Tag Archives: buku gpu

Then & Now ; Dulu & Sekarang

Judul Buku        : Then & Now : Dulu & Sekarang
Penulis               : Arleen A
Desain Cover    : Martin Dima
Editor                 : Dini, Riska
Penerbit             : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke-1     : 22 Mei 2017
ISBN                    : 978-602-03-5128-5
Halaman            : 344 hal

 

Blurb

Ruita
Gadis dari suku telinga pendek. Ia tidak menyukai suku telinga panjang, apalagi kalau harus bekerja pada mereka. Tapi lalu ia melihat mata itu, mata seorang lelaki suku telinga panjang yang sorotnya seolah dapat melihat kedalaman hati Ruita.

Atamu
Ia tidak pernah menyangka akan jatuh hati pada gadis dari suku lain yang lebih rendah derajatnya. Tapi apalah arti kekuatan lelaki berusia enam musim panas bila dihadapkan pada takdir yang lama tertulis sebelum dunia diciptakan?

Rosetta
Ia punya segalanya, termasuk kekasih yang sempurna. Tapi ketika dilamar, ia menolak tanpa tahu alasannya. Ia hanya tahu hatinya menantikan orang lain, seseorang yang belum dikenalnya.

Andrew
Ia hanya punya enam bulan untuk mencari calon istri, tapi ia tak tahu dari mana harus memulai sampai ia melihat seorang gadis berambut merah. Dan begitu saja, ia tahu ia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan gadis itu.

Ini kisah cinta biasa: tentang dua pasang kekasih yang harus berjuang demi cinta. Namun, bukankah tidak pernah ada kisah cinta yang biasa?

Then & Now adalah novel pertama karya Arleen yang saya baca. Saat pertama kali muncul di timeline saya langsung tertarik untuk membacanya, sebagai tipe pembaca yang melihat cover buku dulu sebelum membaca isinya, tentu saja langsung tertarik dengan cover unik, yang mirip koran ini.

“Kata orang, cinta tidak mengenal apapun. Tidak tempat, tidak juga waktu”

Buku ini mengisahkan dua kisah cinta dari dua pasang kekasih yang berbeda masa, yang masing-masing mengisi cerita Then (Dulu) dan Now (Sekarang).

Pada bagian Then (Dulu) dikisahkan Ruita dan Atamu yang menjalin kisah cinta yang terlarang. Ruita adalah gadis dari suku telinga pendek yang dikenal dengan nama suku Momoki. Mereka hidup dibawah kekuasaan Suku telinga panjang atau Suku Eepe. . Kisah pertemuan Ruita dan Atamu berawal saat Ruita bekerja di keluarga Tangata Heteriki, Atamu adalah salah satu anak majikannya (petinggi dari Suku Eepe). Hanya melalui tatapan mata beberapa menit, mampu menggetarkan jiwa mereka. Cinta memang tidak mengenal waktu dan tempat, tidak mengenal suku dan derajat. Dalam kepercayaan mereka, suku Momoki harus menikah dengan sesama suku Momoki demikian juga dengan suku Eepe, mereka tidak boleh menikah, jangankan menikah bersentuhan dengan suku Momoki tidak diperbolehkan. Apabila melanggar akan di hukum, dicambuk dikucilkan dan dikeluarkan dari anggota suku Eepe. Ruita dan Atamu menjalani kisah cintanya secara sembunyi-sembunyi, setiap malam mereka bertemu di sebuah pantai yang tersembunyi. Hingga suatu hari hubungan mereka diketahui oleh tunangan Ruita, yang bernama Vai..yang merupakan anggota suku Momoki seperti Ruita

Apakah yang akan terjadi terhadap Ruita dan Atamu ?? Akankah Ruita tetap mempertahankan cintanya terhadap Atamu atau memilih mengikuti adat istiadat suku Momoki, yaitu menikah dengan sesama suku Momoki?

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Penerbit Gramedia, Review Buku

Resensi CRITICAL ELEVEN

Judul Buku         : Critical Eleven
Penulis               : Ika Natassa
Desain Sampul : Ika Natassa
Editor                 : Rosi L. Simamora
Penerbit             : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke-8     : Desember 2015
ISBN                    : 978-602-03-1892-9
Halaman             : 344 hal

Blurb

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya

P_20170429_155334_1

Novel Critical Eleven merupakan novel karya Ika Natassa yang saya baca pertama kalinya, sebenarnya sudah dari tahun lalu saya membacanya, tetapi entah mengapa malas membuat reviewnya . Padahal buku Ika yang lainnya; The Architecture Of Love, Antologi Rasa, Twivortiare, dan a Very Yuppy Wedding, masih nangkring manis di rak buku dan belum dibuka segelnya... menanti dijamah. Memang sih saya korban diskon waktu itu beli paket buku Ika Natassa dengan harga yang lebih miring…dan ternyata saya hanya menimbunnya, dan tertarik baca yang lain dulu  😦 Nama besar ternyata tidak jadi jaminan, saya juga suka buku-bukunya, ini mungkin terkait selera. Dan kenapa saya sekarang menulis reviewnya, saya berniat membaca buku Ika yang lainnya, jadi saya pemanasan dulu dengan reread Critical Eleven. Sayangkan  kalau terlalu lama ditimbun, mungkin setelah saya membaca buku Ika yang lainnya akan menyukai

Saya tipe pembaca yang melihat cover bukunya dahulu sebelum membaca isinya. Saya suka dengan covernya biru, its favorite colour ditambah dengan gambar pesawat yang sedang terbang, sangat mewakili judul novel ini. Pantas saja ini menjadi salah satu cover terbaik dan makin salut sama penulisnya yang membuat sendiri desain sampulnya. Meskipun sekarang ada cover versi filmnya, tetapi saya tetap menyukai versi aslinya. Saya juga suka dengan bookmark nya. Oiya filmnya akan tayang bulan Mei ini dengan pemain utama Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. Apakah aku akan nonton? ehm…entahlah, sempat melihat trailernya dan kayanya kurang greget

Critical Eleven  adalah istilah penerbangan yang baru saya ketahui saat membaca novel ini, good point untuk menambah wawasanku. Sebelas menit yang paling kritis dalam pesawat; tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing. Penulis mengaitkan istilah tersebut dengan kehidupan manusia saat pertemuan pertama. Tiga menit pertama  saat bertemu seseorang dapat dilihat senyumnya, gesture tubuhnya, itu akan menjadi kesan pertama yang terbentuk. Dulu ada iklan pasta gigi yang mempunyai slogan “pertemuan pertama begitu menggoda..selanjutnya terserah anda ..” iklan itu ada benarnya juga. Dan delapan menit terakhir sebelum berpisah  akan menentukan.

And then there’s the last eight minutes before you part with someone. Senyumnya, tindak tanduknya, ekspresi wajahnya, tanda-tanda apakah akhir pertemuan itu akan menjadi “andai kita punya waktu bareng lebih lama lagi”atau justru menjadi perpisahan yang sudah ditunggu tunggu dari tadi” (hal : 16)

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Penerbit Gramedia, Review Buku