Review Buku : 99 Cahaya di Langit Eropa

99 CAHAYAJudul Buku     : 99 Cahaya di Langit Eropa
Penulis           : Hanum Salsabila Rais & Rangga Almahendra
Penerbit         : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke-1 : November 2013
ISBN              : 978-602-03-0052-8
Halaman        : 420 halaman

Blurb

“Aku mengucek-ucek mata, Lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus itu terlihat biasa saja. Jika sedikit lagi saja hidungku menyentuh permukaan lukisan, alarm di Museum Louvre akan berdering-dering. Aku menyerah . Aku tidak bisa menemukan apa yang aneh pada lukisan itu. “Percaya atau tidak, pinggiran hijab Bunda Maria itu bertahtakan kalimat tauhid Laailaha Illallah,Hanum” ungkap Marion akhirnya.”

Buku ini juga telah di filmkan dengan pemeran utama Acha Septiarasa (Hanum) dan  Abimana Aryasatya (Rangga) dan menjadi salah satu film yang laris pada tahun 2013. Buku yang ditulis berdasarkan kisah perjalanan Hanum dan suaminya Rangga di sebuah negara di Eropa tepatnya Wina, Austria saat Rangga menempuh S3 di sana. Berisi  catatan perjalanan atas sebuah pencarian. Pencarian cahaya Islam di Eropa yang kini sedang tertutup awan saling curiga dan kesalahpahaman. Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun, Hanum merasakan hidup di suatu negara dimana Islam menjadi minoritas. Pengalaman yang makin memperkaya spiritualnya untuk lebih mengenal Islam dengan cara yang berbeda.
Tinggal di Eropa selama 3 tahun adalah arena menjelajah Eropa dan segala isinya. Hingga akhirnya Hanum menemukan banyak hal lain yang jauh lebih menarik dari sekedar Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepakbola San Siro, Colloseum Roma, atau gondola gondola di Venezia. Pencarian Hanum telah mengantarkan pada daftar tempat-tempat ziarah baru di Eropa. Aku tak menyangka Eropa sesungguhnya juga menyimpan sejuta misteri tentang Islam. Eropa dan Islam. Mereka pernah menjadi pasangan serasi. Kini hubungan keduanya penuh pasang surut prasangka dengan berbagai dinamikanya. Hanum merasakan ada manusia-manusia dari kedua pihak yang terus bekerja untuk memperburuk hubungan keduanya.

Pertemuan dengan perempuan muslim di Austria, Fatma Pasha telah mengajarkan Hanum untuk menjadi bulir-bulir yang bekerja sebaliknya. Menunjukkan pada Eropa bulir cinta dan luasnya kedamaian Islam. Sebagai Turki di Austria, Ia mencoba menebus kesalahan kakek moyangnya yang gagal meluluhkan Eropa dengan menghunus pedang dan meriam. Kini ini ia mencoba lagi dengan cara yang lebih elegan, yaitu dengan lebarnya senyum dan dalamnya samudra kerendahan hati. Hanum dan Fatma mengatur rencana. Mereka akan mengarungi jejak-jejak Islam dari barat hingga ke timur Eropa. Dari Andalusia Spanyol hingga ke Istanbul Turki. Dan entah mengapa perjalanan pertama Hanum justru mengantarkan ke Kota Paris, pusat ibukota peradaban Eropa.

Di Paris Hanum bertemu dengan seorang mualaf, Marion Latimer yang bekerja sebagai ilmuwan di Arab World Institute Paris. Marion menunjukkan bahwa Eropa juga adalah pantulan cahaya kebesaran Islam. Eropa menyimpan harta karun sejarah Islam yang luar biasa berharganya. Marion membukakan mata hati. Membuat jatuh cinta lagi dengan agamaku, Islam. Islam sebagai sumber pengetahuan yang penuh damai dan kasih. Museum Louvre, Pantheon, Gereja Notre Dame hingga Les Invalides semakin membuat Hanum yakin dengan islam. Islam dulu pernah menjadi sumber cahaya terang benderang ketika Eropa diliputi abad kegelapan. Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan

Perjalanan menjelajah Eropa adalah sebuah pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan oleh Islam di benua ini. Cordoba, Granada, Toledo, Sicilia dan Istanbul masuk dalam manifest perjalanan spiritual Hanum selanjutnya.
Saat memandang matahari tenggelam di Katedral Mezquita Cordoba, Istana Al Hambra Granada, atau Hagia Sophia Istanbul, aku bersimpuh. Matahari tenggelam yang dilihat adalah jelas matahari yang sama, yang juga dilihat oleh orang-orang di benua ini 1000 tahun lalu. Matahari itu menjadi saksi bisu bahwa Islam pernah menjamah Eropa, menyuburkannya dengan menyebar benih-benih ilmu pengetahuan, dan menyianginya dengan kasih sayang dan toleransi antar umat beragama.
Akhir dari perjalanan Hanum dan Rangga selama 3 tahun di Eropa justru mengantarkan pada titik awal pencarian makna dan tujuan hidup. Makin mendekatkan diri pada sumber kebenaran abadi yang Maha Sempurna.

“Aku perlu memberitahumu sedikit sejarah, Hanum. Turki pernah hampir menguasai Eropa Barat. Sekitar 300 tahun lalu,pasukan Turki yang sudah mengepung kota wina akhirmya di pukul mundur oleh gabungan Jerman dan Polandia. Jadi, bisa saja turis itu benar. Roti Croissant memang simbol kekalahan Turki saat itu” (pg: 42)

“Menjadi Agen Islam yang baik di Eropa. Terdengar sangat mulia. Terang saja karena di dunia ini sudah terlalu banyak agen muslim gadungan yang membajak nama agama dengan teror dan penghasutan. Sekarang ini dibutuhkan mendesak agen muslim yang menebar kebaikan dan sikap positip ” (pg: 47-48)

“Mengutip kata-kata George Santayana : “Those who don’t learn from history are doomed to repeat it” Barang siapa melupakan sejarah, dia pasti akan mengulanginya ” (pg : 4)

“Aku teringat kata sahabat Ali RA:
Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra di mana banyak ciptaan ciptaan Nya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu; dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan.”

Buku 99 Cahaya di Langit Eropa merupakan salah satu buku favoritku dari beberapa buku yang telah ditulis Hanum Salsabila Rais. Begitu banyak pengetahuan baru tentang islam yang kuperoleh disini. Seandainya buku ini dikemas seperti buku pelajaran sejarah pasti saya tidak akan tertarik sama sekali, 🙂 tetapi penyampaian dan bahasa yang dipakai penulis sangat mengena dan pas, tidak membosankan sehingga pembaca akan terus membaca sampai selesai.Tidak salah jika tokoh-tokoh besar bangsa ini, seperti BJ Habibi, Anis Baswedan, Amien Rais dsb memberikan testimoninya dalam halaman awal buku ini.

Setelah membaca buku ini, saya makin bangga dengan agamaku sekaligus merenung sedih, apa sumbangsih saya sebagai tanda cinta dan bangga dengan islam ? ???

Iklan

1 Komentar

Filed under Hanum Salsabila Rais, Non Fiksi, Novel Religi, Penerbit Gramedia, Review Buku

One response to “Review Buku : 99 Cahaya di Langit Eropa

  1. Ping-balik: Dear Hanum Salsabila Rais | jendeladuniaku2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s