(Review) Mencari Tepi Langit

wp-image-279618447jpeg.jpeg

Judul Buku :Mencari Tepi Langit
Penulis : Fauzan Mukrim
Editor: Gita Romadhona
Penerbit : Gagas Media
Cetakan I : 2010
ISBN :979-780-411-9
Halaman :283 hal

Blurb

Pernahkan kamu mendengar teori turbulensi? Bahwa kepak sayap kupu-kupu di Kirgistan dapat menyebabkan badai di Pantura? Artinya, semesta ini semuanya saling berhubungan, berkaitan satu sama lain. Bermula dari sebuah e-mail, Horizon Shanti mendapati dirinya bukanlah siapa-siapa, bahkan juga untuk dirinya sendiri. Sebuah ruang di otak kanannya memberi sinyal, Senja-laki-laki yang baru ditemuinya itu-bisa diandalkan.

Senja tak pernah mengenal Santi sebelumnya. Namun, saat Shanti datang kepadanya, ia pun berharap mendengar sebuah akhir cerita bahagia. Hanya satu jalan yang tak bisa kau tempuh, hanya tepian langit. Pencarian menemukan kehilangan itu pun dimulai. Pencarian yang mungkin membuat mereka menyesal karena memulainya.

Novel ini saya peroleh dari ajang Blind Date  Book  Indonesia Festival Readers (IRF) yang dilaksanakan 10-11 Desember di Museum Nasional Jakarta. Sebenarnya saya beberapa kali mengikuti ajang blind date Book, dan terkadang buku yang saya peroleh tidak semua masuk kategori kesukaan saya. Tetapi mendapatkan buku “Mencari Tepi Langit” ini saya cukup surpraise dan senang. Buku sebagus ini, harusnya dari dulu sudah saya baca yaa 🙂

Saya suka covernya…sebagai reader dengan tipe judge a book by its cover tentunya cover itu salah satu yang menarik perhatianku sebelum membaca blurbnya.

Ada dua tokoh utama yang diceritakan di buku ini Horison Santi dan Senja Senantiasa. Melihat namanya saja, saya sudah penasaran, kenapa namanya berbau-bau alam..Senja dan Horison. Dan setelah beberapa halaman ,penulis menjelaskan latar belakang nama Senja. Mereka pertama kali bertemu saat Santi meminta pertolongan Senja untuk membantunya mencari orangtuanya. Santi tidak menyangka bahwa sebuah email yang tidak dikenalnya, mengaku bernama Tepi Langit, telah merubah segalanya. Santi yang menganggap selama ini ia tinggal bersama orangtua kandung, yang ternyata adalah orangtua angkat. Kenyataan yang sulit diterima setelah berpuluh tahun ia hidup di rumah tersebut. Akhirnya Santi mengambil tindakan untuk mencari orangtua kandung , yang entah di mana akan dicari. Hanya dengan berbekal nama dan kota asalnya yaitu Makasar

Sering dia berharap andai hidup seperti di film yang bisa dengan mudah diselesaikan bila tak kuat lagi menanggungnya. Atau dikasih jeda untuk istirahat sambil memikirkan sekuel selanjutnya (hal : 56)

Novel ini beralih ceritanya tentang keseharian Senja dan pekerjaanya sebagai Jurnalis. Dari mulai liputan tentang tindakan kriminal sampai dengan teroris. Cerita perihal teroris cukup dibahas panjang, karena sahabat Senja dari kecil menjadi salah satu tersangka teroris yang diburu polisi. Hal ini menjadi dilema bagi Senja.  Saya suka dialog pada bagian cerita ini saat Senja dan sahabatnya Ari saling bercerita. Ari yang penganut islam garis keras berdialog dengan Senja yang mempunyai koleksi lengkap Miyabi dan kalau sholat saja lebih baik nunggu sepi antrian 🙂 Kata-kata yang dipakai Ari bercampur antara bahasa Arab dan bahasa gaul menurut saya cukup menghibur, seperti Afwan, Bro

Sementara itu hubungan Senja dan Santi yang pada pertemuan pertama masih terkesan kaku, lambat laun mencair. Bahkan Senja melalui SMS, sudah berani sedikit romantis dengan bilang kangen ke Santi, ini salah satu kalimat sentimentilnya Senja :

Ada banyak cerita untukmu nanti. Oya, boleh aku bilang kangen kamu ? (hal 96)

Senja ditugaskan ke Aceh saat terjadi Gempa Tsunami tahun 2004. Bagian ini juga cukup banyak diceritakan, bagaimana tragisnya peristiwa yang menelan korban ratusan ribu orang. Kisah relawan yang bahkan sampai ada yang meninggal di Aceh, karena membantu korban Tsunami atau kisah para  jurnalis yang berlomba mengabarkan berita terupdate, seperti halnya Senja.  Dan di Aceh, Senja bertemu seseorang yang menjadi salah satu kunci untuk mencari orangtua kandung Santi. Bagaimana kisah Santi, apakah dapat bertemu dan mengetahui siapa sebenarnya orangtua kandungnya?? Dan siapa sebenarnya Tepi Langit ??

Pada awalnya saya berfikir bahwa buku ini akan fokus berkisah tentang pencarian Santi terhadap orangtuanya, tetapi justru tidak terlalu dibahas. Hanya pada bagian awal dan ending cerita ini. Sebagian besar justru membahas situasi dan berita terupdate saat itu, dimana Senja bertugas sebagai Jurnalis. Ada banyak tokoh diceritakan di sini, sahabat Senja, Ari dan adiknya Tisong, yang cukup mewarnai cerita ini. Situasi Indonesia yang saat itu sedang memburu teroris Nurdin M Top, juga menjadi bahasan utama.

Cerita ini tidak dapat dikatakan cerita ringan, banyak informasi yang saya dapat melalui buku ini. Penulis memang mengkaitkan antara kisah nyata yang terjadi dengan cerita yang dibuatnya, sehingga pembaca dengan sendirinya akan menikmati cerita sekaligus memperoleh khasanah pengetahuan yang tidak sedikit. Saya jadi paham ada kata-kata sandi dalam dunia kepolisian yang menggunakan nama daerah sebagai istilah, seperti Kupang Ambon, itu singkatan untuk Kereta Api, Ambon Lombok untuk Angkatan Laut, dsb

Menurut saya novel ini cukup recomended, buat yang ingin memgetahui lebih dalam dunia jurnalis khususnya bidang kriminal.

Ada beberapa kalimat yang menjadi bahan renungan saya , antara lain :

Bagi gue, rumah itu benteng terakhir. Lo bisa aja jalan sejauh manapun, tapi kalau tak punya tempat untuk pulang, buat apa ? (hal :63)

Sehari-hari, hati kita ini sudah cukup berat karena persoalan-persoalan dgn sesama manusia, janganlah ditambah dengan prasangka buruk kepada Allah juga(hal :71)

Tak seorangpun bisa memilih keinginan untuk meringkuk di rahim perempuan mana. Tak ada yang bisa memilih untuk lahir sebagai islam, kristen atau yahudi (hal:149)

Di dunia ini, ada tiga macam golongan. Golongan yang menciptakan perang, golongan yang mencegah dan mengobati perang dan golongan yang mengharapkan perang agar bisa mendapat drama (hal :208)

Kita pasti terhubung dengan siapapun di dunia ini, entah bagaimana caranya. Small world phenomenon (hal : 251)

 

Iklan

1 Komentar

Filed under Gagas Media, Penerbit Gagas Media, Review Buku

One response to “(Review) Mencari Tepi Langit

  1. Ping-balik: (Wrap Up Post) IRRC 2016 Januari – Desember 2016 | jendeladuniaku2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s