IKAN-IKAN MATI

IKAN-IKAN MATI

PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP PERILAKU MANUSIA

Judul Buku      : Ikan-Ikan Mati
Penulis             : Roy Saputra
Penerbit          : Media Kita
Cetakan I         : 2017
ISBN                 : 978-979-794-543-5
Tebal                : vi + 318 hal

“ The good thing is, I don’t have to prove anything to anyone in social media.

Kinda think life is easier that way” (hal : 131)

 Di zaman sekarang, hampir semua orang mempunyai media sosial seperti facebook, twitter, instagram, path, whatsaap, line dan sebagainya. Internet telah menjadi kebutuhan pokok yang tidak kalah penting dengan makanan atau pakaian. Benda ajaib yang dikenal dengan smartphone tidak terlepas dari genggaman. Kita dapat melihat dalam berbagai kesempatan, di stasiun, terminal, kendaraan dan di tempat lainnya orang selalu menunduk sambil bermain dengan smartphone masing-masing. Dengan adanya media sosial, arus informasi dan komunikasi berjalan sangat cepat tetapi di sisi lain perilaku masyarakat juga mengalami perubahan. Kita sering melihat media sosial menjadi medan tempur antar golongan, mulai dari mencaci, menghina,menyindir dan bahasa negatif lainnya. Masyarakat mudah sekali tersulut emosinya dengan berita dari media sosial yang belum tentu kebenarannya. Dalam berbagai diskusi di televisi, menyebutkan bahwa kebhinekaan Indonesia sedang terancam.

Fenomena dan keresahan sosial tersebut diangkat dalam Novel Ikan-Ikan Mati. Dalam buku ini menceritakan kota Jakarta di masa datang, belasan tahun dari sekarang. Tokoh utama dalam buku ini adalah Gilang Kusuma yang menjabat sebagai corporate relationship manager di bank milik pemerintah. Sebuah bank yang memfokuskan bisnisnya pada penyaluran kredit level korporasi. Seperti golongan menengah pada umumnya Gilang selalu berpenampilan rapi,  mengikuti perkembangan trend dan teknologi. Ketika ada peluncuran smartphone baru, Gilang juga mengganti gadgetnya dengan yang model baru atau ketika ada heboh discount kafe baru Gilang akan berbondong-bondong mendatangi bersama teman-temannya. Gilang dan teman kantornya  bernama Jaelani, Latheef dan Bobby tidak pernah terlepas dari gadgetnya yang tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi saja. Smartphone mereka dilengkapi dengan fitur IKA (Indonesia Kindness App). Aplikasi penjaga harmoni, penyaring suara negatif di ranah digital, penghapus kisruh di dunia maya  (hal 140 ). Aplikasi ini mendeteksi segala sesuatu yang akan diupload di sosial media, apabila content tidak mengandung SARA atau hal negatif, maka dapat terpublikasi. Dan orang yang telah upload hal-hal positif akan mendapat poin. Demikian juga sebaliknya, apabila komunikasi dengan bahasa negatif, aplikasi IKA akan mendeteksi dan secara otomatis poin berkurang. Gilang dan teman-temannya selalu mengumpulkan poin dengan rajin upload foto-foto atau postingan yang positif ke facebook. Poin-poin tersebut dapat ditukarkan ke merchant-merchant tertentu, seperti kafe, bioskup, kelab malam, e-commerce dan transportasi publik. Perilaku Gilang dan teman-temannya dilakukan oleh hampir semua orang di Jakarta.

“Memang setiap harinya, manusia selalu dihadapkan dengan belasan pilihan yang bisa berbuah pengalaman dan pembelajaran. Namun di zaman semaju ini, biarlah beberapa proses pengambilan keputusan itu diambil alih oleh aplikasi” (hal: 224)

Ada sosok Citra, teman SMA Gilang sebagai tokoh yang berbeda dengan perilaku masyarakat pada umumnya.Citra tidak mempunyai telepon pintar terbaru atau rajin memberikan postingan di media sosial atau mengikuti trend. Citra menyebut perilaku Gilang dan teman-temanya dengan sebutan ikan-ikan mati.

“ The real question is, “why do we have to be the same? Kita bukan ikan mati. Yang ngambang dan hanyut terbawa arus.” (hal : 132)

Pemahaman Citra tentang perilaku manusia tersebut menjadi bahan pertimbangan tersendiri bagi Gilang. Terlebih lagi saat Gilang menjadi salah satu tim pengembang IKA, ia menemukan beberapa keganjilan dalam proyek tersebut. Gilang berdiskusi dengan Jaelani tentang temuannya, dan berusaha membantu Gilang untuk mengungkap kasus tersebut. Gilang mulai membenarkan pemikiran Citra. Gilang menganggap bahwa aplikasi IKA justru mematikan sisi manusia, keputusan-keputusan yang dibuat selalu berdasarkan IKA, seperti contohnya saat menentukan makanan yang akan dimakan, tergantung pada kafe yang memberikan discount terbesar dari IKA, bukan pada rasa makanan atau suasananya. Selain itu, proyek IKA juga memberikan keuntungan besar bagi sebagian kelompok tertentu, terutama produsen dari telepon pintar dan merchant yang kerjasama dengan IKA.

Novel ini mengangkat dan mengkritisi perubahan perilaku manusia sebagai dampak kemajuan media sosial. Gaya bahasa yang ringan dan kocak membuat pembaca menikmati cerita ini sampai akhir. Pembaca juga sesekali dibuat tersenyum terhadap sindiran-sindiran halus yang cerdas dan mengena sasaran terhadap fenomena yang sekarang terjadi. Ide cerita yang mengambil tema keresahan generasi millenial di masa kini atau kemungkinan masa depan, sangat tepat. Bukan tidak mungkin gambaran dalam novel tersebut dapat terjadi di masa depan yaitu ketika masyarakat sangat teradiksi dengan gadget. Sebuah novel yang ringan tetapi tersirat pesan moral yang patut untuk direnungkan. Semoga generasi saat ini tidak menjadi ikan-ikan mati.

 

*) Tulisan ini dimuat di Koran Radar Sampit Edisi Minggu 17 Desember 2017

 

 

Iklan

3 Komentar

Filed under Penerbit Media Kita, Resensi Dimuat Media Cetak, Review Buku

3 responses to “IKAN-IKAN MATI

  1. Wow keren dan merasa terciduk. Salam kenal 🙂

    Suka

  2. Hastira

    makasih resensinya, belumbaca

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s