)

Blurb

Ada tiga kata yang Lea yakin tidak akan pernah diasosiasikan dengan dirinya: BOYBAND, BRONDONG, dan ABG. Sampai dia bertemu Taran, personel boyband paling ngetop se-Indonesia, yang superbrondong.

Untuk pertama kalinya Lea memahami ungkapan “never say never”, terutama ketika Taran jelas-jelas mulai mengejarnya. Dan Lea, dosen bergelar Ph.D., tiba-tiba jadi seperti ABG yang ngefans berat pada brondong personel boyband.

Saat melihat buku ini, berseliweran di timeline  saya penasaran ingin membacanya. Kisah cinta beda usia antara seorang wanita dengan laki-laki yang usianya jauh di bawahnya. Latar belakang sebagai dosen dan anak band, kayanya unik untuk dikupas.

Ini karya aliaZalea pertama yang kubaca, dan kesan pertama membaca karyanya saya suka dengan buku ini, sense of humornya lumayan menghibur. Mungkin setelah ini saya akan mencari karyanya yang lain.

Saya terhibur dengan alur cerita dan joke yang dibuatnya, buku ini lumayan mendinginkan isi kepalaku, setelah sebelumnya membaca buku sastra yang cukup membuat kening berkerut

“Dan sebagai informasi saja, boyband dan brondong itu not bad lho. Tergantung selera” ( hal: 34)

Tokoh utama adalah Taran, personil boyband PENTAGON usia 24 tahun, dan Lea , Dosen ilmu biologi , bergelar Phd berusia 33 tahun. Usia mereka terpaut 8 ( delapan) tahun. Tema tentang kisah cinta beda usia, dimana perempuan lebih tua dibanding laki- laki, kayanya lagi trend. Baru-baru ini di dunia maya, dihebohkan dengan gosip artis Bastian Steel (17) tahun dengan Chelse Islan (23) tahun. Netizen tidak rela kalau mereka pacaran, mereka menganggap sangat jomplang.  Atau kisah cinta sejati pada diri Presiden Perancis Emmanuel Macron yang menikah dengan wanita yang lebih tua 24 tahun. Cinta kan tidak bisa di arahkan kemana anak panahnya akan menembus sasaran kan..:)

oke..kembali ke kisah Lea dan Taran

Kisah perkenalan Lea dan Taran, tidak terlalu istimewa..yaitu mereka tidak sengaja bertabrakan. Pertemuan tersebut membuat Taran penasaran tentang Lea. Sosok Lea berbeda dengan wanita pada umumnya, yang biasanya akan berteriak histeris saat bertemu dengan anggota boyband Pentagon, Lea justru cenderung menghindarinya. Sebenarnya Lea tidak terlalu tahu tentang boy band yang lagi naik daun tersebut. Sikap Taran yang mengejar -ngejar Lea dengan memberikan tiket VVIP & backstage pass konsernya kepada Lea dan Bell teman dekatnya, atau saat Taran nyaris pingsan saat menemani Lea jogging, dan di saat lain bersedia menemani Lea makan siang di warung pinggir jalan. Semua hal manis yang diperbuat Taran akhirnya membuat hati Lea tergetar dan membuka hatinya.

Cara dia menatap lo, seakan lo mataharinya. Cowok kayak begitu nggak akan pernah menyia-nyiakan lo. (hal : 231)

Dialog dan adegan saat Taran pendekatan dengan Lea, cukup menghibur. Obrolan yang ringan dan terkesan main-main tetapi pas pada sasaran sering membuatku tersenyum.

Dan dia menerima gue apa adanya. Segala kegilaan dan mood gue yang lo tahu suka susah dimengerti (hal : 229)

Pengejaran Taran memang membuahkan hasil, tetapi konflik terjadi pada hubungan keduanya. Berawal dari pembicaran ibunya Taran yang tidak setuju , Taran pacaran dengan Lea, karena usianya yang jauh berbeda. Konflik berlanjut yang disertai konflik batin pada diri Lea. Dan ini yang memicu konflik besar dalam hubungan mereka. Serangan dari para haters yang tidak menyukai hubungan idolanya dengan Lea ditambah dengan Lea yang belum dapat melupakan trauma masa lalunya.  Akankah Taran dan Lea tetap bersama? atau memilih mengakhiri hubungan mereka?

Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Penerbit Gramedia, Review Buku

Di Dalam Hutan Entah Di Mana

IMG-20170624-WA0001_1

Judul Buku        : Di Dalam Hutan Entah Di Mana
Penulis               : Dewi Ria Utari
Desain Cover    : Lambok Hutabarat
Penerbit             : Arkara Press
Cetakan ke-1     : April 2017
ISBN                    : 978-602-61212-1-9
Halaman            :163 hal

 

Blurb

Di Dalam Hutan Entah Di Mana

Ada sebuah larangan dan kisah yang bertahun-tahun tersimpan tentang hutan di pinggir desa. Sebelum meninggal, nenek buyutnya bercerita bahwa suaminya ditangkap pada suatu subuh dan saat itu juga digelandang ke pinggir hutan bersama puluhan orang dari beberapa desa lain. Di sana mereka disuruh berdiri berjajar menghadap hutan, dan ditembak mati oleh lelaki-lelaki berseragam. Tubuh- tubuh mereka kemudian  diseret dan dibawa masuk ke dalam hutan. Sejak itu, seluruh keturunan nenek buyutnya tak diizinkan untuk memasuki hutan itu, hingga tibalah saatnya ia memilih untuk melanggar larangan itu

========================================

Bersama cerpen “Di Dalam Hutan Entah Di Mana”, Dewi Ria Utari mengumpulkan 14 kisah pendek lainnya yang murung, gelap, suram yang memikat karakter pembaca yang menggemari jenis-jenis kisah yang mencemaskan, mengganggu dan menggelisahkan. Kumpulan cerpen ini merupakan kompilasi terkini dari perjalanan Dewi Ria Utari sebagai penulis cerita pendek yang karya-karyanya telah banyak beredar di rubrik-rubrik sastra berbagai media massa sejak awal tahun 2000an. Seperti judul buku ini, pembaca diajak tersesat untuk memasuki dunia surealis getir yang dipenuhi tema-tema tentang bunuh diri, keputusasaan dan kehilangan

Ini adalah buku karya Dewi Ria Utari yang saya baca untuk pertama kalinya. Sebagai pembaca yang masih awam membaca novel sastra, perlu waktu lebih jauh lama untuk menyelesaikan buku yang hanya setebal 163 halaman ini. Berbeda apabila novel fiksi romance, mungkin hanya perlu waktu kurang dari satu jam untuk menyelesaikannya.

Setelah menyelesaikan buku ini, saya juga masih kebingungan untuk membuat reviewnya. Memahami novel sastra seperti ini bagi saya tidak mudah. Saya tidak akan mereview atau memberi penilaian mengenai buku ini, karena saya tidak mempunyai kemampuan cukup untk itu. Saya hanya ingin menyampaikan kesan saat membaca buku ini.

Buku Di Dalam Hutan Entah Di Mana, mempunyai lima belas (15) kisah pendek, dimana salah satu kisahnya menjadi judul buku ini. Dari kelima belas kisah tersebut mempunyai aura yang sama mengisahkan tentang kepedihan, kesuraman dan kegalauan hati .

Ada beberapa tema yang sama dalam beberapa kisah, yaitu mengangkat tema tentang sepasang kekasih, seperti dalam kisah Percakapan Senja . 

“Jika hari ini adalah saat terakhir kita bertemu, apa yang akan kamu lakukan?” tanyamu sambil berbalik dan kini menatap wajah kekasihmu.

“Sudah kubilang, aku akan mencarimu. Sehingga tidak ada yang namanya terakhir” (Percakapan Senja hal:16)

Dalam kisah tersebut terjadi dialog antara sepasang kekasih yang mempertanyakan berbagai kemungkinan yang akan terjadi dalam hubungan keduanya.

Kisah Setelah Tujuh Tahun yang menceritakan seorang  yang merasakan keputusasaan dalam perpisahannya selama tujuh tahun dengan sang kekasih.

Kerinduan menjadi sangat jahanam ketika kau tahu bahwa objek yang kaurindukan tak lebih dari sebuah kemustahilan dan kesia-siaan  ( Setelah Tujuh Tahun, hal : 70

atau dalam kisah Marionette 

“Sudah pasti, akan ada akhir di sebuah film, lengkap dengan kalimat The End. Sementara aku dan kamu tak pernah tahu batas dunia ( Marionette hal :125)

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Buku Sastra, Review Buku