Category Archives: Dar Mizan

(BLOGTOUR-GIVEAWAY) Habibie Ya Nour El Ain

Judul Buku: Habibie Ya Nour El Ain
Penulis : Maya Lestari GF
Penerbit : DAR! Mizan
Tebal Buku : 240 halaman
Cetakan Pertama: Desember 2016
ISBN : 978-602-420-298-9
habibie-2

Blurb

Barra Sadewa, anak SMA yang mengaku tidak percaya Tuhan, dipaksa kepala sekolahnya untuk mondok dua minggu di Pesantren Nurul Ilmi. Ia datang dengan segudang kebencian. Mengira pesantren itu adalah penjara yang lain lagi dalam hidupnya. Tepat saat ia memasuki gerbang pesantren dan mengira telah melakukan kebodohan terbesar dalam hidupnya, ia bertemu Nilam, putri pemilik pesantren yang pendiam dan sangat menjaga etika pergaulan. Dalam beberapa detik segalanya berubah. Bukan hanya bagi Barra, tapi juga Nilam. Pertemuan mereka hanya sekejap, tapi jejaknya membekas sepanjang usia.

Dalam pertemuan-pertemuan yang sebentar, Barra dan Nilam menyaksikan sulur-sulur nasib mereka saling bertemu dan membelit. Mereka bercakap tanpa suara. Rahasia-rahasia hati mereka hanya disampaikan melalui pandangan mata.Bertahun-tahun Barra dan Nilam hanya menuangkan cinta itu dalam surat-surat yang tersimpan. Sampai akhirnya, ketika Barra memutuskan untuk menyatakan segalanya, semua sudah terlambat.

“Aku hanyalah meteor yang terbakar tanpa sisa di atmosfernya. Aku takkan pernah jatuh ke buminya, takkan mungkin menciptakan kawah di jantungnya.”

Novel ini berlatar belakang kehidupan pesantren dengan segala peraturan dan pergaulan antara santri putra dan putri yang terbatas, tetapi jika ada sepasang manusia yang saling memendam perasaan cinta, itu adalah takdir mereka

Adalah Barra Sadewa seorang anak SMA yang dikenal sebagai anak yang nakal di sekolahnya, dan ia juga tidak pernah sholat, karena mengaku tidak percaya kepada Tuhan. Kepala Sekolah memaksanya untuk mondok dua minggu di Pesantren Nurul Ilmu, berharap Barra Sadewa berubah menjadi lebih baik dan mengenal Tuhan.

Masuk di pesantren selama dua minggu, telah membuat Barra berubah. Ia yang tadinya menganggap bahwa dunia tidak adil, bahwa Tuhan kejam karena dari kecil selalu hidup dalam penderitaan. Tetapi di pesantren itu ia merasa dihargai, disayangi, diterima apa adanya, bahkan pesantren yang penuh dengan sederetan aturan dan larangan, Barra tidak dipaksa mengikutinya. Ustad dan santri disana sangat ramah dan bersahabat, terutama Pemimpin Pesantren tersebut, Buya. Dengan kasih sayang layaknya seorang ayah kepada anaknya, Buya memberikan nasihat tanpa terkesan menggurui tetapi menyejukkan dan menenangkan

Kadang orang tak memerlukan banyak nasihat. Mereka cuma butuh melihat, bahwa mereka diterima dan disayangi. Kasih sayang adalah nasihat yang paling baik ( hal :115)

Saya sangat terkesan dengan sosok Buya, beliau sangat menyayangi santri-santrinya. Setiap santri yang selesai di Pesantren dan lulus kuliah, maka Buya akan menanam satu bunga mawar,sebagai tanda kelulusan mereka. Sehingga kebun di Pesantren penuh dengan bunga mawar.Ini secara tidak langsung, penulis mengkampanyekan global warming yaa..:) kalau setiap orang merayakan sesuatu dengan menanam pohon atau tanaman, pasti dunia tidak akan sepanas sekarang ..:)

Dan di Pondok Pesantren ini Barra bertemu dengan Nilam, salah satu santri yang merupakan putri pemilik Pesantren tersebut. Pertemuan yang hanya terjadi beberapa kali tanpa ada pembicaraan panjang, telah membuat keduanya jatuh cinta sedemikian dalam tanpa pernah terungkap satu-sama lain. Bahkan setelah bertahun-tahun kemudian

Cinta adalah sesuatu yang berada di luar dimensi manusia. Ia tidak berada dalam rencana-rencana atau cita-cita. Tidak punya ruang dan waktu. Cinta diciptakan dengan dimensi dan logikanya sendiri dan diciptakan Tuhan untuk masuk ke alam manusia dengan cara yang tidak mampu kita pahami (hal:14)

habibie-qoute

Barra dan Nilam saling menulis surat untuk mengungkapkan isi hatinya, tanpa pernah surat tersebut terkirim.Hingga setelah delapan tahun kemudian, ketika akhirnya Nilam menjalani proses ta’aruf dengan Haris, teman dari Abangnya. Saat menyadari bahwa semua sudah terlambat.

Novel ini ditulis dengan sudut pandang Nilam, tetapi sesekali penulis akan bercerita dari sudut pandang Barra, melalui surat-surat yang ditulisnya untuk Nilam.

habibie-qoute-1
Novel yang ditulis begitu indahnya dengan tata bahasa yang menghipnotis pembacanya untuk selalu membaca tiap detail kalimat yang terangkai indah. Saya sungguh menikmati novel ini, syarat dengan nilai filosofis. Gambaran kehidupan pesantren yang diceritakan penulis, begitu berbeda dengan bayanganku selama ini. Ada musik dan lagu-lagu modern yang boleh dimainkan,buku-buku tidak terbatas pada kitab ihya ulumiddin atau buku islam saja,tetapi ada banyak buku umumnya.Menurut saya ada yang kurang pas tentang metode di pesantren tersebut.Ada suatu waktu santri putra dan putri dapat bertemu yaitu saat di perpustakaan dan pelajaran pilihan, dimana saat belajar santri putra-putri di campur. Sepengatahuan saya, tempat tinggal dan tempat belajar santri putra biasanya selalu terpisah dengan santri putri.

Bagaimana kisah Barra dan Nilam, apakah mereka tetap akan memendam perasaan tanpa pernah saling mengetahui ?? Apakah mereka dapat bersatu dalam pernikahan??

Aku mencintai dia, aku hanya tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Jadi , kubiarkan saja diriku terluka, tanpa tahu cara menyembuhkannya (Nilam : 163)

Baca lebih lanjut

Iklan

23 Komentar

Filed under Blogtour-Giveaway, Dar Mizan, Novel Religi, Penerbit Mizan, Review Buku