Review : HOME (Saling Menjauh tapi Saling Merindu..)

homeJudul Buku                 : HOME

Penulis                        : IVA AFIANTI

Editor                         : ARINI HIDAJATI

Penerbit                     : DIVA Press

ISBN                            : 978-602-255-300-7

Cetakan I                    : SEPTEMBER 2013

Halaman                     : 388 Hal

Menjual rumah ini bukan hanya menjual sebuah bangunan fisik. Bagi saya, rumah ini adalah kenangan, sejarah, cinta, dan… kehidupan itu sendiri. Pada setiap dinding, ruang, dan lekuk likunya, ada cerita tersendiri. Pahit, manis, asam, getir, semua lengkap.”

“Sejak dulu, saya selalu berusaha bersetia pada setiap kenangan itu. Lalu, ketika sekarang suami saya begitu ingin menjualnya, di mana lagi saya akan meletakkan semua kenangan itu? Hati saya jelas tak mampu menampung semuanya…. Saya, dan kami, perlu sesuatu yang berwujud untuk mewadahi kenangan itu.”

“Benarkah Kurt ingin menjualnya karena rumah itu kini hanya menyimpan pedihnya sunyi semenjak anak-anak mereka meninggalkan mereka berumah tangga dan berjauhan?

“Truly, bisakah kau membantu memecahkan kebekuan ini?”

***

Sebuah novel unik dan sangat menyentuh. Menyadarkan akan pentingnya hakikat cinta, ketulusan, kegairahan, kasih sayang, dan juga nilai kebersamaan. Dan, terutama arti sebenarnya dari sebuah rumah bagi kita semua.

Buku ini kuperoleh saat komunitas buku mengadakan event dalam rangka menggalang donasi, diantara beberapa buku yang ditawarkan, salah satu yang membuatku tertarik adalah novel karya Iva Afianti berjudul “HOME”.  Saat saya membaca sinopsis di belakang buku ini, entah mengapa bertepatan juga dengan suasana hatiku, yang saat itu juga sedang gundah gulana memikirkan sebuah rumah, yang sudah kutempati seumur anak saya (baru 8th) dan harus kutinggalkan. Dan ini menambah “feel “saya, saat membaca buku ini 🙂

Kisah ini berawal dari kegundahan sepasang suami istri  (Kurt dan Bea) yang sudah lanjut usia yang merasa anak dan mantunya menjauh dari mereka , sehingga sang suami memutuskan untuk menjual rumah yang saat ini mereka tempati. Rumah yang sudah ditempati oleh beberapa generasi sebelum mereka, Rumah besar dengan gaya Belanda ini memang warisan turun temurun dari nenek moyang mereka. Tetapi kenapa Kurt berkeras untuk menjualnya?? Benarkah hanya karena rumah itu terlalu besar untuk dihuni hanya dua orang yang sudah usia senja, sehingga kesulitan untuk merawatnya? Benarkah mereka hanya ingin pindah ke sebuah rumah yang lebih kecil dan tidak ditengah kota seperti sekarang? ataukah karena ada alasan lain yang disembunyikan mereka?

Kurt atau nama lengkapnya Raden Aria Karta Sumintapradja, mantan diplomat senior sejak zaman orde lama, mempunyai karakter yang kaku, jarang tertawa dan disiplin dalam mendidik anak-anaknya. Pekerjaanya yang sering bepergian ke luar negeri, menyebabkan hubungan dengan anak-anaknya tidak terlalu dekat. Hingga ketika anak-anaknya semua sudah berkeluarga dan mandiri, jarang sekali mereka berkunjung atau menelepon orangtuanya. Hanya mantu dari anak pertama Truly, istri anak sulung yang bernama Wisnu , sering berkomunikasi dan berkunjung ke rumah tersebut. Anak Kurt dan Bea semuanya laki-laki dan berjumlah 7 orang (saya tidak hafal nama-namanya, hanya anak pertama Wisnu yang hafal)

Truly dengan sifatnya yang ceria, tulus dan selalu perhatian berusaha untuk mencairkan hubungan antara mertua dan anak-anaknya termasuk suaminya Wisnu. Truly merasa ada suatu kejanggalan tentang penjualan rumah tersebut, apalagi didukung dengan hubungan antara keluarga tersebut kaku dan seolah ada tembok diantara anak-anak dan ayahnya.

Cerita yang dibuat mampu menggiring  pembaca untuk hanyut dalam cerita tersebut, seperti saya yang memposisikan seolah sebagai tokoh Truly sang menantu baik hati tetapi pada saat mertuanya mau tinggal di rumahnya, tetap saja bingung, dan” worried” karena tidak bermimpi bakalan hidup seatap sama mertua untuk jangka waktu yang lama, biasanya mereka hanya berkumpul satu atau dua hari saat lebaran. Kalau bagian ini, cerita riil saya…sampai hari ini belum kebayang hidup seatap sama mertua dalam waktu lama. Tetapi setelah baca buku ini, saya jadi bisa memantapkan hati “hidup serumah sama mertua ? why not ..”

Makin saya baca buku ini, mulai terlihat konflik-konflik dan penyebab kenapa hubungan antara keluarga tersebut serasa canggung dan kaku. Bahkan saya juga baru tahu ternyata ada suatu penyakit kejiwaan yang dialami oleh Bea,istilah psikologisnya MDD Major Depression Disorder suatu gangguang jiwa tahap sedang. Dimana pasien dapat sembuh dalam waktu lama maupun cepat tergantung dari penyebab dan terapi yang dilakukan.Penyakit inilah penyebab awal komunikasi keluarga tersebut menjadi canggung dan kaku, seolah menyimpan kebencian dalam diri masing-masing anggota keluarga tersebut

Tokoh Truly mengambil peran yang cukup banyak dalam novel ini, dia seolah menjadi kunci pembuka semua masalah yang ada di keluarga tersebut. Tetapi dapatkah Truly membujuk Kurt untuk tidak menjual rumah tersebut ? dan dapatkan Truly menyatukan kembali hubungan keluarga mertuanya yang tidak harmonis tersebut??

house

Awalnya saya membaca ini agak kurang nyaman dengan berganti-gantinya Pov dalam setiap bagian, jadi terkadang saya lupa, tokoh aku di bagian ini siapa? Kalau kutarik garis besarnya, hanya ada 4 tokoh utama yaitu Kurt,Bea,Wisnu dan Truly. Dan memang hanya 4 tokoh ini yang saya hafal, padahal penulis menceritakan banyak tokoh dan hampir sebagian besar di jelaskan, dari mulai orangtua Kurt-Bea, saudara, keponakan sampai anak dan cucunya. Mungkin untuk mempermudah dapat dibuat ilustrasinya dengan pohon keluarga kali ya…atau bisa juga sedikit dipadatkan untuk bagian yang tidak terlalu berpengaruh dalam inti cerita tersebut

Penulis kayanya suka sekali dengan jenis musik klasik ya…jujur..saya tidak satupun tahu lagu-lagu tersebut he..he..apalagi penyanyinya. Saya acungin jempol deh buat pengetahuan musiknya penulis.

Cerita ini mampu membuat siapa saja yang membaca buku ini akan berurai airmata, cerita tentang ketulusan cinta dalam sebuah keluarga akan selalu dapat menggetarkan jiwa-jiwa kita. Apakah kita sebagai seorang ayah, seorang ibu, seorang suami, seorang istri, seorang anak atau seorang kakak /adik. Dan itu juga yang saya rasakan, haru, sedih,bahagia semua bercampur. Saya dapat cekikian sendiri saat membaca dialog Truly dan suaminya, atau lain waktu tiba-tiba mengalir airmata saat membaca dialog antara Kurt dengan anaknya Wisnu yang berbicara dari hati ke hati . Atau kadang iri melihat kemesraan Kurt-Bea yang di usia senja mereka tetapi kesetiaan dan keromantisan selalu ada.Banyak hal yang dapat dipetik dari novel ini, tetapi hal yang pasti”jagalah keluarga kita, karena harta yang paling berharga adalah keluarga”

#Qoute :

Rumah itu adalah sebuah tempat di mana sejauh-jauhnya kita pergi,kita akan selalu rindu pulang padanya. Sebab hanya di sana, keletihan kita terobati. Rumah itu adalah sarang yang hangat yang membuat kita ingin selalu berdiam di dalamnya, tetapi kita tetap harus terbang untuk mencari bekal agar semuanya menjadi lebih baik (hal : 36)

Persahabatan dan bahkan hubungan pacaran yang sekian lama hingga karatan, sama sekali nggak menjamin sebuah pasangan terhindar dari hambatan komunikasi setelah mereka menikah bertahun-tahun (hal 38)

Pernikahan itu kan menyatukan dua orang yang sebenarnya berbeda tapi saling melengkapi kelak. Kelak ya, jadi nggak tiba-tiba,kalian saling cocok ada proses, nah proses ini bisa lama bisa sebentar (hal:41)

Setiap persoalan pasti akan ada jawabannya. penyelesaian bisa datang dengan cara yang sangat sulit, bisa juga sangat mudah (hal 362)

Iklan

1 Komentar

Filed under Marriage Novel, Novel Drama, Penerbit Diva Press, Review Buku

One response to “Review : HOME (Saling Menjauh tapi Saling Merindu..)

  1. Ping-balik: Review Novel : HOME

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s