(Blogtour-Giveaway) MENGGAPAI MENTARI

Judul Buku : Menggapai Mentari

Penulis  : Murid Mentari Intercultural School, Jakarta

Ilustrasi Cover : Angela Steffany Budi

Ilustrasi dalam : Murid FunArt Semarang

Editor : Karyna Pramesthi

Penerbit : Funtastic-M&C Gramedia

Cetak Pertama : Oktober 2017

ISBN : 9786024286552

Tebal Buku : 167 hal

Blurb

Langit Indonesia sedang kelam. Orang-orang bermuram durja. Pasti karena isi surat kabar dan televisi yang membuat hati gundah. Banyak yang tidak lagi percaya, mentari bisa terbit lagi di langit yang gelap.

Tapi, anak-anak bangsa berlarian, bahu-membahu, menggapai sang mentari. Mentari ini yang akan mereka taruh di langit, supaya cahayanya bisa kembali menerangi seluruh Indonesia. Sehingga, terlihat lagi, Indonesia yang penuh warna, harapan dan cerita.

Inilah persembahan kisah untuk Bangsa Indonesia

Buku Menggapai Mentari yang ditulis oleh 18 (delapan belas) murid Sekolah Dasar Mentari Intercultural School menepiskan anggapan bahwa anak-anak Indonesia hanya bisa bermain gadget atau main game. Anak-anak ini membuktikan bahwa mereka juga peduli dengan berbagai isu sosial yang ada di negeri ini. Buku ini berisi delapan belas cerita yang mengangkat tema keberagaman, toleransi, nasionalisme, persahabatan dan makna pancasila di mata anak-anak.  Sebuah tema yang sebenarnya tidak ringan untuk anak-anak, tetapi mereka mampu menuliskan dengan bahasa sederhana dan ringan sehingga mudah dicerna oleh anak-anak usia SD. Diperkaya dengan ilustrasi yang indah, membuat buku ini makin menarik.

Saat membaca buku ini, saya kagum dan bangga tidak menyangka ide cerita ini ditulis oleh anak-anak. Mereka paham bagaimana makna pancasila melalui cerita yang ditulis oleh SYAHIRA NUR RANIA dengan judul Kita Pancasila dan Menjelajah Pancasila di Sekolah oleh SHERAZADE NURUL AMIRA PRASETYO.  Kedua penulis ini berusaha menyampaikan bahwa memaknai Pancasila itu bukan hal yang sulit, Pancasila bukan hal yang ada di awang-awang. Sherazade memberi contoh dengan melihat lingkungan sekolahnya, dari sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa sampai dengan sila ke-5 dapat dilihat dalam lingkungan sekolah. Pancasila ada dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kisah Tak Kenal Maka Tak Sayang oleh DESNA DIANDRA ASMORO dan Sahabatku, Siti oleh CHARLIZE ALESSANDRA HALIM menceritakan perihal toleransi antar umat beragama. Kisah persahabatan yang tidak mengenal perbedaan agama, seperti Siti yang beragama islam dan Mei Lin beragama Katholik.

Asas demokrasi juga dikisahkan melalui cerita Sama Saja,Kan ! karya ANYA IVANKA PUTRI SIREGAR yang menceritakan perihal pemilihan ketua kelompok belajar, bahwa siapa saja, laki-laki atau perempuan dapat menjadi pemimpin, asalkan mampu dan telah dipilih secara musyawarah.

Ada juga kisah tentang seorang anak perempuan yang berusaha meraih impiannya menjadi pemain sepakbola untuk membanggakan sekolah dan bangsanya , ini dikisahkan dalam cerita Keputusan Sendiri oleh AUBRIEL NABABAN

Masih banyak kisah menarik lainnya, yang diceritakan dalam buku ini. Para penulis cilik ini mampu membuat ide cerita dari keseharian rakyat Indonesia. Dikemas dengan bahasa yang sederhana dan ringan. Mereka menyadari  bahwa Indonesia memang berbeda suku, agama, budaya dan itu adalah sesuatu yang indah. Semoga buku ini menginspirasi anak-anak Indonesia dan masyarakat pada umumnya untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, menghargai perbedaan.

Buku ini sangat recomended untuk dibaca semua orang, semua umur, bukan hanya anak-anak. Orang dewasa yang membaca cerita ini mungkin akan merasa tersindir atau ditegur halus oleh anak-anak pintar ini.  Terkadang kita memang harus belajar dari anak-anak.

Tertarik untuk membaca buku ini….?? Kami akan membagikan buku Menggapai Mentari ini secara gratis untuk 2 orang…

 

ITS GIVEAWAY TIME

blogtour giveaway

Persyaratannya :

  1. Follow blog ini dengan cara klik tombol “W” di kanan atas atau lewat Email

  2. Follow dan Like akun sosial media Funtastic M & C  Gramedia:
    Instagram: @Funtasticmnc
    Fan Page Facebook: Funtastic m&c

  3. Follow social mediaku Twitter : @NelyRyanti, dan Instagram (optional)  : @yanti_chanel

  4. Share link giveaway ini dengan mention twitterku  @NelyRyanti 

  5. Sertakan Hastag #MenggapaiMentari

  6. Pertanyaan :

    Bagaimana menanamkan jiwa nasionalis  pada anak?

  7. Tulis jawaban kalian pada kolom komentar dibawah ini dengan menyertakan Nama, Akun twitter, Email, dan Linkshare 

  8. Giveaway ini hanya berlaku bagi kalian yang memiliki alamat pengiriman di Indonesia

  9. Periode giveaway ini dari tanggal 06 – 13 November 2017

  10. Pengumuman pemenang akan dilakukan maksimal tiga (3) hari setelah giveaway berakhir

  11. Ada 2 orang yang akan mendapatkan Buku Menggapai Mentari dari Penerbit

Goodluck…..

 

PENGUMUMAN PEMENANG

SELAMAT KEPADA :

  1. Sandra Hamidah
  2. Leila Rizki Niwanda

Kirimkan biodata dan alamat ke email : sitinuryanti@yahoo.com , subject: Pemenang Menggapai Mentari

paling lambat tiga (3) hari setelah diumumkan

Bagi yang belum beruntung kalian masih dapat mengikuti giveaway di blog littleparadox

Terima kasih

 

8 Komentar

Filed under Blogtour-Giveaway, Dalam Negeri, Penerbit Gramedia, Review Buku

8 responses to “(Blogtour-Giveaway) MENGGAPAI MENTARI

  1. sandraartsense

    Nama: Sandra Hamidah
    Twitter: @Sandra_artsense
    Domisili: Bandung
    Link share: https://mobile.twitter.com/Sandra_artsense/status/927357585447034880

    Cara saya dan suami menanamkan jiwa nasiomalis pada anak adalah dengan berbahasa Indonesia yang baik, tidak di cadel-cadel, memperdengarkan lagu anak dan menyanyi bahasa Indonesia, membacakan dongeng anak Indonesia, sebelum keluar negeri, liburan dulu di wisata budaya negeri sendiri karena dengan paham sejarah dan budaya bangsa, anak akan bamgga pada tanah airnya, kalau bahasa nya sudah bagus, baru deh belajar bahasa daerah dan asing, intinya kuasai dulu berbahasa Indonesia agar dia tau identitasnya sebagai anak nusantara;)

    Suka

  2. Nama: artha
    Akun twitter: @artha_amalia
    Email: arthamaula77@gmail.com
    Linkshare : https://mobile.twitter.com/artha_amalia/status/927877974459785216
    Menanamkan jiwa nasionalis dengan mengajarkan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Dengan banyak kosa kata, anak akan lebih menyukai bahasanya. Juga mengajarkan lagu2 kebangsaan seperti:: Indonesia Raya, Bagimu Negeri, Bendera Kita dan lain sebagainya. Saat 17 Agustus bukan hanya menyemangati anak2 agar menang lomba2 saja tetapi juga mengisahkan bagaimana kemerdekaan bangsa ini diraih para pahlawan kita. Pun mengingatkannya untuk lebih hikmat ketika ikut upacara bendera tiap Senin, sebab itu juga salah satu cara menghargai jasa para pahlawan.

    Suka

  3. @HamdatunNupus

    Nama : Hamdatun Nupus
    Email : hamdatunnupus@gmail.com
    Akun Twitter : @HamdatunNupus
    Link Share : https://twitter.com/HamdatunNupus/status/928226944876822530

    Jawaban :
    Anak-anak akan cenderung lebih banyak mencontoh perkataan dan perbuatan orang-orang sekitarnya, dan orang tua juga keluarga adalah yang paling dekat dengan mereka. Mulailah dengan hal-hal yang sederhana, seperti bertutur kata yang baik, menanamkan budi pekerti seperti “jangan buang sampah sembarangan” , “mengantrelah dengan sabar dan benar” , “Meminta dengan cara yang baik untuk hal-hal yang diinginkan” , “hormat kepada orang tua, kecup tangan kanan mereka” , “Mengajarkan arti terimakasih dan maaf”.

    Saya percaya nasionalisme itu bisa bangkit jika pemuda-pemudanya punya attitude yang baik juga mampu menjaga alam dengan baik. Bangsa kita dikenal dengan keramahan & sikap gotong royong nya. Nasionalisme seseungguhnya adalah cerminan polah yang kita perlihatkan ke khalayak ramai.

    Suka

  4. Jiwa nasionalis sesungguhnya tidak ditanamkan, melainkan ditumbuhkan. Potensi untuk mencintai hal-hal yang bersifat baik, termasuk negeri ini, sudah ada dalam setiap diri manusia. Yang perlu dilakukan agar jiwa tersebut bangkit dan tumbuh dengan baik adalah mengenalkan sejak dini tentang Indonesia pada anak. Sekarang sudah banyak media pembelajaran yang bisa dipakai sebagai alat bantu seperti buku-buku anak tentang keragaman suku dan budaya, juga video lagu-lagu daerah maupun perjuangan yang dirancang menarik. Tentu dalam menikmati media ini juga sambil didampingi oleh orangtua ya, agar sekalian terbangun diskusi yang intens. Kisah-kisah kepahlawanan melawan penjajah juga bisa disampaikan dengan bahasa yang sederhana. Anak-anak juga sering kami ajak mengunjungi museum-museum yang menampilkan sejarah perjuangan maupun budaya Indonesia, agar mereka (sekaligus kami belajar juga, sih) mendapatkan gambaran lebih jelas.
    Nama: Leila Rizki Niwanda
    Akun twitter: @LNiwanda
    Email: leila.niwanda@gmail.com
    Link share: https://mobile.twitter.com/LNiwanda/status/928873372099866624

    Suka

  5. Bukunya bagus mbak. Semoga anak2 banyak yang punya.
    Anak2 generasi penerus bangsa emang sebaiknya diajari sedini mungkin utk memahami perbedaan dengan tetap meyakini dengan baik kepercayaan yg dianutnya ya TFS

    Suka

  6. Nama : Ririn
    Twitter : @ririnkgs
    Email : chintyaririn2@gmail.com

    Menumbuhkan rasa nasionalisme sejak dini, kalau kami senam pagi menggunakan musik lagu daerah. Ketika sering mendengarkan mereka akan mengenal lagu daerah. Selain itu, kami selalu mengadakan upacara setiap hari Senin. Semoga aku beruntung. Buku ini nnti akan saya sumbangkan ke perpus untuk di baca sama siswa yang lain stelah saya membaca buku ini 😀

    Suka

  7. Nama: Aulia
    Twitter: @nunaalia
    Email: auliyati.online@gmail.com
    Linkshare: https://twitter.com/nunaalia/status/929222181061500928

    Bagaimana menanamkan jiwa nasionalis pada anak?

    Karena anak-anak lebih banyak menyukai hal-hal yang menggembirakan, menurutku menanamkan jiwa nasionalis pada anak akan lebih efektif dengan belajar menyanyi lagu-lagu perjuangan seperti Indonesia Raya, GAruda Pancasila, Berkibarlah Benderaku dan lagu nasional lainnya yang beat-nya gembira. 😀

    Suka

  8. Nama : Dinan Wiyantika
    Twitter : @dinan_wiyantika
    Email : dinanwiyantika08@gmail.com
    Link Share : https://twitter.com/dinan_wiyantika/status/929692520379965441
    Jawaban :
    Pada dasarnya anak-anak itu seperti kaset yang masih kosong, mereka akan menirukan semua hal yang mereka dengarkan maupun lihat. Jika merekam hal-hal yang negatif maka kaset itu akan memutar hal-hal yang kurang baik, sebaliknya jika kaset itu merekam hal-hal positif maka akan memutar suatu kebaikan. Maka dari itu sebagai orang tua yang menjadi tempat belajar paling utama harus memberikan contoh bagaimana cara berperilaku nasionalisme yang baik, bukan hanya di depan anak-anak mereka saja namun di belakang anak-anak mereka juga harus bersikap yang sama. Karena anak adalah cerminan dari orang tua.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s