(BLOGTOUR-GIVEAWAY) Habibie Ya Nour El Ain

Judul Buku: Habibie Ya Nour El Ain
Penulis : Maya Lestari GF
Penerbit : DAR! Mizan
Tebal Buku : 240 halaman
Cetakan Pertama: Desember 2016
ISBN : 978-602-420-298-9
habibie-2

Blurb

Barra Sadewa, anak SMA yang mengaku tidak percaya Tuhan, dipaksa kepala sekolahnya untuk mondok dua minggu di Pesantren Nurul Ilmi. Ia datang dengan segudang kebencian. Mengira pesantren itu adalah penjara yang lain lagi dalam hidupnya. Tepat saat ia memasuki gerbang pesantren dan mengira telah melakukan kebodohan terbesar dalam hidupnya, ia bertemu Nilam, putri pemilik pesantren yang pendiam dan sangat menjaga etika pergaulan. Dalam beberapa detik segalanya berubah. Bukan hanya bagi Barra, tapi juga Nilam. Pertemuan mereka hanya sekejap, tapi jejaknya membekas sepanjang usia.

Dalam pertemuan-pertemuan yang sebentar, Barra dan Nilam menyaksikan sulur-sulur nasib mereka saling bertemu dan membelit. Mereka bercakap tanpa suara. Rahasia-rahasia hati mereka hanya disampaikan melalui pandangan mata.Bertahun-tahun Barra dan Nilam hanya menuangkan cinta itu dalam surat-surat yang tersimpan. Sampai akhirnya, ketika Barra memutuskan untuk menyatakan segalanya, semua sudah terlambat.

“Aku hanyalah meteor yang terbakar tanpa sisa di atmosfernya. Aku takkan pernah jatuh ke buminya, takkan mungkin menciptakan kawah di jantungnya.”

Novel ini berlatar belakang kehidupan pesantren dengan segala peraturan dan pergaulan antara santri putra dan putri yang terbatas, tetapi jika ada sepasang manusia yang saling memendam perasaan cinta, itu adalah takdir mereka

Adalah Barra Sadewa seorang anak SMA yang dikenal sebagai anak yang nakal di sekolahnya, dan ia juga tidak pernah sholat, karena mengaku tidak percaya kepada Tuhan. Kepala Sekolah memaksanya untuk mondok dua minggu di Pesantren Nurul Ilmu, berharap Barra Sadewa berubah menjadi lebih baik dan mengenal Tuhan.

Masuk di pesantren selama dua minggu, telah membuat Barra berubah. Ia yang tadinya menganggap bahwa dunia tidak adil, bahwa Tuhan kejam karena dari kecil selalu hidup dalam penderitaan. Tetapi di pesantren itu ia merasa dihargai, disayangi, diterima apa adanya, bahkan pesantren yang penuh dengan sederetan aturan dan larangan, Barra tidak dipaksa mengikutinya. Ustad dan santri disana sangat ramah dan bersahabat, terutama Pemimpin Pesantren tersebut, Buya. Dengan kasih sayang layaknya seorang ayah kepada anaknya, Buya memberikan nasihat tanpa terkesan menggurui tetapi menyejukkan dan menenangkan

Kadang orang tak memerlukan banyak nasihat. Mereka cuma butuh melihat, bahwa mereka diterima dan disayangi. Kasih sayang adalah nasihat yang paling baik ( hal :115)

Saya sangat terkesan dengan sosok Buya, beliau sangat menyayangi santri-santrinya. Setiap santri yang selesai di Pesantren dan lulus kuliah, maka Buya akan menanam satu bunga mawar,sebagai tanda kelulusan mereka. Sehingga kebun di Pesantren penuh dengan bunga mawar.Ini secara tidak langsung, penulis mengkampanyekan global warming yaa..:) kalau setiap orang merayakan sesuatu dengan menanam pohon atau tanaman, pasti dunia tidak akan sepanas sekarang ..:)

Dan di Pondok Pesantren ini Barra bertemu dengan Nilam, salah satu santri yang merupakan putri pemilik Pesantren tersebut. Pertemuan yang hanya terjadi beberapa kali tanpa ada pembicaraan panjang, telah membuat keduanya jatuh cinta sedemikian dalam tanpa pernah terungkap satu-sama lain. Bahkan setelah bertahun-tahun kemudian

Cinta adalah sesuatu yang berada di luar dimensi manusia. Ia tidak berada dalam rencana-rencana atau cita-cita. Tidak punya ruang dan waktu. Cinta diciptakan dengan dimensi dan logikanya sendiri dan diciptakan Tuhan untuk masuk ke alam manusia dengan cara yang tidak mampu kita pahami (hal:14)

habibie-qoute

Barra dan Nilam saling menulis surat untuk mengungkapkan isi hatinya, tanpa pernah surat tersebut terkirim.Hingga setelah delapan tahun kemudian, ketika akhirnya Nilam menjalani proses ta’aruf dengan Haris, teman dari Abangnya. Saat menyadari bahwa semua sudah terlambat.

Novel ini ditulis dengan sudut pandang Nilam, tetapi sesekali penulis akan bercerita dari sudut pandang Barra, melalui surat-surat yang ditulisnya untuk Nilam.

habibie-qoute-1
Novel yang ditulis begitu indahnya dengan tata bahasa yang menghipnotis pembacanya untuk selalu membaca tiap detail kalimat yang terangkai indah. Saya sungguh menikmati novel ini, syarat dengan nilai filosofis. Gambaran kehidupan pesantren yang diceritakan penulis, begitu berbeda dengan bayanganku selama ini. Ada musik dan lagu-lagu modern yang boleh dimainkan,buku-buku tidak terbatas pada kitab ihya ulumiddin atau buku islam saja,tetapi ada banyak buku umumnya.Menurut saya ada yang kurang pas tentang metode di pesantren tersebut.Ada suatu waktu santri putra dan putri dapat bertemu yaitu saat di perpustakaan dan pelajaran pilihan, dimana saat belajar santri putra-putri di campur. Sepengatahuan saya, tempat tinggal dan tempat belajar santri putra biasanya selalu terpisah dengan santri putri.

Bagaimana kisah Barra dan Nilam, apakah mereka tetap akan memendam perasaan tanpa pernah saling mengetahui ?? Apakah mereka dapat bersatu dalam pernikahan??

Aku mencintai dia, aku hanya tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Jadi , kubiarkan saja diriku terluka, tanpa tahu cara menyembuhkannya (Nilam : 163)

ITS GIVEAWAY TIME

btga-habibie

Nah, saatnya yang ditunggu-tunggu, kalian sudah baca reviewnya kan…? Kali ini pemenang bukan hanya mendapatkan 1 buku Habibie Ya Nour El Ain  dari penerbit tetapi ada e-book kepenulisan dari penulis. Jadi ada 2 sekaligus hadiahnya….Seruu kann..!!

Persyaratannya :

  1. Follow blog ini dengan cara klik tombol “W” di kanan atas atau lewat Email

  2. Follow Twitter : @Maya Lestari GF @Penerbit Mizan @DarMizan @Nely Ryanti

  3. Follow Instagram (bagi yang punya) : @Pastelbooks.id

  4. Share link giveaway ini dengan mention ke @NelyRyanti dan @Maya Lestari GF

  5. Sertakan Hastag #HabibieYaNourElAin

  6. Pertanyaannya : Apabila orangtua kalian meminta melanjutkan sekolahnya ke Pesantren, bersedia atau tidak, apa alasannya?

  7. Tulis jawaban kalian pada kolom komentar dibawah ini dengan menyertakan Nama, Akun twitter, Email, Linkshare dan Domisili

  8. Giveaway ini hanya berlaku bagi kalian yang memiliki alamat pengiriman di Indonesia

  9. Periode giveaway ini dari tanggal 01 – 06 Maret 2017

  10. Pengumuman pemenang akan dilakukan selambat-lambatnya 2 hari setelah giveaway ini berakhir

Goodluck…..

Iklan

23 Komentar

Filed under Blogtour-Giveaway, Dar Mizan, Novel Religi, Penerbit Mizan, Review Buku

23 responses to “(BLOGTOUR-GIVEAWAY) Habibie Ya Nour El Ain

  1. Nama: haidaroh sholeh
    Twitter: @haidarohsholeh
    Link share: https://twitter.com/HaidarohSholeh/status/836747757020835840
    Domisili: Sidoarjo

    Jawaban:saya

    Suka

    • Nama: haidaroh sholeh
      Twitter: @haidarohsholeh
      Link share: https://twitter.com/HaidarohSholeh/status/836747757020835840
      Domisili: Sidoarjo

      Jawaban:
      Jika saya diminta oleh orangtua saya untuk melanjutkan pendidikan di pesantren saya akan langsung mengiyakan. Saya punya alasan tersendiri yakni untuk melatih kemandirian saya. Karena jujur saya kalau di rumah bawaannya manja alias kolokan.
      Selain itu saya ingin memperdalam ilmu agama, dan saya ingin bisa menguasai qiroah, saya ingin menjadi qoriah. Tentu jika saya di pesantren saya akan mudah untuk mengembangkan semua itu. Hidup pesantren akan terikat dengan aturan aturan yang lebih ketat daripada di rumah, tapi menurut saya itu bagus guna melatih kedisiplinan dan mental saya. Jadi jika saya diminta melanjutkan di pesantren, saya pasti siap. Apapun konsekwensinya.
      Terima kasih.

      Suka

  2. Fera Lestari

    Nama : Fera Lestari
    Akun Twitter : @feralestari95
    Email : feralestari95@gmail.com
    Link Share : https://twitter.com/feralestari95/status/836762823132733440
    Domisili : Aceh

    Jawaban :
    Jika orangtua meminta saya melanjutkan sekolah ke pesantren, saya akan bersedia. Banyak hal yang hanya bisa didapatkan di pesantren. Pesantren masa sekarang tidak hanya berfokus pada kitab-kitab klasik, tetapi sekarang sudah dimasukkan kurikulum pendidikan pengetahuan umum, atau yang lebih dikenal dengan istilah boarding school. Santri-santrinya selain mendapat pengetahuan agama, mereka juga akan mendapatkan pengetahuan umum yang tidak berbeda dengan sekolah lain pada umumnya.

    Selain pengetahuan, ekskul di pesantren juga tidak kalah menarik dengan sekolah umum. Ada ekskul pramuka, pencak silat, komputer, dll. Dan yang lebih istimewa adalah para santri menggunakan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari. Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Itulah alasan kenapa saya mau masuk pesantren, karena saya juga seorang alumni pesantren. Dan saya sangat beruntung orangtua saya dulu membuat keputusan yang bagus untuk saya.

    Kalau kita melihat dari segi peraturan, memang peraturan di pesantren super ketat dan disiplin. Tapi itu semua demi mendidik kita agar bisa mandiri dan bisa mengurus diri kita sendiri. Lagipula persahabatan di pesantren lebih akrab dan bermakna. Karena kita bersama teman-teman 24 jam sehari. Melakukan berbagai kegiatan bersama-sama. Bahkan senang dan susah dijalani bersama-sama.

    Tapi, hal yang sangat saya syukuri dengan masuk pesantren adalah saya belajar untuk menutup aurat dengan sempurna. Menjadi muslimah seutuhnya. Jauh dari pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan. Menjadi pribadi yang lebih anggun, mandiri, dan bisa menentukan pilihan saya sendiri karena orangtua sudah percaya dengan saya.

    Suka

  3. Insan GumelarCiptaning Gusti

    Apabila orangtua kalian meminta melanjutkan sekolahnya ke Pesantren, bersedia atau tidak, apa alasannya?
    Tidak mau. Bukan karena itu pesantren tapi karena sistem pesantren sama dengan asrama. Dan aku tipe orang yang tidak bisa diatur dengan jadwal yang sedemikian ketat. Tidak bisa sembarangan keluar sekolah, tidak boleh ketemu atau mengundang sembarang orang tanpa ijin, tidur ada waktu, bangun dan sebagainya. Bukan juga karena aku tidak mau mandiri dan displin atau semacamnya. Aku bersedia jika harus disuruh kos atau semacamnya karena sistem kos tidak seketat asrama atau pesantren. Walaupun mungkin ada beberapa aturan tapi masih terasa seperti rumah. Kalau urusan displin, menurut aku untuk jadi displin tidak harus masuk pesantren atau asrama. Displin itu hadir karena kemauan dan kebiasaan diri sendiri. Karena temanku pribadi, walaupun keluaran pesantren waktu SMA, tetap saja dia tidak bisa displin. Jadi jika aku disuruh masuk, aku menolak.

    Nama: insan gumelar ciptaning gusti
    Akun twitter: @san_fairydevil
    Email: alamadt_saya@yahoo.com
    Linkshare: https://twitter.com/san_fairydevil/status/837095189894176768
    Domisili: Surakarta

    Suka

  4. Elsita F. Mokodompit

    Elsita F. Mokodompit
    @sitasiska95

    elsitafransiska@gmail.com
    Morowali, Sulawesi Tengah

    Bersedia. Saya sudah pernah hidup di pesantren dan benar-benar merasakan keindahan dekat dengan Tuhan. Dan lagipula, saya yakin setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, jadi saya akan menuruti keputusan tersebut karena saya yakin dengan apa yang mereka pilihkan hidup saya akan berubah menjadi lebih baik dan terarah. Hidup di pesantren memang sulit awalnya karena sistem tinggal di dalam dengan berbagai macam aturan. Tapi buat saya itu hanyalah cara membentuk pola kebiasaan. Sehingga ketika keluar dari sana nanti kita sudah terbiasa dengan hal2 baik dalam artian ibadah tepat waktu yang diajarkan disana. Manfaat tinggal di pesantren amatlah besar. Selain dapat ilmu yang bermanfaat kita juga akan mendapatkan keluarga baru, serta akan bisa hidup lebih mandiri.

    Suka

  5. Nama: Ana Bahtera
    Twitter: @anabahtera
    Link: https://twitter.com/anabahtera/status/837292217966321665
    Email: anabahtera@yahoo.co.id
    Domisili: Aceh
    Jawaban:

    Saya tidak bersedia melanjutkan sekolah di pasantren karena saya benar-benar tidak bisa jauh dari orangtua. jika nginap dirumah nenek saja saya pasti langsung rindu suasana rumah dan Ibu pastinya bahkan ketika ikut pasantren kilat dari sekolah selama seminggu, Ibu saya hampir setiap hari menjenguk saya..hahaha. Teman-teman juga sering meledek saya ‘anak mami’ karena tidak bisa lama-lama jauh dari orang tua.

    Suka

  6. Bety Kusumawardhani

    Nama: Bety Kusumawardhani
    Twitter: @bety_19930114
    Linkshare: https://mobile.twitter.com/bety_19930114/status/837305173093425152?p=v
    Email: aki.no.melody@gmail.com
    Domisili: Surakarta

    Aku bersedia saja melanjutkan sekolah di pesantren karena pesantren mampu mencetak orang-orang hebat nasional bahkan internasional, lulusannya mampu menguasai minimal tiga bahasa asing, jaringan pergaulan lebih luas yg bisa membuka jalan menuju dunia internasional, mempunyai teman dari berbagai daerah di Indonesia dan menumbuhkan rasa hormat terhadap lawan jenis.

    Suka

  7. yasmiyanti

    Nama : yasmiyanti
    Email : yasmiyanti24@yahoo.co.is
    Akun twitter : @yaz_1090
    Domisili : purworejo, jawa tengah
    Link : https://mobile.twitter.com/yaz_1090/status/837555857046962177?p=v

    Apabila orangtua kalian meminta melanjutkan sekolahnya ke Pesantren, bersedia atau tidak, apa alasannya?
    Saya bersedia sekolah di pesanten, karena di pesantren selain kita belajar seperti siswa di sekolah umum kita juga mendapat nilai plus yaitu belajar tentang agama. Kita juga diajarkan tentang cara bergaul yang baik. Kemudian kita juga diajarkan tentang disiplin dan kemandirian. Jauh dari orangtua pasti sangat sulit namun banyak teman-teman baru dari berbagai daerah yang menyenangkan dan kita bisa bertukar cerita dan pengalaman.

    Suka

  8. Nama: Aulia
    Twitter: @nunaalia
    Email: auliyati.online@gmail.com
    Linkshare: https://twitter.com/nunaalia/status/837571382544228352 Domisili: Serang

    Apabila orangtua kalian meminta melanjutkan sekolahnya ke Pesantren, bersedia atau tidak, apa alasannya?

    Dulu saat masih sekolah aku menolak untuk masuk pesantren, karena duluu kesan pesantren itu kampungan dan penuh keterbatasan.
    Tapi…sekarang aku menyesal dengan anggapanku dan keputusanku itu.
    Nyatanya pesantren tidak semenyeramkan yg kita pikir, apalagi kampungan. Banyak pesantren yg juga modern. Bahkan di pesantren kita diajarkan beberapa macam bahasa seperti di sekolah umum lainnya. Sering kali lulusan pesantren malah lebih menguasai banyak bahasa asing dengan fasih karena mereka disiplin menggunakannya setiap hari selama di pesantren. Berbeda jauh dengan aku yg hanya berlatih bahasa asing saat di sekolah. Dan yg lebih mengagumkan lulusan pesantren lebih banyak menguasai ilmu agama, dan menghafal Al-quran.
    Aku sungguh menyesal menolak permintaan orangtuaku untuk masuk pesantren dulu. ;(

    Jika saat ini aku masih dalam masa usia sekolah, aku tidak akan ragu untuk memenuhi permintaan orangtuaku itu, bahkan aku sendiri yang akan meminta untuk masuk pesantren.

    Suka

  9. Nama : Aminatuzzahra
    Twitter : @aminatuzzahra21
    Link Shre : https://twitter.com/aminatuzzahra21/status/837583417176829952
    Domisili : Bogor
    Email : aminatuzzahra255@gmail.com

    Apabila orangtua kalian meminta melanjutkan sekolahnya ke Pesantren, bersedia atau tidak, apa alasannya?

    Bersedia, karena itu memang keinginan saya tapi masalh biaya yg menjadi masalahnya.. Alasannya karena menurut saya Pondok pesantren merupakan tempat yang indah sekaligus horor untuk menuntut ilmu. Menjadi indah karena lingkungan untuk belajar sangat mendukung. Suasananya selalu sejuk karena hati selalu tersiram dengan tausyiah, lisan yang selalu mengucap basmalah, dan pola pikir yang selalu terarah. Namun juga menjadi horor karena peraturan dan disiplinnya yang mendidik para santri agar menjadi orang yang berguna, mental baja dan karakter pemimpin. Alasan lainnya karena saya memiliki tujuan :
    -Ingin Mendalami Ilmu Agama
    -Ingin Menguasai Bahasa Arab Dan Inggris
    -Ingin Memiliki Banyak Teman
    -Ingin Hidup Berdisiplin
    -Untuk berhijrah dari masa kegelapan menuju masa pencerahan.

    Suka

  10. Nama : Riza Putri Cahyani
    Twitter : @Zhaa_Riza23
    Link share : https://twitter.com/Zhaa_Riza23/status/837668204570787841
    Domisili : Bogor
    Email : rizaputricahyani@gmail.com
    Jawaban :
    Tentu saja bersedia. Di pesantren hidup kita lebih terarah. Dan kita bisa belajar menghargai, saling menghormati, dan tolong-menolong dgn teman sekamar. Kita juga belajar disiplin dan beribadah tepat waktu. Mutaba’ah yaumiyah lebih terjaga. Kalau di pesantren kita belajar menjadi muslimah yg baik dan Insyaa Allah akan mendapat jodoh yg baik. Kehidupan sehari-hari, lingkungan, dan pergaulan juga Insyaa Allah lebih terjaga. Belajar di pesantren bukan hanya belajar agama tapi juga ilmu alam dan kehidupan. Bukankah jika kita ingin selamat dunia akhirat harus dgn ilmu? Ilmu alam dan ilmu agama pastinya. Pesantren adalah tempat yg tepat untuk mendapatkan keduanya.

    Suka

  11. Rina Fitri

    Nama: Rina Fitri
    Twitter: @Rinafiitri
    Email: Riinafitrii68@gmail.com
    Link Share:

    Domisili: Aceh

    Kalo diminta melanjutkan sekolah ke pesantren sih, aku akan mempertimbangkannya ya. Karena menurutku ilmu agama itu penting, dan cuma di pesantren lah semuanya didapat. Tp pesantren di tempatku itu aturannya ketat sekali. Tidak boleh sembarangan minta izin pulang, kalau telat kembali ke pesantren dari tanggal yg ditentukan maka harus denda, belum lagi kalau ketahuan bertemu dengan yg bukan mahram maka akan dikunci di WC selama beberapa jam. Ditambah lagi mendengar cerita temanku bahwa di pesantren banyak sekali makhluk2 halus yg mengganggu. Dengan semua hal itu, aku akan mencoba berdiskusi dulu dengan orang tuaku. Karena siapa tahu nanti aku malah tidak betah di pesantren, soalnya banyak yang kejadian seperti itu, hanya bertahan beberapa bulan saja. Tapi sejujurnya aku lebih suka bersekolah di sekolah umum sih, sementara ilmu agamanya bisa kudapatkan dari tempatku mengaji. Aku ingin, aku bisa bersekolah, aku bisa menikmati waktuku di rumah dan sesekali pergi jalan2, tapi tidak lupa pergi ngaji setiap malam. Rasanya imbang aja gitu.

    Suka

  12. nama; siti nihlatul fuadah
    twiter; @nihlafuadah09
    link share; https://twitter.com/Nihlafuadah09/status/837973823739699200
    email; nihlafuadah@gmail.com
    domisili; tangerang

    jawaban;
    Pondok ppesantren bukanlah hal yang asing untukku yang notabennya berada dikeluarga yang memang rata-rata memilih pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang dijalani.

    Bukan keputusan yang mudah menerima saja kemauan ortu jika ingin anaknya mondok. Itu jelas terjadi pada sekililingku. Namun, Alhamdulillah 8 tahun kemarin aku mengenyam pendidikan dalam ranah pondok pesantren bukanlah kehendak orang lain ataupun orangtuaku. Itu murni dari keinginanku sendiri yg mau mondok sejak kelas 5 SD. Lebih Alhamdulillahnya lagi aku satu-satunya orang dlam keluarga yg mengenyam pondok pesantren modern, jadi tidak meninggalkan kewajibanku pula pada sistem belajar masa kini. Walaupun tetap sama dengan ponpes lainnya, 3 ponpes yg kutempati semasa sekolah punya aturan yg ketat dan bertujuan mendisplinkan santri.

    jadi untuk pertanyaaan GA yg kuikuti kali ini, sungguh aku bingung menentukan jawabnnya, karna selama aku mondok itu bukan karna ortu, tapi karna kemauan diriku sendiri.

    Dan buat siapapun yang merasa risih dengan kata ponpes, boleh tanya sama aku, apa sih enaknya mondok?
    Hehehehe… maaf kaka aku jadi promosi……;-)

    Suka

  13. Nama: Ummi Haniefa
    Twitter: @fumichanief
    Email: ummihaniefadh@gmail.com
    Link share: https://twitter.com/fumichanief/status/838035600611561473
    Domisili: Samarinda

    Apabila orangtua kalian meminta melanjutkan sekolahnya ke Pesantren, bersedia atau tidak, apa alasannya?

    Jawaban:
    Bersedia! Alasannya karena memang salah satu cita-cita ku bisa menuntut ilmu di pesantren, tapi masih belum tercapai hingga sekarang. Jadi waktu lulus SMP dulu, aku melanjutkan di madrasah aliyah hingga saat ini. Yang memang mirip-mirip pesantren karena sekolah yang berbasis agama islam. Dan menuntut ilmu di sekolah umum dibanding sekolah agama rasanya beda banget. Apalagi ada salah satu guru laki-laki masih muda di madrasah tempatku menuntut ilmu saat ini, yang lulusan pondok pesantren Baitul Qur’an. Masih awal semester ini mulai menjadi guru di madrasah. Ia penghapal Qur’an. Kagum banget sama guru ku yang satu ini pokoknya. Karena sehabis ia lulus MA, ia langsung melanjutkan ke pesantren tersebut, padahal ia banyak di terima di perguruan tinggi favorit di indonesia. Namun demi menghapal Qur’an yang sebegitu tebalnya, ia rela masuk pesantren dan mengabaikan universitas-universitas tersebut. Dari seseorang itulah rasa kemauan dalam diriku untuk menuntut ilmu di pesantren semakin besar. Ia mampu memotivasiku. Padahal awalnya aku sudah pasrah karena merasa gak ada waktu lagi buat menuntut ilmu di pesantren. Jadi kalau misalnya orang tua ku tiba-tiba menyuruhku ke pesantren, kenapa enggak? Setidaknya kalau memang enggak bisa, aku bisa menyuruh anak ku nanti untuk bersekolah di pesantren 😀 (masih lama xD)

    Suka

  14. Nama : Mifta Rizky W
    Twitter : @keyminoz
    Domisili : Gresik
    Email : keyminoz@yahoo.com
    Link Share : https://twitter.com/keyminoz/status/838243783342858240

    Apabila orangtua kalian meminta melanjutkan sekolahnya ke Pesantren, bersedia atau tidak, apa alasannya?

    Jawaban : Saya akan menolak, karena jujur saya tidak bisa jauh dari keluarga, saya lebih memilih sekolah di sekolah agama yakni Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA) pendidikan agamanya sudah 10 jam pelajaran perminggu, tapi sesudah pulang sekolah, saya bisa kembali ke rumah.

    Suka

  15. nama : Farida Endah
    twitter : @farida271
    Link Share : https://twitter.com/farida271/status/838248414001311745
    domisili : Pacitan Jawa Timur

    jawaban : kak aku sudah tidak sekolah lagi tapi gpp kan ikutan jawab. sejak baca karya kak maya si Abang Rampak aku sudah suka sama hasil karya kak Maya.

    jawaban saya adalah : saya bersedia sekali untuk masuk ke pondok. karena akan menjadi pengalaman yang berbeda. dulu memang ingin sekali masuk pondok setelah lulus SD tp sayang sama orang tua malah gak diijinkan.

    sekarang sudah gedhe malah pengen punya cita cita kelak anak -anak ku harus aku masukkan ke pondok karena apa, sepinntar apapun mereka jika tidak punya bekal akhirat hasilnya akan tetap nol besar. bekal dunia in shaa allah mereka bisa mencari sendiri toh rezeki sudah ada yang ngatur , maka saya ingin mencukupkan bekal akhirat mereka dan pondok adalah solusinya karena mereka akan mendapat dua duanya jika berada di sana

    Suka

  16. Bintang Maharani

    Bintang Maharani
    @btgmr
    Palembang, SumSel

    Saya mau ngelanjutin ke pesantren jika diminta orangtua. Saya justru bangga jika bisa jadi santri karena akan mendapat ilmu agama lebih banyak daripada sekolah biasa. Hal yang saya sayangkan di sekolah biasa adalah mereka lebih memprioritaskan pelajaran lain dan hanya menyelipkan 2 jam untuk PAI selama seminggu.

    Di pesantren bisa hidup mandiri, punya banyak teman, mendidik untuk jadi orang yang rajin, dan punya kemampuan berbahasa arab lebih baik daripada siswa biasa karena di sekolah biasa pasti cuma dikasih slot 2 jam dan tak bisa maksimal. Apalagi dari dulu saya ingin bisa lancar berbahasa arab.

    Suka

  17. Nama : Khaerunnisa
    Akun twitter : @NhisaMinoz
    Email : khaerunnisa0198@gmail.com
    Linkshare : https://mobile.twitter.com/NhisaMinoz75/status/838558219333058562?p=v
    Domisili : Kolaka, Sulawesi Tenggara.
    Apabila orangtua kalian meminta melanjutkan sekolahnya ke Pesantren, bersedia atau tidak, apa alasannya? Dulu sempat di tawarin sekolah di pesantren, awalnya mau banget tapi pada akhirnya nolak juga, karena aku gak mungkin ninggalin Ummi. Ummi jadi pertimbangan saya untuk tidak bersekolah di pesantren, walau dia ngijin untk saya bersekolah disana. Ummi saya seorang single parents dia yang biayai sekolah saya dan adik2 dia udah jadi ibu sekaligus ayah buat saya dan adik2, saya anak pertama di keluarga, kalau ummi pergi kerja saya yang selalu ngurusin rumah, dan jaga adik2. Hal inilah yang membuat saya berfikiran dua kali untuk menerima sekolah di pesantren. Kalau saya nerima skolah di pesantren, ntar yang bantuin ummi siapa? Adik2 saya masih kecil juga. Jadi pada akhirnya saya menolak, mungkin belum saatnya saya untuk belajar di pesantren, Allah mungkin punya rencana lain yang lebih indah.

    Suka

  18. Nama : Alya trihartina
    Twitter : @alyahartina_08
    Domisili : Sukabumi, JawaBarat
    Link share : https://twitter.com/AlyaHartina_08/status/838683541865017345

    Apabila orangtua kalian meminta melanjutkan sekolahnya ke Pesantren, bersedia atau tidak, apa alasannya?

    Bersedia, knp? Karena saya sangat ingin memperbaiki diri saya, salah satunya dengan masuk ke pondok, lebih mendekatkan diri saya kepada Tuhan YME. Karena setahu saya masuk psantren itu membuat kita jadi lebih disiplin, menaati peraturan, belajar saling berbagi sesama kamar. Itu yg teman saya katakan, sayapun jadi lebih ingin masuk ke pondok, waktu lulus sd impian saya ingin masuk pesantren tapi sampai sekarang blum kecapai, karena saya yg belum bisa pisah dengan keluarga. Dan insyaallah lulus smp sekarang saya akan masuk pesantren. Sekarang pun saya masih milih2 pondok mana yg akan saya ambil..

    Suka

  19. ricacahyati

    Nama: Rizka Dwi
    Akun Twitter: ©ricarizkaa
    Email: cahyatirica@gmail.com
    Link Share: https://mobile.twitter.com/ricarizkaa/status/838759398696603648
    Domisili: Probolinggo, Jawa Timur.

    Apabila orangtua kalian meminta melanjutkan sekolahnya ke Pesantren, bersedia atau tidak, apa alasannya?

    Aku sih bersedia saja. Menurutku, tidak ada yang salah dengan pesantren. Baik di pesantren ataupun sekolah umum juga tujuannya sama, yaitu, menuntut ilmu (khususnya ilmu agama untuk di pesantren). Lagi pula, melanjutkan sekolah ke pesantren tidak selamanya buruk, misalnya, kita bisa belajar lebih mandiri.
    Jadi, ya, aki bersedia apabila orangtuaku memintaku melanjutkan sekokah ke pesantren. Apalagi pesantren dengan sekolah umum yang baik pula. Seperti peribahasa, sambil menyel minum air.

    Suka

  20. Humaira

    Nama : Humaira
    Akun Twitter : @RaaChoco
    Email : humairabalfas5@gmail.com
    Link Share : https://mobile.twitter.com/RaaChoco/status/838767286227881984?p=v
    Domisili : Purwakarta

    Apabila orangtua
    kalian meminta melanjutkan
    sekolahnya ke Pesantren, bersedia
    atau tidak, apa alasannya?

    Bersedia. Alasannya karena aku merasa sadar diri jika ilmu agamaku masih kurang dan ga ada apa-apanya. Diriku masih cukup buruk untuk disebut benar, aku harus merubah diri menjadi lebih baik lagi dari hal yang paling mendasar. Dari hati dan pikiran yang bersih. Ilmu tidak hanya sekedar ilmu alam di dunia ini, masih ada ilmu agama yang manfaatnya jangka panjang. Bekalku untuk hidup di dunia dan di akhirat masih jauh dari kata cukup. Bekal untuk menjalani hidup di dunia, bekal ketika menikah nanti, bekal ketika punya anak kelak, karena aku sebagai seorang wanita yang nanti akan menjadi sekolah untuk anak-anakku kelak. Hanya ilmu agama yang ilmu, amal dan manfaatnya dibawa hingga mati.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s