Category Archives: Buku Sastra

Kadang Tuhan Senang Bermain-main

Judul Buku        : Jam Berapa Sekarang…?
Penulis               : Hardianti Lina dan Arief Agustianto
Penerbit             : PT Elex Media Komputindo
Cetakan ke-1     : 19 Maret 2014
ISBN                    : 997-860-2023-458-8
Halaman            : 256 hal

IMG_20170726_205316_906

Blurb

Ibu selalu berkata, bahwa Tuhan menakdirkan orangtua tidak pernah salah. Memangnya Tuhan itu ada di mana? Atau jam berapa Dia bisa muncul? Hingga aku bisa bertanya, apakah kata-kata Ibu itu benar atau tidak? —–Mariam

Aku tak ingat, jam berapa Ayah membuangku. Aku juga tak ingat, jam berapa aku jatuh cinta pada perempuan itu. Dan aku lebih tak ingat, kapan Tuhan mulai bermain-main dengan hidupku. Jadi jangan tanyakan padaku, jam berapa Tuhan akan datang atau menghentikan permainan itu—Lidya

Saat membaca judul buku ini ” Jam berapa Sekarang..?” saya menduga itu adalah salah satu judul cerita di buku ini, ternyata dugaan saya salah,  ini bukan kumcer. Awal membaca buku ini sempat merasa “stag” apakah mau diteruskan atau tidak. Dialog atau monolog sedikit membosankan, terutama pada bagian dialog Surya dengan Uwak Haji yang menceritakan kebiasaan warga setempat. Tetapi setelah kisah Mariam di angkat dan menjadi topik utama, saya makin penasaran. Buku ini mempunyai dua tokoh utama perempuan Mariam dan Lidya.

Pada bagian pertama, Diawali dengan Surya, seorang jurnalis yang sedang meliput berita di sebuah desa karena ada dugaan penyalahgunaan dana desa, tetapi bukannya mendapatkan berita tersebut, Surya terkesan dengan kisah pilu gadis bernama Mariam. Setiap malam terdengar rintihan dan teriakan Mariam yang dikurung oleh Ibunya. Surya mendapatkan cerita tersebut dari Uwak Haji, salah satu tokoh di desa tersebut. Keluarga tersebut terkucil dan tidak tersentuh dari tetangga, sejak ayahnya Mariam masih hidup. Kisah ini bergulir sampai suatu hari Mariam dibawa oleh penduduk setempat untuk diobati ke rumah sakit jiwa. sedangkan ibunya akhirnya bunuh diri dengan membakar rumahnya sendiri. Kepiluan Mariam bukannya berakhir setelah diobati tetapi justru mulai setelah keluar dari rumah sakit jiwa. Sebagai manusia baru setelah keluar dari rumahsakit, Mariam mengganti nama menjadi Ijah. Berharap kehidupan baru yang terlepas dari masa lalu kelam, berakhir. Ijah sempat menikah dengan Hasnan, pemuda yang baik karena menolongnya saat kelar dari rumahsakit. Tetapi tampaknya kebahagiaan Ijah tidak bertahan lama. Demi bertahan hidup, Ijah menjalani hidup sebagai perempuan pekerja sex komersil. Meskipun hal ini mengganggu pikirannya. Ijah bermaksud meninggalkan dunia yang bergelimang dosa ini. Apakah Ijah berhasil, untuk hijrah ?? Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Buku Sastra, Buntelan, Review Buku

Di Dalam Hutan Entah Di Mana

IMG-20170624-WA0001_1

Judul Buku        : Di Dalam Hutan Entah Di Mana
Penulis               : Dewi Ria Utari
Desain Cover    : Lambok Hutabarat
Penerbit             : Arkara Press
Cetakan ke-1     : April 2017
ISBN                    : 978-602-61212-1-9
Halaman            :163 hal

 

Blurb

Di Dalam Hutan Entah Di Mana

Ada sebuah larangan dan kisah yang bertahun-tahun tersimpan tentang hutan di pinggir desa. Sebelum meninggal, nenek buyutnya bercerita bahwa suaminya ditangkap pada suatu subuh dan saat itu juga digelandang ke pinggir hutan bersama puluhan orang dari beberapa desa lain. Di sana mereka disuruh berdiri berjajar menghadap hutan, dan ditembak mati oleh lelaki-lelaki berseragam. Tubuh- tubuh mereka kemudian  diseret dan dibawa masuk ke dalam hutan. Sejak itu, seluruh keturunan nenek buyutnya tak diizinkan untuk memasuki hutan itu, hingga tibalah saatnya ia memilih untuk melanggar larangan itu

========================================

Bersama cerpen “Di Dalam Hutan Entah Di Mana”, Dewi Ria Utari mengumpulkan 14 kisah pendek lainnya yang murung, gelap, suram yang memikat karakter pembaca yang menggemari jenis-jenis kisah yang mencemaskan, mengganggu dan menggelisahkan. Kumpulan cerpen ini merupakan kompilasi terkini dari perjalanan Dewi Ria Utari sebagai penulis cerita pendek yang karya-karyanya telah banyak beredar di rubrik-rubrik sastra berbagai media massa sejak awal tahun 2000an. Seperti judul buku ini, pembaca diajak tersesat untuk memasuki dunia surealis getir yang dipenuhi tema-tema tentang bunuh diri, keputusasaan dan kehilangan

Ini adalah buku karya Dewi Ria Utari yang saya baca untuk pertama kalinya. Sebagai pembaca yang masih awam membaca novel sastra, perlu waktu lebih jauh lama untuk menyelesaikan buku yang hanya setebal 163 halaman ini. Berbeda apabila novel fiksi romance, mungkin hanya perlu waktu kurang dari satu jam untuk menyelesaikannya.

Setelah menyelesaikan buku ini, saya juga masih kebingungan untuk membuat reviewnya. Memahami novel sastra seperti ini bagi saya tidak mudah. Saya tidak akan mereview atau memberi penilaian mengenai buku ini, karena saya tidak mempunyai kemampuan cukup untk itu. Saya hanya ingin menyampaikan kesan saat membaca buku ini.

Buku Di Dalam Hutan Entah Di Mana, mempunyai lima belas (15) kisah pendek, dimana salah satu kisahnya menjadi judul buku ini. Dari kelima belas kisah tersebut mempunyai aura yang sama mengisahkan tentang kepedihan, kesuraman dan kegalauan hati .

Ada beberapa tema yang sama dalam beberapa kisah, yaitu mengangkat tema tentang sepasang kekasih, seperti dalam kisah Percakapan Senja . 

“Jika hari ini adalah saat terakhir kita bertemu, apa yang akan kamu lakukan?” tanyamu sambil berbalik dan kini menatap wajah kekasihmu.

“Sudah kubilang, aku akan mencarimu. Sehingga tidak ada yang namanya terakhir” (Percakapan Senja hal:16)

Dalam kisah tersebut terjadi dialog antara sepasang kekasih yang mempertanyakan berbagai kemungkinan yang akan terjadi dalam hubungan keduanya.

Kisah Setelah Tujuh Tahun yang menceritakan seorang  yang merasakan keputusasaan dalam perpisahannya selama tujuh tahun dengan sang kekasih.

Kerinduan menjadi sangat jahanam ketika kau tahu bahwa objek yang kaurindukan tak lebih dari sebuah kemustahilan dan kesia-siaan  ( Setelah Tujuh Tahun, hal : 70

atau dalam kisah Marionette 

“Sudah pasti, akan ada akhir di sebuah film, lengkap dengan kalimat The End. Sementara aku dan kamu tak pernah tahu batas dunia ( Marionette hal :125)

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Buku Sastra, Review Buku