Review : 3 (Alif,Lam,Mim)

27278384

Judul Buku : 3
Penulis : Primadonna Angela
Diadaptasi dari skenario oleh Anggi Umbara, Bounty Umbara dan Fajar Umbara
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan 1 : 2015
ISBN : 978-602-03-2094-6
Jumlah halaman : 232 hal

 

 

 

Blurb

Alif, Lam, dan Mim. Tiga sahabat seperguruan yang menjalani hidup berbeda sejak Indonesia menjadi negara liberal. Alif teguh sebagai penegak hukum. Lam berkarier sebagai wartawan, memaparkan kebenaran sebagaimana yang dilihatnya. Mim tetap setia di padepokan, meski Indonesia mencurigai mereka yang beragama.

Satu demi satu konflik bergulir. Dalam situasi genting, garis antara kawan dan lawan mengabur, dan mereka bertiga harus terus berjuang demi negara, keluarga, dan sahabat yang mereka sayangi…

Buku 3 merupakan novelisasi  film yang berjudul sama. Filmnya telah rilis di Bioskop tanggal 1 Oktober 2015, dimana skenario ditulis oleh 3 umbara (Anggy Umbara, Bonty Umbara dan Fajar Umbara).  Saya tertarik membaca novel ini, karena tema yang diangkat cukup kontroversial yaitu tentang Indonesia pada suatu masa tepatnya tahun 2034 yang menganut paham Liberal, dimana dasar negara tidak lagi pancasila, tetapi catur sila. Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, dihilangkan. Agama dianggap sudah tidak penting dalam suatu tatanan negara. Ini sepertinya menjadi film atau novel bergenre dystopia  Futuristic Indonesia pertama yang kubaca. 

Alif

Menjulang ke atas, tegak, tanpa memiliki liukan sana-sini. Tegasnya tidak bisa ditawar-tawar. Kukuh dan teguh dalam menjalani hidup. Seperti huruf hijaiyah pertama, Alif adalah pionir. Dia seorang pemimpin (pg:7)

Lam (Herlam)

Huruf hijaiiyah Lam membentuk kurva, melengkung. Dia tetap tegak, namun dia luwes. Dia fleksibel.Lam menunjukan seseorang tetap bisa memegang prinsip sekaligus baik hati dan pemurah  (pg:87)

Mim (Mimbo)

Mim, huruf hijaiyah yang membentuk lingkaran menandakan kesempurnaan.  Manusia bisa dikatakan mendekati sempurna kalau dia menerima dirinya sebagai insan yang tunduk di hadapan Tuhannya, kalau dia ikhlas hidup dan matinya hanya untuk Alloh semata, kalau yang dia cari dalam hidupnya adalah keadaan berpulang pada-Nya dalam keadaan khusnul khotimah (pg: 143)

Buku ini bercerita tentang tiga sahabat yang dibesarkan di pesantren yang sama, Pondok Pesantren Al-Ikhlas, pimpinan KH. Mukhlis. Mereka bukan hanya belajar tentang agama, tetapi juga beladiri. Ketiga orang ini merupakan murid terbaik pesantern ini terutama dalam hal beladiri. Hingga setelah revolusi berakhir, ketiga orang tersebut, berpisah menentukan jalan hidup masing-masing. Revolusi berakhir tahun 2026, berganti dengan tatanan kehidupan baru yang berpaham Liberal, dimana agama mulai ditinggalkan, agama di anggap kuno, hingga pesantren-pesantren di seluruh Indonesia di tutup.

Alur cerita yang maju mundur, dan berganti-ganti pov membuat pembaca tidak menjadi boring, meskipun harus sedikit cermat agar lebih memahami isi cerita. Ditambah lagi buku ini tidak mencantumkan daftar isi, sehingga membuat penasaran pembaca, yang mengharuskan pembaca untuk membacanya sampai tuntas. Kepingan-kepingan puzle yang menceritakan masing-masing kehidupan Alif sebagai seorang anggota polisi pasukan khusus, Lam sebagai seorang Jurnalis yang independen serta sebagai santri.  Hingga suatu peristiwa pemboman sebuah restoran yang menewaskan puluhan orang, membuat ketiga orang ini bertemu. Meskipun tidak dalam suasana yang menyenangkan.

Alif sebagai seorang polisi bertugas menyelidiki kasus teror bom, Lam juga melakukan tugasnya sebagai jurnalistik untuk mengungkapkan kebenaran peristiwa tersebut. Teror bom ini menggiring kepada pesanten Al-Ikhlas sebagai tersangka, dimana Mim dan KH.Mukhlis tinggal. Peristiwa ini menyebabkan Alif dan Mim harus berhadapan sebagai dua orang yang harus bertarung untuk mempertahankan kebenaran dan keyakinan masing-masing, hingga KH.Mukhlis menjadi tameng dengan menyerahkan diri ke polisi agar tidak terjadi pertumpahan darah diantara kedua muridnya. Tetapi, apakah kasusnya telah selesai dengan ditangkapnya KH.Mukhlis sebagai tersangka teror bom tersebut?? Banyak teka-teki dan misteri yang melingkupi cerita ini yang membuat pembaca terkaget – kaget dan mengernyit.

Kisah ini bukan hanya action saja, tetap ada unsur dramanya juga. Hubungan Alif dan Laras meskipun tidak terlalu banyak dikupas, cukup menjadi bumbu dalam panasnya cerita ini. Saya suka dengan tokoh Lam, sosok jurnalis idealis, yang mempunyai kemampuan IT tinggi hingga dapat tergabung menjadi komunitas hacker Asia, tetapi tetap murah hati.

Meskipun saya masih kurang puas, karena ada yang belum diungkapkan, tetap menjadi misteri, tetapi buku ini sangat recomended untuk dibaca oleh masyarakat Indonesia terutama, para penguasa dan umat islam. Buku ini seolah memperingatkan kepada kita, bahwa ketika kita tidak benar-benar menjalankan agama kita dengan sesungguhnya, hal yang paling terburuk dapat terjadi, termasuk paham liberal di negara ini. Na’udzubillah…

Dalam setiap awal bab penulis memberikan qoute-qoute yang bagus, yang cukup mewakili inti cerita bab tersebut. Antara lain:

  1. Seseorang yang memiliki misi akan cenderung lebih berani (pg:24)
  2. Semua tak selalu berjalan sesuai keinginan. Begitulah kehidupan (pg:35)
  3. Kadang hanya dibutuhkan satu pertemuan untuk menyadari bahwa rasa itu masih bertahan (pg:50)
  4. Siapapun bersedia berjuang dan berusaha demi sesuatu bernama harapan (pg:63)
  5. Ketika penyesalan tiba, kadang kita berharap andai bisa mengulang kembali segalanya (pg : 174)
  6. Kadang kebetulan memanglah kebetulan , waspadalah, karena bisa jadi itu adalah rancangan (pg:190)

Film ini telah tayang di Bioskop, tetapi saya belum sempat nonton, kabarnya film ini tidak bertahan lama, kurang lebih hanya sebulan. Padahal film ini sangat bermutu, tidak banyak film Indonesia yang “berani” seperti ini.

Berikut artis dan pendukung film 3 (Alif Lam Mim) :

  • Cornelio Sunny (Alif)
  • Abimana Aryasatya (Herlam)
  • Agus Kuncoro Adi (Mimbo)
  • Prisia Nasution (Laras)
  • Tika Bravani (Gendhis)
  • Teuku Rifna Wikana (Kapten Rama)
  • Piet Pagau (Kolonel Mason)

 

 

Iklan

2 Komentar

Filed under Novel Drama, Novel Religi, Penerbit Gramedia, Review Buku

2 responses to “Review : 3 (Alif,Lam,Mim)

  1. oh ada novelnya ya ternyata. sempet si tau ada film ini dibioskop tapi katanya cuma bertahan beberapa hari. temanya terlalu berat x ya kalo dibandingkan film2 indonesia yg lainnya. tapi aku malah pensaran banget. ayanya harus cari novelnya nih

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s