Resensi: Gus!Sketsa Seorang Guru Bangsa

Gus! Rabu,25 April 2018

ABDURRAHMAN WAHID DIMATA PARA TOKOH

Judul Buku      : Gus!Sketsa Seorang Guru Bangsa
Editor               : Alamsyah M Djafar & Wiwit R Fatkhurrahman
Penerbit          : PT Elex Media Komputindo
Cetakan I        : 2017
ISBN                : 978-602-04-4792-2
Tebal               : 202  hal

Peresensi         : Siti Nuryanti

 

“Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu”  (Abdurrahman Wahid)

 Bulan Desember tahun 2017 adalah tepat sewindu Gus Dur wafat, namun kisah dan gagasan-gagasannya masih terus diperbincangkan. Berbagai diskusi ilmiah diadakan di berbagai tempat, dan bermunculan gerakan masyarakat yang berkomitmen meneruskan serta memperjuangkan gagasan-gagasan Gus Dur. Sikap simpati terhadap kemanusiaan adalah salah satu hal yang menjadi perhatian Gus Dur terutama terutama terhadap kelompok minoritas yang tidak berdaya. Gusdur tidak memandang akidah atau keyakinan seseorang ketika memperjuangkan kelompok minoritas yang tertindas. Hal tersebut membuat lingkungan pergaulan Gus Dur luas dan beraga. Keberagaman adalah salah satu gagasan penting dari gagasan Gus Dur.

Testimoni dan kesaksian terhadap pribadi Gus Dur telah banyak dibicarakan oleh berbagai tokoh, baik tokoh nasional maupun internasional. Buku berjudul Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa menghadirkan testimoni yang belum banyak terungkap. Ada dua puluh narasumber yang memberikan testimoni tentang pribadi Gus Dur, dari mulai Kiai, tokoh lintas agama, budayawan, seniman, ilmuwan, aktivis hingga jurnalis. Salah satu anggota keluarga Gus Dur juga terlibat dalam pembuatan buku ini, yaitu Yenny Zannuba Wahid yang memberikan kata pengantar dengan judul Membela yang Tak Berdaya. 

Para penulis yang berjumlah 20 ini telah bertemu dan berinteraksi langsung dengan Gus Dur sehingga mampu menuliskan pengalamannya dengan apik dan membawa pembaca untuk larut dalam kisah-kisahnya. Dari kalangan seniman ada Dorce Gamalama, Inul Daratista dan Dhani Ahmad. Bagi Inul sosok Gud Dur seperti ayahnya sendiri, yang memberikan nasihat selayaknya kepada anak. Salah satu nasihat Gus Dur,  agar Inul menabung, baik tabungan harta maupun ilmu dan menyanyikan lagu kasidah. Nasihat Gus Dur, dilaksanakan Inul Daratista yaitu menyanyikan lagu religi bertajuk As-Sholatu pada tahun 2006. Hal yang senada juga dirasakan Dorce Gamalama yang menganggap Gus Dur seperti bapak bagi kaum waria. Pada saat masyarakat umum mencaci keberadan waria Gus Dur justru menghargai hak-hak minoritas kaum waria.

Testimoni dari kalangan kiai antara lain Habib Saggaf bin Mahdi (Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Iman Parung), KH Muhammad Yusuf Chudlori (Pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang) dan KH.Imam Ghazali Said (Pengasuh pesantren Mahasiswa An-Nur, Wonocolo Surabaya). Ada pesan khusus Gus Dur kepada para kiai menjelang pelengseran dirinya sebagai presiden “ Kalau tawakal, Anda berani dan layak Hidup” (hal 172). Kalimat tersebut teruji, setelah lengser, Gus Dur semakin berani menjalani kehidupan dan tawakal menjadi sumber kekuatannya. Habib Saggaf adalah salah satu kiai yang dapat membujuk Gus Dur ketika sakit untuk cuci darah, pada saat keluarga dan habib lainnya tidak berhasil membujuk. Bagi Habib Saggaf, Gus Dur ibarat Abu Nawas yang dicintai Allah dan rakyatnya. Cara menasihati dengan gaya yang ringan dan kocak membuat yang dinasihati tidak merasa tersinggung namun nasihatnya merasuk ke dalam sanubari.

Mitsuo Nakamura adalah profesor emeritus bidang Antropologi pada Universitas Chiba yang mengenal secara langsung Gus Dur pada saat melakukan penelitian di Indonesia tentang perkembangan islam. Gus Dur dan Ibu Sinta diundang dalam program “Asian Intellectual Exchange” yaitu pertemuan pejabat tinggi Deplu Jepang , para pemimpin partai politik, pengusaha dan lain-lain. Dalam perjalanan di Jepang Mistuo mendampingi Gus Dur keliling kota Kamakura. Mistuo terkesan dengan pengetahuan Gus Dur yang melampui pengetahuannya tentang sejarah kota kuno tersebut. Gus Dur juga mengingat betul detail-detail novel Shogun dan film KurosawaRan. Bagi Mitsuo, Gus Dur adalah teman dan guru. Sebagai penghargaan terhadap Gus Dur, Professor Mitsuo menerbitkan kembali buku The Crescent Arises Over TheBanyan Tree dengan perkataan “ In memory of Gus Dur Who Has Widened My View On Humanity” (hal : 111).

Testimoni lainnya yang dituliskan dalam buku ini antara lain dari budayawan – saastrawan Ahmad Tohari, Jaya Suprana, Al-Zastrouw dan Acep Zamzam Noor.  Dari kalangan Jurnalis ada Don Bosco Selamun dan Myra Ratna, tokoh lintas agama; Frans Magnis Suseno dari kalangan aktivis seperti Anis Hidayah dan Ben Subrata.

*)Dimuat di Koran Jakarta, Rabu 25 April 2018

Gus!sketsa guru bangsa.jpg

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Non Fiksi, Penerbit Elex Media, Resensi Media Cetak, Review Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s