SANG PENCERAH : Novelisasi Kehidupan K.H Ahmad Dahlan dan Perjuangannya Mendirikan Muhamadiyah

220px-Sang_Pencerah

Judul Buku :  SANG PENCERAH
Novelisasi Kehidupan K.H Ahmad Dahlan dan Perjuangannya Mendirikan Muhamadiyah
Penulis : Akmal Naseery Basral
Penerbit : Mizan Pustaka
Cetakan I : Tahun 2010
ISBN : 978-797-433-596-3
Halaman : 461 halaman

Sebenarnya buku ini cukup lama tidak saya sentuh, saya masih membaca buku-buku yang belakangan kubeli daripada buku ini, karena saya akan cepat bosan membaca biografi atau sejarah seseorang, hingga saat bulan Ramadhan seperti ini, ingin membaca buku yang bersifat religi, akhirnya pilihanku membaca Sang Pencerah. Dan saat kubaca baik-baik dibawah judul Sang Pencerah ada kalimat “Novelisasi Kehidupan K.H Ahmad Dahlan…” membuatku tertarik, kupikir ini murni buku sejarah yang hanya berisi data-data dan angka, tetapi ternyata disuguhkan dalam bentuk novel cerita seperti novel fiksi kesukaanku.

Ini kisah kehidupan salah satu tokoh nasional kita, K.H. Ahmad Dahlan dari masa kecil sampai menjadi tokoh besar yang telah mendirikan salah satu Organisasi Keislaman Terbesar di Indonesia yaitu Muhamadiyah.
Muhammad Darwis nama pemberian dari Ayahnya K.H Abu Bakar dan Ibunya Siti Aminah, lahir pada tanggal 01 Agusutus tahun 1868. Atau Raden Ngabei Ngabdul Darwis,nama pemberian Sri Sultan Hamengkubuwono VII, mengingat kedekatan Ayahnya dengan Keraton sebagai seorang penghulu Kesultanan, yang bertugas menjadi khatib tetap Masjid Gede Kauman, Masjid kebanggaan Keraton tempat ibadah kerabat Keraton dari jaman Sri Sultan Hamengkubuwono I sampai dengan sekarang.
Muhamad Darwis konon mempunyai darah keturunan langsung dari salah satu Wali songo penyebar agama islam di Jawa yaitu Syeikh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik. Dari garis keturunan ayahnya, jadi Muhammad Darwis dari golongan ulama dan priyayi, pada jamanya kasta seperti ini sangat berpengaruh terhadap tatanan kehidupan social saat itu. Lahir dan dibesarkan dalam lingkungan ulama membuat Darwis menjadi anak yang cerdas,kritis dan soleh. Umur 10 tahun sudah dapat berbahasa Arab dan mengkhatamkan Al-Qur’an yang pada masanya saat itu, baca tulis mengaji jarang ada yang mempunyai kemampuan seperti itu.

Saat masih berumur 10 tahun, Darwis sudah mempunyai pikiran kritis tentang kebiasaan-kebiasaan yang dijalankan umat islam di daerahnya, seperti 40 hari,100 hari atau 1000hari bagi orang yang telah meninggal, sebuah keluarga yang salah-satu anggota keluarganya meninggal harus mengadakan Acara Yasinan pada hari-hari tersebut, dengan mengundang tetangga dan kerabat untuk ngaji dan memberikan seperangkat makanan tertentu. Dan menurut Darwis ritual tersebut tidak ada tuntunannya dari Rasul maupun Al-Qur’an bahkan cenderung menjadi beban bagi keluarga tersebut. Karena kadang untuk makan sehari-hari saja susah. Padahal Islam itu rahmatan lil alamain, rahmat bagi semesta alam. Selain itu ada kebiasaan saat menjelang bulan Ramadhan ada acara padusan dan ruwatan. Dalam acara ruwatan, masyarakat membersihkan lingkungan sekitar, rumah, masjid kemudian menabur bunga dan beras di pojokan Masjid. Kalau padusan merupakan bagian dari ruwatan dimana anak-anak kecil mandi suci di sungai dengan membawa sabun sendiri, ini dianggap kotoran akan terbuang bersamaan dengan aliran sungai sehingga saat bulan suci Ramadhan, badan juga telah suci dan bersih. Padahal menurut Darwis itu semuanya tidak ada dalilnya dalam Al-Qur’an. Masih ada ritual-ritual lain seperti nyadran, ruwahan dsb. Dan ternyata kebiasaan-kebiasaan itu masih ada sampai sekarang, bahkan orangtua kami masih melakukan kebiasan seperti itu, dan suatu saat pernah kutanya, jawabanya karena mengikuti kebiasaan nenek moyang biar tentaram sekaligus shadaqoh. Kalau utuk sedekah saya tidak keberatan,asalkan tidak memberatkan.

Pemikiran kritis Muhamad Darwis makin meningkat saat sekembali dari ibadah haji sekaligus menimba ilmu dengan ulama-ulama besar dunia selama 5 tahun di Mekah. Salah satu gurunya imam Masjidil Haram, yang merupakan orang melayu, bernama Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan Beliau yang memberi nama “Ahmad Dahlan”. Dan memang sudah menjadi kebiasaan setiap nama santri yang berasal dari daerah non-arab, maka sepulang haji akan di arabkan supaya terdengar lebih afdol untuk mendukung dakwah selanjutnya. Hal tersebut juga masih berlaku di saat ini, orangtua saya dan masyarakat yang tinggal di jawa sepulang beribadah haji, akan menyandang haji dengan nama baru dibelakangnya. Yang membuat kontroversi antara lain saat mengajar santri-santrinya dengan menggunakan alat musik Biola, yang dianggap selama ini sebagai alat musik haram oleh para ulama setempat. Salah satu pemikiran kritis K.H Ahmad Dahlan yang sangat fenomenal hingga saat ini adalah merubah arah kiblat Masjid –Masjid di Jawa yang selama puluhan atau ratusan tahun ternyata salah. Salah satunya yang paling membuat kontra, bahkan berakhir kericuhan adalah Masjid Gede Kauman, yang dibangun ratusan tahun sebelumnya pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono I, menurut K.H Ahmad Dahlan kiblatnya tidak mengahadap ka’bah (Mekah) melainkan menghadap ke Afrika. Hal ini tentu mendapat pertentangan keras dari ulama-ulama dan masyarakat sekitar. Meskipun disampaikan dengan bahasa santun dan ilmiah serta tanpa emosi tetapi tanggapan ulama-ulama saat itu cukup emosi. Bahkan Mushola Langar Kidul tempat K.H Ahmad Dahlan mengajar ngaji murid-muridnya di bongkar paksa, karena arah kiblatnya yang berbeda dengan Masjid lainnya, kiblatnya sudah disesuaikan dengan yang benar.

Pembongkaran paksa Langgar Kidul menimbulkan luka hati K.H Ahmad Dahlan dan juga murid-muridnya, bahkan membuatnya sempat terlalu larut dalam kesedihan. Dan istrinya yang solehah Siti Walidah menenangkan suaminya dan mendukung semangatnya untuk bangkit kembali. Hal inilah menjadi awal semangat baru untuk berjuang demi umat isalam yang terbelakang saat itu. Setelah berhasil mendirikan mushola baru, K.H Ahmad Dahlan mulai belajar organisasi dengan Dr. Wahidin Sudirohusodo pendiri Budi Utomo perkumpulan yang bergerak dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Perkumpulan pertama yang berdiri di Indonesia

K.H Ahmad Dahlan sempat bergabung dengan organisasi tersebut, ini membuat bahan fitnahan dari ulama-ulama lain yang menganggap Dahlan telah kafir, karena menggunakan baju, dan jas seperti orang belanda, hanya saja tetap memakai sorban.Bahkan ikut mengajar agama islam pada sekolah anak-anak belanda dan priyayi. Tetapi hal tersebut tidak menyurutkan langkahnya untuk terus belajar, hingga akhirnya berhasil mendirikan sekolah Madrasah Diniyah setingkat SD saat ini tempat belajar ilmu agama, dan ilmu lainnya. Ini menjadi cikal bakal Perkumpulan Islam Muhamadiyah yang bergerak dalam bidang pendidikan didirikan bersama murid-muridnya. Dan nama Muhamadiyah adalah pemberian dari salah satu murid sekaligus adik tirinya yang bernama Sangidu arti dari Muhamadiyah adalah pengikut kanjeng Nabi Muhammad SAW, diharapkan pengikut Muhamadiyah dapat mengikuti perkataan dan perilaku yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Tanggal 12 November 1912 ditetapkan sebagai hari lahirnya Muhamadiyah

Sebuah novel yang sarat ilmu pengetahuan dan nilai keagamaan. Kisah perjuangan yang luar biasa bagi kejayaan umat islam di masa setelahnya. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari tokoh kharismatik sejarah islam Indonesia K.H Ahmad Dahlan. Pemikiran yang kritis, keberanianya dan sifat rendah hatinya dapat menjadi contoh dan panutan generasi sekarang. Sosok anak muda pendobrak tradisi yang berniat mengembalikan umat islam agar menjadi rahmat bagi semesta alam
Buku ini juga telah difilmkan dengan judul yang sama dengan sutradara Hanung Bramantyo. Pemeran utama nya Lukman Sardi sebagai K.H Ahmad Dahlan , dan Zaskya Adya Mecca sebagai istri K.H Ahmad Dahlan

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Novel Religi, Penerbit Mizan, Review Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s