Tag Archives: Novel Religi

Blogtour-Giveaway : Khadijah

 

cover khadijah

Judul Buku      : Khadijah : First Love Never Dies
Penulis             : Irfa Hudaya
Penerbit           : Tinta Medina, Creative Imprint of Tiga Serangkai
Cetakan I         : April 2019
ISBN                  : 978-623-7011-89-7
Tebal                 : xiv,  258 halaman

 

Blurb

Khadijah menyimpan sebongkah cinta terhadap seorang lelaki yang terkenal dengan kejujurannya. Namun, wanita yang sudah pernah menikah itu ragu-ragu, apakah cintanya punya hak mendapat balasan serupa?

Dirinya urung menyatakan keinginan untuk menikahi Muhammad. Sayangnya, rasa sejernih mutiara itu malah membesar. Dengan tekad yang bulat, Khadijah menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal.

Hati Khadijah semakin kuat setelah pertemuan itu. Lantas, akankah cintanya berbuah manis? Apakah kehadiran Khadijah dalam kehidupan Muhammad mempunyai peran yang besar?

Pembahasan tentang cinta memang tidak pernah habis dikupas, banyak buku yang menjadikan cinta sebagai tema utama. Dalam buku Khadijah First Love Never Dies juga mengambil tema cinta, namun ini berbeda dengan cerita cinta pada umumnya. Kisah cinta sejati wanita agung dengan manusia mulia Nabi Muhammad Saw. Buku ini bukan buku biografi Khadijah (istri Rasulullah),meskipun menceritakan kisah hidup Khadijah dari semenjak gadis hingga meninggal dunia, buku ini masuk dalam kategori fiksi bergenre novel religi.

Khadijah adalah seorang gadis yang cantik dan berakhlak mulia. Dengan latar belakang keluarga yang kaya raya, terpandang dan dermawan menjadikan Khadijah impian dari para pemuda maupun orangtua untuk dapat menjadi bagian dari keluarga Khuwailid. Namun orangtua Kadijah memilihkan pemuda untuk putrinya tidak berdasarkan harta atau kekayaan saja, namun yang utama adalah akhlaknya. Pilihannya jatuh pada Abu Halah an-Nabbasyi bin Zuriah, seorang pemuda yang kaya dan mempunyai akhlak mulia. Khadijah mempunyai dua orang anak dari pernikahan dengan Abu Halah yaitu Halah dan Hindun. Kebahagiaan Khadijah tidak berlangsung lama, suaminya sakit dan meninggal dunia meninggalkan kedua putranya yang masih kecil.

Orangtua Khadijah memintanya untuk menikah lagi agar anak-anak mempunyai ayah. Khadijah menyetujui pilihan orangtuanya untuk menikah dengan Athiq bin Aidz Makhzumi. Dari pernikahan dengan Athiq,ia melahirkan bayi perempuan cantik yang diberi nama Hindun. Pernikahan Khadijah dan Athiq juga tidak berlangsung lama, karena Athiq tewas dalam peperangan antar suku.

Sepeninggal suaminya yang terakhir Khadijah fokus mengurus ketiga buah hatinya, Halah,Hindun dan Hindun binti Athiq Aidz Makhzumi. Khadijah sesekali juga belajar perniagaan kepada ayahnya, ia belajar bagaimana mengelola harta peninggalan suami-suaminya dan harta dari ayahnya agar tidak habis dan lebih bermanfaat bagi orang lain. Khadijah selain dikenal sebagai wanita berakhlak mulia juga dikenal cerdas dalam berdagang.

Setelah orangtuanya meninggal Khadijah mengelola sendiri perniagaan yang diwariskan ayahnya. Suatu hari Khadijah memerlukan pemimpin kafilah yang baru untuk memimpin kafilah perdagangan ke negeri Syam. Ia memilih seseorang yang dapat dipercaya untuk mengelola perniagaanya, dan atas usulan dari asistennya, dipilih Muhammad untuk menjadi pemimpin kafilah

“Khadijah mengulang nama itu.Sebuah nama yang tiba-tiba saja seperti menyentuh hatinya. Sebuah nama yang mampu membuat dada Khadijah menghangat” (hal 47)

Sejak pertemuan pertama dengan Muhammad, hati Khadijah galau sekaligus berbunga-bunga setiap mengingat Muhammad. Khadijah baru mengalami perasaan seperti itu. Ia menyadari statusnya dan terpaut usia  cukup jauh dengan Muhammad, yang kemungkinan akan lebih memilih seorang gadis daripada dirinya. Akhirnya setelah mendengar nasihat Waraqah bin Naufal (sepupunya) tentang perasaanya, Khadijah memberanikan diri mengutus Nafisah (kerabatnya) untuk menemui Muhammad.

Akankah Muhammad langsung menerima niat baik Khadijah untuk menikah dengannya? Bagaimana peran Khadijah dalam kehidupan Muhammad ?

Novel ini sangat recommended dibaca, kisah romansa kedua insan mulia ini patut menjadi teladan khususnya bagi muslimah. Dari Khadijah kita dapat belajar menjadi seorang istri yang baik untuk suami, ibu yang menjadi teladan bagi anak-anaknya. Kehidupan rumah tangga Khadijah dan Muhammad yang diwarnai dengan keindahan dan perjuangan juga dapat menjadi teladan bagi pasangan suami istri di zaman sekarang. Dialog antara Khadijah dan anaknya maupun kepada khadimatnya saat mengajarkan makna ketuhanan, menurut saya sangat bagus untuk dipraktikan bagi kaum ibu. Kedekatan Khadijah dengan anak-anak maupun dengan sang ibu menyentuh hati. Seorang ibu memang guru yang utama dan pertama bagi anak-anaknya. Khadijah menyadari hal tersebut, sehingga tidak membiarkan anak-anaknya diasuh atau disusui oleh orang lain,sebagaimana budaya arab pada masa itu.

Novel Khadijah First Love Never Dies begitu menyentuh hati, penulis mampu menuliskan kata-kata yang mampu merasuk kedalam hati pembaca dengan quote-qoute yang indah. Bukan hanya qoute yang  indah, namun cover buku ini juga cantik, gambar hati, bunga dengan warna yang pink cukup mewakili isi novel ini.

Ada beberapa qoute atau dialog antara Khadijah dan anaknya yang kusuka , antara lain :

Tuhan kita ingin kau semakin cerdas, jika kau berpikir lebih keras.Tuhan suka kepada manusia yang suka berpikir (hal :31)

Laki-laki sejati itu selalu bertindak kesatria. Tidak memandang pada si miskin atau kaya, laki-laki atau perempuan.Jika seorang kesatria melakukan kesalahan dia pasti mau minta maaf dan bertanggung jawab (hal : 53)

Sungguh rugi jika kita hanya menuruti nafsu duniawi. Takkan ada habisnya (hal : 113)

Bahagia adalah ketika kita tersentuh atas apa yang Tuhan berikan, kemudian mensyukuri segala anugerah itu (hal : 113)

Semoga dengan membaca novel ini akan makin meningkatkan keimanan kita dan kecintaan kepada rasulullah Muhammad SAW.   Baca lebih lanjut

Iklan

9 Komentar

Filed under Blogtour-Giveaway, Dalam Negeri, Novel Religi, Review Buku

(BLOGTOUR-GIVEAWAY) Habibie Ya Nour El Ain

Judul Buku: Habibie Ya Nour El Ain
Penulis : Maya Lestari GF
Penerbit : DAR! Mizan
Tebal Buku : 240 halaman
Cetakan Pertama: Desember 2016
ISBN : 978-602-420-298-9
habibie-2

Blurb

Barra Sadewa, anak SMA yang mengaku tidak percaya Tuhan, dipaksa kepala sekolahnya untuk mondok dua minggu di Pesantren Nurul Ilmi. Ia datang dengan segudang kebencian. Mengira pesantren itu adalah penjara yang lain lagi dalam hidupnya. Tepat saat ia memasuki gerbang pesantren dan mengira telah melakukan kebodohan terbesar dalam hidupnya, ia bertemu Nilam, putri pemilik pesantren yang pendiam dan sangat menjaga etika pergaulan. Dalam beberapa detik segalanya berubah. Bukan hanya bagi Barra, tapi juga Nilam. Pertemuan mereka hanya sekejap, tapi jejaknya membekas sepanjang usia.

Dalam pertemuan-pertemuan yang sebentar, Barra dan Nilam menyaksikan sulur-sulur nasib mereka saling bertemu dan membelit. Mereka bercakap tanpa suara. Rahasia-rahasia hati mereka hanya disampaikan melalui pandangan mata.Bertahun-tahun Barra dan Nilam hanya menuangkan cinta itu dalam surat-surat yang tersimpan. Sampai akhirnya, ketika Barra memutuskan untuk menyatakan segalanya, semua sudah terlambat.

“Aku hanyalah meteor yang terbakar tanpa sisa di atmosfernya. Aku takkan pernah jatuh ke buminya, takkan mungkin menciptakan kawah di jantungnya.”

Novel ini berlatar belakang kehidupan pesantren dengan segala peraturan dan pergaulan antara santri putra dan putri yang terbatas, tetapi jika ada sepasang manusia yang saling memendam perasaan cinta, itu adalah takdir mereka

Adalah Barra Sadewa seorang anak SMA yang dikenal sebagai anak yang nakal di sekolahnya, dan ia juga tidak pernah sholat, karena mengaku tidak percaya kepada Tuhan. Kepala Sekolah memaksanya untuk mondok dua minggu di Pesantren Nurul Ilmu, berharap Barra Sadewa berubah menjadi lebih baik dan mengenal Tuhan.

Masuk di pesantren selama dua minggu, telah membuat Barra berubah. Ia yang tadinya menganggap bahwa dunia tidak adil, bahwa Tuhan kejam karena dari kecil selalu hidup dalam penderitaan. Tetapi di pesantren itu ia merasa dihargai, disayangi, diterima apa adanya, bahkan pesantren yang penuh dengan sederetan aturan dan larangan, Barra tidak dipaksa mengikutinya. Ustad dan santri disana sangat ramah dan bersahabat, terutama Pemimpin Pesantren tersebut, Buya. Dengan kasih sayang layaknya seorang ayah kepada anaknya, Buya memberikan nasihat tanpa terkesan menggurui tetapi menyejukkan dan menenangkan

Kadang orang tak memerlukan banyak nasihat. Mereka cuma butuh melihat, bahwa mereka diterima dan disayangi. Kasih sayang adalah nasihat yang paling baik ( hal :115)

Saya sangat terkesan dengan sosok Buya, beliau sangat menyayangi santri-santrinya. Setiap santri yang selesai di Pesantren dan lulus kuliah, maka Buya akan menanam satu bunga mawar,sebagai tanda kelulusan mereka. Sehingga kebun di Pesantren penuh dengan bunga mawar.Ini secara tidak langsung, penulis mengkampanyekan global warming yaa..:) kalau setiap orang merayakan sesuatu dengan menanam pohon atau tanaman, pasti dunia tidak akan sepanas sekarang ..:)

Dan di Pondok Pesantren ini Barra bertemu dengan Nilam, salah satu santri yang merupakan putri pemilik Pesantren tersebut. Pertemuan yang hanya terjadi beberapa kali tanpa ada pembicaraan panjang, telah membuat keduanya jatuh cinta sedemikian dalam tanpa pernah terungkap satu-sama lain. Bahkan setelah bertahun-tahun kemudian

Cinta adalah sesuatu yang berada di luar dimensi manusia. Ia tidak berada dalam rencana-rencana atau cita-cita. Tidak punya ruang dan waktu. Cinta diciptakan dengan dimensi dan logikanya sendiri dan diciptakan Tuhan untuk masuk ke alam manusia dengan cara yang tidak mampu kita pahami (hal:14)

habibie-qoute

Barra dan Nilam saling menulis surat untuk mengungkapkan isi hatinya, tanpa pernah surat tersebut terkirim.Hingga setelah delapan tahun kemudian, ketika akhirnya Nilam menjalani proses ta’aruf dengan Haris, teman dari Abangnya. Saat menyadari bahwa semua sudah terlambat.

Novel ini ditulis dengan sudut pandang Nilam, tetapi sesekali penulis akan bercerita dari sudut pandang Barra, melalui surat-surat yang ditulisnya untuk Nilam.

habibie-qoute-1
Novel yang ditulis begitu indahnya dengan tata bahasa yang menghipnotis pembacanya untuk selalu membaca tiap detail kalimat yang terangkai indah. Saya sungguh menikmati novel ini, syarat dengan nilai filosofis. Gambaran kehidupan pesantren yang diceritakan penulis, begitu berbeda dengan bayanganku selama ini. Ada musik dan lagu-lagu modern yang boleh dimainkan,buku-buku tidak terbatas pada kitab ihya ulumiddin atau buku islam saja,tetapi ada banyak buku umumnya.Menurut saya ada yang kurang pas tentang metode di pesantren tersebut.Ada suatu waktu santri putra dan putri dapat bertemu yaitu saat di perpustakaan dan pelajaran pilihan, dimana saat belajar santri putra-putri di campur. Sepengatahuan saya, tempat tinggal dan tempat belajar santri putra biasanya selalu terpisah dengan santri putri.

Bagaimana kisah Barra dan Nilam, apakah mereka tetap akan memendam perasaan tanpa pernah saling mengetahui ?? Apakah mereka dapat bersatu dalam pernikahan??

Aku mencintai dia, aku hanya tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Jadi , kubiarkan saja diriku terluka, tanpa tahu cara menyembuhkannya (Nilam : 163)

Baca lebih lanjut

23 Komentar

Filed under Blogtour-Giveaway, Dar Mizan, Novel Religi, Penerbit Mizan, Review Buku