Tag Archives: Sungging Raga

(Book Review) Reruntuhan Musim Dingin

wp-image-1664727900jpeg.jpeg

Memaknai Cinta Melalui Karya Sastra

Judul Buku : Reruntuhan Musim Dingin
Penulis : Sungging Raga
Penyunting: Ainini
Penerbit : DIVA Press
Cetakan I : Januari 2016
ISBN :978-602-391-079-3
Tebal Buku: 204 hal

Sastra adalah seni yang memangsa dan menjarah. Apa yang dijarahnya adalah kehidupan. Tak ada sastra yang ditulis dari ruang hampa, sastra  senantiasa ditulis di atas kanvas kenyataan (hal:11)

Kata Pengantar yang disampaikan Tia Setiadi (Penyair dan Kritikus Sastra) dalam buku Reruntuhan Musim Dingin menjelaskan bahwasanya karya sastra adalah lukisan kenyataan yang digelar di atas kanvas kertas dengan kalimat metafor dan simbol yang diberaikannya sehingga terkadang sulit dideteksi penjarahannya. Karya sastra adalah hasil perenungan atau refleksi dari kehidupan sehari-hari. Seperti halnya tentang Cinta yang disampaikan Sungging Raga melalui kumpulan cerita pilihan Reruntuhan Musim Dingin.

Kisah cinta dalam dunia cerpen adalah hal biasa tetapi melalui cerita-cerita yang disampaikan oleh Sungging Raga kisah cinta tidak membuatnya klise. Alur cerita yang berkelok-kelok, naik turun, terkadang pembaca juga dikejutkan dengan tikungan yang menukik tajam. Hingga di akhir cerita pembaca bisa tersenyum,terdiam,atau bahkan menangis. Tata bahasa yang indah dan absurd menjadi daya tarik pembaca, seperti terlihat dari judul-judul : Selebrasi Perpisahan, Dermaga Patah hati, Melankolia Laba-Laba, Abnormaphobia, Lovelornia 

Ada 22 cerita dalam kumcer ini, dan semuanya mempunyai tema sama yaitu cinta , tetapi Sungging Raga mengemas cerita dalam tokoh,setting dan kisah yang berbeda keabsurdannya. Seperti cerita Rayuan Sungai Serayu , dikisahkan tentang kehebohan Sungai Serayu yang tiba-tiba raib, jalur sungai bukan hanya mengering,tetapi juga tanahnya menjadi datar seperti tanah biasa. Hal tersebut dikarenakan Sungai Serayu telah berubah wujud menjadi seorang gadis cantik. Gadis itu sedang merayu seorang pemuda, yang tidak percaya, bagaimana mungkin sungai dapat berbicara seperti layaknya manusia.Kisah cinta yang absurd antara sebuah sungai dengan manusia. Kisah yang mirip pada cerita Melankolia Laba-Laba, kisah seekor Laba-laba yang mencintai seorang manusia yang selalu dilihatnya di kamarnya.Di akhir kisah ketika manusia itu mati, berubah menjadi laba-laba . Atau kisah bunga Edelweis dalam cerita Sihir Edelweis, seorang pemuda yang mencintai perempuan jelmaan dari bunga edelweis

Kisah lain yang kuanggap absurd yaitu  Biografi Sepasang Rangka; berkisah tentang kehidupan mayat di kuburan yang sudah menjadi rangka. Kisah cinta sepasang rangka hingga mereka menikah, kuburan menjadi ramai karena pesta pernikahan yang dilaksanakan seperti halnya pernikahan di dunia nyata ada musik,lampu,makanan.  Untuk cerita terakhir ini, jangankan berimajinasi perihal kisah cinta seperti sepasang rangka tersebut, membayangkan dunia kematian saja rasanya tidak sanggup. Padahal itu adalah satu-satunya hal yang pasti di kehidupan ini sesuai pesan yang terkandung  dalam cerita Tak ada Kematian di Alaska. Baca lebih lanjut

Iklan

1 Komentar

Filed under Penerbit Diva Press, Review Buku