Review : SANG PANGERAN dan Janissary Terakhir

cover sang pangeran

Judul Buku      : Sang Pangeran dan Janissary Terakhir
Penulis             : Salim A Fillah
Penerbit           : Pro-U-Media, Yogyakarta
Cetakan I         : November 2019
ISBN                  : 978-623-7490-06-7
Tebal                 : 632 halaman

Blurb

Kyai Gentayu berjingkrak, menaikkan kaki depannya sambil meringkik riang dan sesekali melonjak. Surainya berkibar terentak selaras dengan tapak-tapaknya yang berkecipak. Dengan kepala mendongak, sang penunggang tetap dapat duduk tegak. Lelaki berperawakan tinggi lagi kacak itu tampak seperti sedang menari tandak, Gerak tubuhnya melenggak sesuai lenggok tunggangannya yang rancak. Di sekeliling kuda yang menjejak-jejak,, para pengawalnya seirama berlari hingga tombak-tombak di tangan mereka turut meliuk bagai Pusaran Ombak.

“Lihat Paman! Lihat sedulur sekalian!” seru Sang Pangeran yang tiba-tiba memutar kendali kudanya sambil mengacungkan tangan ke arah Puri dan Masjid yang dikerumuk api. “Kediaman kita telah terbakar!” Dan tiada lagi tersisa tempat bagi kita di atas Bumi ini! Maka mari kita semua mencari temapt untuk diri kita di sisi Gusti Allah!”

“Kami bersama Anda, Kangjeng Pangeran! Pejah gesang fi sabilillah!”, sambut para pengikut.

“Dan demikian pula kalian, para Janissary terakhir?”, tanyanya meminta penegasan disela ringkik Gentayu yang telah hendak berpacu namun dikekang.

“Tentu, Pangeran… Kita adalah kaum, yang apabila bumi menyempit bagi kita, maka langit yang akan meluas untuk kita! Hiyaaaa!”, seru Nurkandam Pasha sambil melecut kudanya. Sang Pangeran tersenyum mantap, dan sekali dia lepaskan kekang Gentayu, dua lompatan kuda itu senilai tiga kali loncatan kawanannya.

“Hiyaaa… Hiyaaa…”, serempak yang lain turut berpacu dan turangga-turangga terbaik dari Tergalreja itu berlari ke arah terbenamnya mentari sebelum membelok ke selatan menyusur tepian Kali Bedhog.

“Maktuub..!”, Katib Pasha yang ada di barisan belakang berbisik dengan memejam mata sambil mengusap surai tunggangannya dan menunduk khusyu’. Sejak senja yang gerah, Rabu 5 Dzulhijjah 1240 Hijriah, salah satu perang sabil paling berdarah di Nusantara itu telah pecah.

 

Buku setebal 632 halaman, berhasil saya selesaikan dalam perjalanan naik kereta Jakarta-Kebumen,kurang lebih 7 jam.  Setelah sebelumnya, baca di rumah selalu terdistraksi. Kisah dalam buku ini benar-benar menghipnotisku, sehingga tidak menyadari kalau sudah tiba di akhir halaman.

Kisah ini diawali dengan setting lokasi Puri Tegalrejo tempat kediaman pangeran Diponegoro pada tahun 1825, yang bersiap-siap meninggalkan tempat yang sudah mulai terbakar dengan didampingi dua jannisary terakhir Nurkandam Pasha dan Basah Katib.

Cerita bergulir ke masa lalu pada tahun 1808 di Sublime Porte , Istanbul. Kota ini menjadi latar belakang dari Nurkandam dan Basah Katib. Dalam bab tersebut diceritakan latar belakang Basah Katib dan Nurkandam Pasha, yang merupakan putra dari Sultan Mustafa Pasha dan berakhirnya tentara militan Turki, Jannisary. Berakhirnya kejayaan Jannisarry Turki merupakan awal dari kebangkitan kejayaan islam di Nusantara.

Ada tiga puluh bab, ditambah prolog dan epilog  dalam buku ini, dimana setiap bab berganti setting dan alur, sehingga pembaca perlu jeli melihat keterangan tempat dan waktu pada setiap awal bab, karena penulis menggunakan alur maju mundur dan juga berganti-ganti sudut pandang. Mungkin ini yang terkadang sedikit menguji memory saya untuk mengingat cerita terkait sebelumnya.

Saya sangat salut dengan penulis yang menggambarkan dengan detail setiap tokoh,karakter/watak,  tempat dan kejadian-kejadian yang secara garis besar berdasarkan sejarah dan banyak tidak terungkap dalam pembelajaran kita di sekolah. Pastilah penulis melakukan banyak riset untuk menulis ini. Saya sulit membedakan mana yang sejarah dan mana yang fiksi, karena cerita ini dikemas dengan apik

Ada satu hal yang saya baru mengerti dan mungkin tidak dipelajari saat sekolah, yaitu asal muasalnya perang Diponegoro. Perang selama 5 tahun , memakan  korban 200ribu orang Jawa dan membuat bangkrut pemerintah Hindia Belanda saat itu. Dari buku ini saya mengerti bahwa awalnya dipicu karena adanya permasalahan di lingkungan Keraton Yogyakarta, ketidakadilan Patih Danurejo dan Wironegoro kerabat Pangeran Diponegoro terhadap rakyat. Pangeran Diponegoro menghukum keduanya tentang ketidakdilan yang mereka perbuat. Dan merasa tidak terima dengan hal tersebut, Patih Danurejo mendekati Belanda untuk membalas dendam kepada Pangeran Diponegoro.

Saya tidak akan menceritakan lebih lanjut tentang cerita dalam buku ini, kalian akan lebih puas dengan membaca langsung. Dari buku ini banyak yang dapat saya pelajari, bukan hanya wawasan tentang sejarah perang Diponegoro, pasukan elit dari Turki atau tentang sepak terjang tentara Belanda , namun nilai-nilai islami yang ada dalam cerita ini sangat bermanfaat, melalui dialog antar tokoh /ulama seakan pembaca sedang menjadi santri saat membaca dialog-dialog ini.

Dari unsur tata bahasa dan sastra, kita juga dapat banyak pelajaran dari buku ini, penggunaan bahasa Jawa, bahasa Belanda, menambah kosa kata pembaca, meski mungkin pembaca harus melihat foot note untuk memahaminya. Kidung jawa dalam buku ini seperti Sekar Maskumambang , yang waktu kecil saya belajar dengan guru bahasa jawa tanpa tahu maknanya , disini saya jadi lebih mamahami artinya.

Sebagai orang jawa, yang terkadang lupa dengan bahasanya sendiri (karena sebagian umur dihabiskan di Jakarta) buku ini sangat relateble dengan saya, bukannya narsis, tapi ini menambah kepercayaan diriku, makin bangga dengan budaya sendiri 🙂

Meskipun buku fiksi sejarah perang, buku ini tidak hanya membahas strategi perang saja tetapi juga dilengkapi cerita romance, kisah kasih,persahabatan. Memang tidak lengkap kalau sebuah buku fiksi tidak melibatkan cerita kisah kasih di dalamnya. Saya sebagai pencinta romance tentu menyukai hal ini. Dan ada unsur komedinya juga yang sedikit menyegarkan cerita ini dibawakan cukup menghibur oleh dialog dari para ajudannya Pangeran Joyo suroto dan Banteng Wareng.

Buku fiksi sejarah yang lengkap dan recomended untuk dibaca oleh siapapun dan usia berapapun. Menurut penulis buku ini merupakan pembuka dari Tetralogi Sang Pangeran yang mengupas kisah dakwah dan perjuangan dalam sejarah Nusantara. Dengan membaca buku ini saya akan membaca buku selanjutnya yang akan ditulis yaitu tentang hikayat dari masa Sunan Kalijogo, Sultan Agung Hanyakrokusumo dan Sultan Hamengkubuwono I.  Semoga penulis segera menulis seri selanjutnya.

Diterbitkan oleh siti nuryanti

I'm wife.. a mom with 2 kids and employee full time...but i always have time to read a books

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: