Resensi : MERAWAT INDONESIA

Radar sampit, 24 juni 2018

MEMUMPUK NASIONALISME DENGAN BELAJAR SEJARAH

 

Judul Buku      : Merawat Indonesia; Belajar dari Tokoh dan Peristiwa
Penulis             : Lukman Hakiem
Penerbit           : Pustaka Al-Kautsar
Cetakan I        : 2017
ISBN               : 978-979-592-789-1
Tebal               : 328  hal

Peresensi       : Siti Nuryanti

 

Presiden Soekarno pernah berkata bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri. Sejarah adalah serpihan kenangan masa lalu tentang sebuah peristiwa dan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya. Pada serpihan peristiwa masa lalu banyak mengandung pelajaran yang bermanfaat untuk membangun masa depan. Namun seringkali orang terlena dengan masa sekarang dan melupakan sejarah. Pada masa sekolah, salah satu pelajaran yang kurang menarik bagi siswa adalah pelajaran sejarah. Mata pelajaran sejarah memang identik dengan menghafal nama-nama tokoh, tempat dan waktu terjadinya peristiwa. Apabila cara penyampaian materi guru hanya menyuruh siswa untuk membaca atau menghafal tentu sangat membosankan, perlu inovasi dan kreatifitas guru agar pelajaran sejarah menjadi menarik dan siswa dapat mengambil manfaat dari peristiwa masa lampau tersebut.

Negeri ini menyimpan banyak pelajaran dari kisah perjuangan masa lalu para tokohnya, tentang prinsip hidup,semangat dan kesederhanaan yang semuanya menjadi faktor penting dalam terbentuknya NKRI.

Buku Merawat Indonesia; Belajar dari Tokoh dan Peristiwa berisi kisah menarik yang penuh keteladanan dari para tokoh pendiri bangsa dan peristiwa penting dalam sejarah yang tidak banyak diketahui masyarakat umum.

Salah satu peristiwa bersejarah yang jarang diketahui khalayak ramai yaitu terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setiap tanggal 17 Agustus diperingati sebagai hari ulang tahun Kemerdekaan Indonesia, karena pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan Kemerdekaan. Namun tidak banyak mengetahui bahwa tanggal 17 Agustus 1950 adalah lahirnya NKRI. Setelah merdeka pada tahun 1945, jalan menuju pemindahan kekuasaan memerlukan waktu, pemikiran dan keringat serta darah yang tidak sedikit. Sebelum terbentuk NKRI, negara ini berbentuk federasi yang dikenal dengan Republik Indonesia Serikat (RIS). Negara RIS terdiri dari Republik Indonesia, Negara Kalimantan dan Negara Indonesia Timur. Setelah melalui serangkaian perjanjian, pada tanggal 17 Agustus 1950 negara-negara bagian termasuk RI melebur menjadi satu negara baru bernama NKRI. Jadi apabila kita mengetahui sejarah, seharusnya pada saat memperingati hari kemerdekaan secara implisit juga memperingai hari terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Peristiwa lainnya yang tidak kalah penting dengan perjuangan militer maupun diplomasi dalam mencapai kemerdekaan yaitu “perang uang “.  Perang uang inilah oleh pakar sejarah politik, Fachry Ali (2011), disebut “mengontrol mata uang nasional sebagai senjata politik (hal : 76). Penggagas mata uang nasional adalah Mr Sjafruddin Prawiranegara, saat itu menjabat sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia Serikat (RIS). Sjafruddin mengusulkan kepada Bung Hatta untuk mengganti uang Jepang dengan mata uang Republik Indonesia. Pada awalnya Bung Hatta menolak dengan alasan dapat dituduh melakukan pemalsuan uang, namun Sjafruddin berargumen bahwa mata uang adalah atribut kemerdekaan negara. Maka pada tanggal 30 Oktober 1946 Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) mulai diedarkan dan dinyatakan sebagai alat pembayaran yang sah.

Buku ini juga menceritakan  tokoh – tokoh pendiri bangsa secara lebih personal. Kesederhanaan dan ketulusan mengabdi kepada bangsa tanpa terlintas untuk memperkaya diri dan keluarga menjadi ciri yang melekat pada para pemimpin dan pejuang pendahulu kita. Seperti dikisahkan Sutan Sjahrir yang menjual mesin jahit untuk biaya hidupnya. Sutan Sjahrir adalah Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) dan Perdana Menteri Republik Indonesia di awal kemerdekaan. Mohammad Hatta, wakil presiden RI pertama yang sampai akhir hidupnya tidak mampu membeli sepatu yang diinginkan. Ulama dan diplomat Haji Agus Salim berpindah-pindah rumah kontrakan, bahkan tidak dapat membeli kain kafan yang bagus ketika anaknya wafat. Mohammad Natsir, pulang ke rumah memilih menumpang sepeda supirnya daripada mobil dinas setelah sesaat menyerahkan mandatnya sebagai Perdana Menteri kepada Presiden Soekarno. (hal : 167)

Masih banyak tokoh dan peristiwa lainnya yang disuguhkan dalam buku ini ada Buya Hamka, Kasman Singodimedjo, Yunan Nasution, KH ahmad Sanusi, KH Wahid Hasyim, Mohammad Roem dan sebagainya.

Buku sejarah yang dikemas dengan bahasa ringan disertai foto peristiwa dan foto para tokoh bangsa, membuat pembaca dapat larut dalam kisahnya. Buku ini recomended dibaca oleh siapa saja, khususnya generasi muda sebagai pewaris tongkat estafet perjuangan bangsa.

*) Tulisan ini dimuat di Radar Sampit, Minggu 24 Juni 2018

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Dalam Negeri, Non Fiksi, Resensi Media Cetak, Review Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s