(Book Review) JOURNEY TO ANDALUSIA

Menelusuri Jejak Cahaya Islam di Negeri Spanyol

Judul : Journey to Andalusia: Jelajah Tiga Daulah
Penulis : Marfuah Panji Astuti
Penerbit : Buana Ilmu Populer
Tebal Buku : 190 halaman
Cetakan Pertama: Januari 2017
ISBN : 978-602-394-391-3

Apa yang terjadi bila ayat-ayat Allah ditukar dengan dendang lagu dan tarian ? Saat itulah pendulum kehancuran mulai bergoyang. Semuanya tidak musnah seketika. Kemunduran Andalusia berlangsung selama 200 tahun, hingga jejaknya benar-benat sirna . innalilahi wa innailahi roji’un (hal : 157)

Andalusia….

Kalau kita mendengar nama ini, apa yang terlintas dalam pikiran kita? Pikiran kita mungkin langsung ke sebuah kota di negara timur tengah;seperti Turki atau Arab? Mungkin, belum banyak yang mengetahui kalau Wilayah Andalusia berada di Portugal,Spanyol dan sebagian Perancis. Penulis akan mengisahkan perjalanannya ke Andalusia melalui Maroko dengan menyeberangi Selat Gibraltar.

Mengapa Andalusia ??

Karena ini adalah negeri sejuta cahaya, islam pernah menyinari negeri itu selama 800 tahun (711-1492) dengan ilmu pengetahuan, peradaban dan kemanusiaan. Di saat Barat masih menganggap penyakit sebagai kutukan, dokter muslim di Andalusia telah berhasil melakukan pembedahan, mengklasifikasi penyakit, meracik obat bahkan mendirikan rumah sakit. Bukan hanya itu saja kalkulus, algoritma, trigonometri adalah hasil pemikiran ilmuwan muslim, yang tanpa itu semua tidak ada revolusi digital yang dapat kita nikmati semua seperti sekarang.

Apakah Cordoba masih berpendar cahaya? Seperti apa Mezquita? Semolek apa istana Alhambra?

Buku Journey To Andalusia adalah buku catatan perjalanan sang Penulis, yang biasa di panggil Mba Uttiek saat melakukan perjalanan selepas Umrah dari Maroko-Andalusia tahun 2014. Buku dengan cover seorang muslimah remaja yang sedang melintas di depan istana Alhambra sangat mewakili pesan yang ingin di sampaikan penulis. Melalui buku ini diharapkan remaja islam tidak hanya mengenal kota -kota di Spanyol seperti  Madrid atau Barcelona yang identik dengan sepak bola tetapi banyak kota-kota di Spanyol seperti Granada, Cordova yang masih menyimpan jejak sejarah islam yang dapat diambil hikmahnya

Rute yang diambil penulis untuk menuju Andalusia dimulai dari Cassablanca-Rabat-Fes-Tanger menyeberang Selat Gibraltar ke Tarifa lalu masuk Andalusia. Penulis sengaja memilih rute ini dengan maksud ingin menapaktilasi jejak perjuangan Musa bin Nushair dan panglimanya Thariq bin Ziyad saat menaklukkan semenanjung Iberia

Perjalanan penulis dimulai dari Kota Cassablanca, Maroko. Di kota ini pembaca akan diajak menikmati keindahan Masjid Hasan II yang dikenal sebagai bangunan ikonik Maroko sekaligus Masjid terbesar kedua setelah Masjidil Haram di Mekah

Penulis juga menceritakan ternyata di Maroko tepatnya di ibukotanya Rabat ada jalan, yang namanya di ambil dari nama Indonesia yaitu Jalan Sukarno atau Rue Sukarno, Rue Indonesia dan Rue Bandung. Wow, Indonesia ternyata juga tidak asing lagi yaa di Maroko

Di kota Fes, Penulis menelusuri jejak Universitas tertua di dunia yaitu Universitas Al Qarawiyyin berdiri tahun 859 didirikan oleh seorang wanita bernama Fatimah Al Fikhri . Banyak ilmuwan termasyur terlahir dari sini; Al Farabi, Ibnu Khaldun, Al Idrisi, bukan hanya ilmuwan muslim, tetapi orang yahudi seperti Paus Sylvester dan Maimonades pernah belajar di sini. Seratus tahun kemudian Universitas Al Azhar, Kairo berdiri disusul 3 abad kemudian Universitas Oxford Inggris didirikan

Dari Fes, kemudian menuju Tanger . Dari tempat ini Sang Panglima Thariq bin Ziyad di lahirkan, ini adalah kota terakhir di Afrika sebelum menyeberang ke Eropa melalui Selat Gibraltar. Kalian tahu Tintin kan ?? Komik karya Georges Remi ini pernah mampir juga ke Tanger, bahkan di lobi hotelnya penulis melihat lemari pajangan yang isinya semua hal tentang Tintin….wow baru saya tahu 🙂

…………Menginjakkan kaki di Andalusia,

Mulai merasai sederet kepedihan, Di Malaga , bertemu Antonia “Tidak ada satupun Masjid yang tersisa. Semua sudah di hancurkan “. Di  Granada, melihat sebotol bir yang dinamai Alhambra Mezqita (Masjid Al Hambra) dijual seharga 3 euro.

Sungguh, saya gelisah… (hal 70)

Membaca buku ini bukan semata-mata membaca buku travelling saja, tetapi kita belajar banyak tentang sejarah islam. Saya jadi paham siapa Thariq bin Ziyad dan bagaimana kegigihannya berjihad menegakkan kalimat Tauhid. Saat sekolah dulu saya paling malas belajar sejarah, yang harus menghafal dan sering kali membosankan. Tetapi membaca buku ini, kita seolah terlibat langsung dengan kisahnya, bahkan emosi kita ikut teraduk-aduk dibuatnya. Terutama saat mengetahui kekejaman Raja Ferdinan dan Isabella saat menumpas penduduk yang masih menganut agama islam, sungguh di luar batas kemanusiaan. Betapa berat perjuangan penduduk Andalusia dulu untuk mempertahankan keimanannya. Sekarang jumlah muslim Andalusia (Spanyol dan Portugal)  hanya 100 ribu, lebih sedikit dari jumlah muslim di kota Dallas, Amerika yang tidak pernah dikuasai Daulah Islam. Sungguh ironis…negeri yang dulu menjadi sumber cahaya islam, sekarang tidak ada yang tersisa 😦

P_20170219_125317.jpg

wp-image-776111390jpeg.jpeg

(buku ini dilengkapi dengan gambar yang full colour)

Buku ini adalah paket komplit, tentang sejarah islam, travelling maupun blogging. Dari buku ini saya menjadi paham, ternyata banyak sejarah yang sampai ke masyarakat umum, bukanlah sebuah fakta yang sebenarnya, tetapi di belokkan, itu yang disampaikan oleh tour guide di beberapa kota  Maroko dan Andalusia. Penulis disini mampu membantah beberapa pernyataan tour guide yang disampaikan, karena penulis sebelum melakukan perjalanan telah melakukan riset tentang sejarah islam melalui literature yang dibacanya antara lain ; Buku Bangkit dan Runtuhnya Andalusia karya DR.Raghib As Sirjani, Sejarah Umat Islam karya Prof. DR Hamka dsb.

Sebagai buku travelling, pastinya sangat recomended karena banyak tips seputar travelling beserta perkiraan budget, tempat menginap, tempat makan maupun maskapai penerbangan yang dapat menjadi pilihan bagi traveller

Buat Blogger, buku ini juga dapat dijadikan referensi, untuk menulis tentang sebuah perjalanan di blognya. Profesi penulis selain jurnalis juga seorang blogger. Kumpulan tulisan di blog  http://uttiek.blogspot.co.id yang kemudian di buat menjadi sebuah buku. Buat teman-teman blogger mungkin dapat mengikuti jejaknya menerbitkan tulisan di blognya menjadi sebuah buku 🙂 Penulis juga memberikan tips-tips seputar blogging, kalian bisa membaca di Launching Buku “Journey to Andalusia”

Buku Journey to Andalusia: Jelajah Tiga Daulah adalah seri pertama dari tiga buku yang rencananya akan ditulis .Buku yang kedua berjudul Journey to The Greatest Ottoman dan buku ketiganya berjudul Journey to Abbasiyah

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir dan agar sebagian kamu jadikanNya gugur sebagai syuhada (QS: Ali Imron:140)

 

(*Tulisan ini saya ikutsertakan dalam event lomba blog review yang diadakan oleh Penerbit Bhuana Ilmu Populer )

andalusia

 

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Non Fiksi, Penerbit BIP, Review Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s